[Marinir] Thio KB: Sejarah Nasional Disusun Oleh Penguasa
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Wed Jul 6 11:16:09 CEST 2005
----- Original Message -----
From: kengbouw thio
To: HKSIS at yahoogroups.com
Sent: Wednesday, July 06, 2005 3:24 PM
Subject: [HKSIS] Asvi Warman Adam: Kurikulum 2004 Lebih Demokratis
SEJARAH NASIONAL DISUSUN OLEH PENGUASA
Di negara manapun di dunia, sejarah nasional yang diajarkan di sekolah2
selalu disusun oleh penguasa.
Ini sesuai dengan kepentingan penguasa untuk memperkuat kekuasaannya.
Apakah sejarah nasional itu betul2 objektif, betul2 sesuai dengan keadaan
sebenarnya, ini aalah soal yang selalu diperdebatkan tak habis2nya.
Saya berpendapat, tidak satu sejarah nasional di dunia ini yang 100% jujur
dan lurus. Pasti ada bagian2 tertentu yang digelapkan, diputarbalikkan,
dipalsukan dlsb. Semua nya sesuai dengan kepentingan golongan berkuasa pada
waktu itu.
Jika PKI yang berkuasa, pasti akan disusun sejarah nasional, yang mengatakan
G30S didalangi oleh Suharto dan CIA. Ini yang sering kita baca dalam
artikel2 yang jumlahnya ratusan (mungkin ribuan) dari mantan anggota PKI
yang masih hidup di dalam maupun diluar negeri.
Belakangan ini banyak disebut-sebut, pak Asvi, pakar sejarah Indonesia yang
jujur, yang ingin meluruskan sejarah nasional yang tidak lurus yang
diajarkan di sekolah Indonesia pada jaman orba hingga detik ini.
Sayapun mengharapkan, negara kita pada akhirnya bisa tampil seorang pakar
sejarah yang jujur dan tidak berfihak.
Tapi harapan ini selalu terbentur oleh SIAPA YANG BERKUASA di Indonesia.
Mencari penguasa yang netral dan tidak berfihak, sukarnya sama dengan
mencari sebatang jarum di samudera Pasifik.
Maka nasib sejarah nasional Indonesia yang diajarkan di sekolah2 tidakakan
berubah untuk se-lama2nya.
Dan disamping buku sejarah nasional yang diresmikan oleh Pemerintah
(Penguasa), pasti beredar dalam masyarakat baik secara terang2an maupun
secara sembunyi2 buku sejarah yang ditulis oleh manusia2 yang mewakili
golongannya sendiri.
Kita tidak usah khawatir kepada generasi muda masa kini dan masa mendatang.
Mereka semua memiliki kecerdasan yang jauh lebih tinggi ketimbang angkatan
tuabangka seperti kita2 ini, meskipun di sekolah diajarkan sejarah yang
tidak lurus, setelah terjun ke dalam masyarakat, mereka akan pelan pelan,
menggunakan otaknya untuk berfikir, mampu membedakan mana yang benar dan
mana yang salah, mana yang lurus dan mana yang bengkok.
Ambil contoh diri saya, dan banyak teman2 sekolah saya di Sin Hoa dan Pa
Tsung Jakarta.
Sejak usia 11 tahun, saya sudah dijejali oleh propaganda Komunis, hal ini
berlangsung sampai saya berusia 17 tahun. Karena diluar kemauan saya,
sekolah saya itu ternyata dikelola oleh orang2 Komunis illegal, sehingga
dalam otak saya boleh dibilangi sudah diracuni oleh ajaran Komunis ortodox
yang ektrim, yang terkenal dalam soal pemalsuan sejarah dan penggelapan
fakta2 objektif yang terjadi di RRT dan Uni Sovyet.
Setelah saya meninggalkan sekolah Pa Tsung, masuk Pemuda Baperki (ini sangat
wajar, karena sejak di Pa Tsung, pak Siauw Giok Tjhan sudah menjadi idola
kami, sebagai tokoh WNI keturunan Tionghoa). Apalagi 2 puteri Siauw juga
bersekolah di Pa Tsung.
Dalam Baperki, saya berkenalan dengan banyak orang Kristen dan Katholik yang
anti Komunis.
Dan sayapun selalu diajarkan agar bagaimana menyingkirkan orang2 anti
Komunis dari Pemuda Baperki. Dan hal ini pernah saya lakukan pada 1958 di
Surabaya, merebut kekuasaan Pimpinan Cabang PPI Surabaya dari tangan orang2
PSI dan Masyumi, dan menyerahkan ke tangan orang2 Pemuda Rakyat dan PKI.
Semua saya lakukan atas hasutan dari Tokoh Sobsi PKI yang duduk sebagai
sekeretaris I Baperki Jawa Timur.
Ketika itu, karena masih boca ingusan dalam bidang politik, semua saya
lakukan dengan sadar dan bangga. Karena saya sudah diindoktrinasi, bahwa
Komunis itu mewakili kekuatan yang revolusioner, revolusioner berarti suatu
hal yang suci, yang luhur cita2nya, yang akan membawa rakyat ke masyarakat
adil dan makmur, yang tanpa penghisapan manusia atas manusia.
Teman saya yang sekolah Kristen dan Katholik mengkritik perbuatan saya, saya
dicap telah diperalat oleh PKI.
Teguran keras dari teman2 saya sangat berguna kelak ketika saya menyimpulkan
sejarah PPI, yang positif dan yang negatif.
Disamping PPI, saya masuk PPK (Perkumpulan Pemuda Kristen) yang dulu bernama
Tiong Hoa Ki Tok Kauw Tjeng Lian Hwee, yang memiliki gedung perkumpulan di
Jalan Krekot 28 Jakarta. Tempat ini juga merupakan tempat dimana PPI Cabang
Jakarta dilahirkan.
Saya masih ingat, ketika tahun 1955 dan 1956, mayoritas mutlak anggota PPI
Jakarta terdiri dari para pelajar SMA Kristen, kemudian anak sekolah Pa Hwa
yang non Komunis, yang berasal dari sekolah Komunis cuma saya seorang diri.
Hidup dalam lingkungan yang demikian itu, lambat laun membikin racun2
Komunis yang saya terima dari Pa Tsung dan Sin Hoa menjadi luntur.
Ini yang membikin pada 1958 saya masuk ke Universitas Katholik Parahiyangan
jurusan Hukum di Bandung, dan masuk menjadi anggota GMKI (Gerakan Mahasiswa
Kristen Indonesia), di mana banyak teman2 PPI dan PPK menjadi anggotanya.
Selama 1958-1962, racun2 Komunis tambah luntur.
Namun akhirnya kemasukan lagi, karena ketika itu semuanya harus belajar
TUBAPI, alias 7 BahanPokok Indoktrinasi, yang diharuskan oleh Pemerintah
Indonesia kepada semua pimpinan ormas revolusioner.
Sebagai angggota pimpinan PPI (Pemuda Baperki), saya mengikuti kursus kader
revolusi yang gurunya antaranya adalah Ruslan Abdulfgani, Ali Sastroamijoyo,
K.H. Dahlan, DN Aidit, Asmara Hadi, K Sirajuddin Abas, Sudibio dll. Kursus
Kader Revolusi ini isinya banyakpersamaan dengan apa yang saya te! rima
disekolah Komunis Pa Tsung.
Maka racun Komunis mulai tumbuh lagi, dan setiap saat bertempur dengan
pelajaran2 yang pernahsaya terima di Universitas Parahiyangan..
Antara 1965-1977, saya menerima suaka politik di RRT, karena tidak bisa
kembali ke Indonesia. Di RRT, sedang berkecamuk Revolusi Besar Kebudayaan
Proletariat (RBKP). Yang berkuasa di RRT adalah Mao Tjetung dan Gang Of
Four, yang menguasai mass media dan penerbitan, perfilman, seni budaya
sampai olahraga. Racun Komunisme mulai menyerang otak saya lagi, anak muda
yang gila musik dan banyak menghabiskan waktu untuk latihan piano, paling
gampang diserang oleh racun Komunisme ini.
Setiba di Hong Kong, kota internasional yang bebas untuk membaca buku apa
saja, dari yang Komunis sampai yang anti Komunis.
Pelan2 otak saya diputar, diperas, menyimpulkan apa yang lurus dan apa yang
bengkok, akhirnya saya dicap antek orba anjing Suharto, agen CIA oleh mantan
PKI yang bercokol di Amsterdam.
Ketika saya bilang PKI itu kalah karena Hukum Karma, saya dimaki religius
dan tahayul. Minta ampuuuuuuun.
Padahal sangat sederhana toh, PKI membunuh 7 perwira AD, kemudian datang
pembalasan yang datang dari sahabat2 7 perwira itu, anggota2 PKI dilarang
berlawan dengan alasan jangan terprovokasi, maka jatuhlah korban jutaan itu.
Ini namanya hukum karma.
Memang mereka sering marah2, mestinya yang dibantai 7 perwira, yang dibunuh
cuma 7 anggota Polit Biro PKI saja.
Tapi mereka lupa, yang setiap hari mengobarkan semangat revolusi adalah PKI.
Apa revolusi itu? Revolusi adalah perebutan kekuasan dengan kekerasan
bersenjatan, revolusi mengandung arti membunuh, merampok dan membakar lawan2
politiknya. Siapa yang mulai mencetuskan revolusi (Dewan Revolusi), mereka
harus menerima akibatnya, dibunuh oleh lawan2nya.
Jika KI Berkuasa, siapa yang berani menjamin PKI tidak akan membunuh
lawannya secara kejam, seperti yang dilakukan oleh Pol Pot di Kamboja, yang
mmenbantai sepertiga rakyat Kamboja tak berdosa?
Jadi tidak usah khwatir akan nasib generasi muda di Indonesia sekarang,
,meskipun mereka membaca sejarah Indonesia yang katanya bengkok, setelah
terjun ke dalam masyaralat, melalu perjuangan dan keuletannya sendiri,
mereka akan bisa membedakan mana yang lurus dan mana yang bengkok.
Thio Keng Bouw, 5 Juli 2005.
HKSIS <SADAR at netvigator.com>
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/05/nas10.html
Liputan Khusus
Asvi Warman Adam: Kurikulum 2004 Lebih Demokratis
JAKARTA - Heboh kurikulum 2004 yang tak menyebut-nyebut Partai Komunis
Indonesia (PKI) dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) dalam mata ajar
sejarah meresahkan sejarawan Asvi Warman Adam. Peneliti dari Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dikenal intens bicara soal sejarah PKI ini
menyebut kehebohan itu sama sekali tak beralasan.
---------------- c u t -----------------
More information about the Marinir
mailing list