[Marinir] KH Hasyim Muzadi: "Jangan kita membuka luka untuk membuat luka baru".

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sun Jul 10 07:44:10 CEST 2005


Dalam pesannya kepada Pemerintah (08/07/'05), KH Hasyim Muzadi; Ketua Umum
PB NU mengatakan: "Kalau mau sehat negara ini, jangan kita membuka luka
untuk membuat luka baru. Jadi kalau memang mau rekonsiliasi, kita harus
berani memulai sesuatu yang baru.

Prinsip yang sama ini juga dipegang oleh Xanana Gusmao;
Pejuang-Gerilya-Tahanan Perang-Presiden Timor Leste, yang melakukan
perlawanan selama 11 tahun, (1992) ditangkap dan dipenjarakan selama 7
tahun, di LP Cipinang Jakarta.
Pada upacara Kemerdekaan Republik Timor Leste dan pengukuhan Presiden
(19/05/'02), dalam kata sambutannya Presiden Xanana Gusmao menyampaikan:
"On relations with Indonesia".
"This past... should not continue to stain our spirits. The Indonesian
people and the Timorese people have endured 24 years of difficult relations.
Today we all agree that the strains in our dealings were the result of a
historical mistake which now belongs to history and to the past. And this
past... should not continue to stain our spirits or to hamper our attitudes
and conduct."

Prinsip ini pula yang menjadi pedoman dan moto Forum Silaturahmi Anak Bangsa
(FSAB): "Berhenti Mewariskan Konflik, Tidak Membuat Konflik Baru!"

Wassalam, yhg.
----------------


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/08/Politikhukum/1877733.htm

Politik & Hukum
Jumat, 08 Juli 2005
RI Siap Hadapi Risiko Apa Pun
Rekomendasi Ahli PBB Bentuk Campur Tangan Asing

Oleh: WISNU DEWABRATA
Jakarta, Kompas - Pemerintah mengaku siap dengan konsekuensi apa pun
menyusul sikapnya menolak hasil rekomendasi Komisi Ahli Perserikatan
Bangsa-Bangsa terkait kasus Timor Timur. Penolakan dilakukan Pemerintah
Indonesia dengan mengutamakan kepentingan nasional.
--------------------- c u t --------------------

Di tempat terpisah, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim
Muzadi meminta pemerintah menolak bentuk campur tangan asing, yang hanya
akan merepotkan, terkait masalah tersebut. "Kalau mau sehat negara ini,
jangan kita membuka luka untuk membuat luka baru. Jadi kalau memang mau
rekonsiliasi, kita harus berani memulai sesuatu yang baru. Selain itu,
Indonesia jangan terlalu pusinglah dengan maunya orang," ujar Hasyim.
Walau hal itu tidak berarti mengabaikan pendapat dunia luar, Hasyim meminta
semua pihak tidak bergantung pada pendapat orang lain.

Advokat senior Adnan Buyung Nasution juga meminta semua pihak hendaknya
mendukung sikap Pemerintah Indonesia yang menolak hasil rekomendasi Komisi
Ahli PBB agar membuka kembali kasus Timor Timur. Rekomendasi itu merupakan
upaya campur tangan pihak luar terhadap persoalan internal Indonesia yang
memiliki sistem hukum dan peradilan sendiri. "Sekalipun kita akui punya
banyak kelemahan, tidak berarti kita mau pihak asing mencampuri urusan
 kita," katanya.

Buyung menilai, pemerintahan saat ini sudah mencoba memperbaiki diri di
semua institusi peradilan, mulai dari Mahkamah Agung, Jaksa Agung, hingga
Kepolisian RI. "Kita harus percaya diri terhadap kekuatan kita. Kita punya
kehormatan tanpa harus digurui oleh pihak asing," katanya. (USH)

~~~~~~~~~~~~~~~~


http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/08/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
Last modified: 8/7/05
Rekomendasi Komisi Ahli PBB
Tolak Campur Tangan Asing

JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim
Muzadi meminta pemerintah menolak dengan tegas campur tangan asing. Hal itu
dikatakan Hasyim terkait rekomendasi Komisi Ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dalam kasus pelanggaran HAM di Timor Timur pada 1999.

----------------------------- c u t ------------------------

"Campur tangan asing seperti itu hanya akan merepotkan kita. Jika negara mau
sehat, kita jangan membuka luka lama dan membuat luka baru," kata Hasyim.
Hasyim meminta agar pemerintah Indonesia dan Timor Leste bersikap tegas jika
kedua negara ingin tercipta suatu rekonsiliasi. Meski demikian, sikap tegas
itu bukan berarti Indonesia mengabaikan pandangan dunia internasional.

------------------------------- c u t ----------------------



More information about the Marinir mailing list