[Marinir] Fakta-Fakta Keterlibatan PKI Dalam Peristiwa G30S.

Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sun Oct 23 19:55:08 CEST 2005


Herr Tchaniago,

Cukup mengesankan proloog mengenai Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia, tentang Kemerdekaan Azasi Bangsa Indonesia dari penindasan
kolonial Belanda, namun sayang semua itu sama sekali tidak ada relevansi
mauoun ada kaitannya dengan tema diskusi "Fakta-Fakta Keterlibatan PKI
Dalam Peristiwa G30S.

Yang menyedihkan adalah, disamping memiliki dendam politik khronis terhadap
TNI dan Orde Baru, akurasi mengenai data dan fakta sejarah yang Anda miliki
amat lah miskin, seperti halnya beberapa koreksi saya terhadap tulisan Anda
terdahulu, yang tidak mampu Anda justifikasikan.  Terlebih lagi kalau
mencampur-adukan urusan perjuangan melawan kolonialisme Belanda dengan
peristiwa G30S/PKI, disitulah asal-muasal terciptanya kekacauan memori dan
kerancuan nalar, yang membuat sistimatika dan fakta
sejarah RI, terdengar seperti sebuah lenong rumpi.


Tapi baiklah, mari kita mundur sedikit, dimasa periode sebelum PKI melunjak,
khususnya soal "da­na kompensasi" Belanda; salah satu butir hasil
ke­pu­tusan Konferensi Meja Bundar (KMB); 23 Agust - 02 Nov 1949
diselenggarakan di Den Haag.
Dibawah tekanan dunia internasional, Belanda menuntut kompensasi sebesar
6,5 miliar gulden untuk menerima pem­ben­tukan Republik Indonesia Se­ri­kat
(RIS), yang akhirnya di­sepakati menjadi 4,5 miliar gul­den.
Jadi bukan sebesar 6,5 miliar gulden seperti yang di mark-up oleh Anda ---
[Koreksi 1.].

Pada 27 Desember 1949 di Pa­leis op de Dam (Amsterdam), Ratu Juliana
me­lim­pah­kan kedaulatan (soevere­ni­teits overdracht) kepada Perdana
Menteri RIS. Mohammad Hatta, dan paralel dilakukan di Batavia/Ja­karta,
dimana Hoge Vertegen­wo­ordiger van de Kroon (Wakil Ting­gi Mahkota)
Lovink me­nye­­­rahkan kedaulatan kepada Wakil Perdana Menteri RIS.
Ha­mengku Buwono IX.
Entah karena kurangnya pengetahuan atau ingin menyembunyikan fakta
sejarah, Anda tidak menyebutkan bahwa antara tahun 1950-1956 pemerintah
Sukarno telah melakukan pembayaran sekitar 4 milyar gulden  -baca tulisan
Lam­bert Giebels: "De indonesische injectie" dalam majalah Belanda "De
Groene Amsterdamer" 5 Ja­nu­ari 2000-  --- [Koreksi 2.].

Ketika dimulainya konfrontasi (1961?) mengenai masalah Iri­an Barat,
Pe­merintah Sukarno membatalkan ha­sil Persetujuan KMB mengenai Uni
Indonesia-Belanda, menghentikan pem­ba­yaran "da­na kompensasi" dan
menasionalisasi pe­rusahaan dan perkebunan  Belanda.
Pemerintah Orde Baru yang diwarisi segala macam kekacauan didalam negeri,
termasuk pembatalan sepihak (tanpa perundingan diplomatik) hasil keputusan
KMB, maka tahun 1969 terpaksa dika­bul­kan tuntutan ganti-rugi sebesar 600
juta gulden, atas peru­sa­haan-perusahaan Belanda yang di­nasi­onalisasi di
masa pemerin­tahan Sukarno, yang nilai nominalnya tidak sebanding dengan
4 milyar gulden yang sudah dibayarkan oleh Pemerintahan Sukarno.

Statement Anda yang di-kamuflage-kan dalam bentuk pertanyaan:
"Penyerangan/Agresi Belanda I & II, ataukah itu dilakukan dengan Bantuan
para Perwira TNi AD seperti Zulkifli lubis, A.H.Nasutio, Ahmad Husen,dll.
seperti itu, ataukah dengan Pengkhianatan Pemerintahan Hatta-Sukiman yang
bertanggungjawab atas persetujuan KMB ...", adalah bentuk suatu kemunafikan.
Kemunafikan, karena "pertanyaan" dilontarkan menjurus pada suatu tuduhan.
Seandainya Anda memiliki sedikit kehormatan, saya beri kesempatan untuk
menunjukan referensi data atau bukti atas keterlibatan para Perwira TNI AD
(Zulkifli lubis, A.H. Nasution, Ahmad Husen, dll.), yang membantu Belanda
dalam Agresi Militer I & II.


Begitu gagahnya Anda menyebut "kekuatan utama NASAKOM". Numpang
tanya Bung, dimana dan apa yang dilakukan kaum Nasionalis dan Agama
ketika ('65-'66) terjadi pembantaian terhadap PKI dan onderbouwnya?
Mengapa Anda takut mengatakan secara jujur, kelompok mana yang melakukan
pembantaian terhadap PKI di Jawa Timur dan di Bali? --- [Koreksi 3.]


Didalam pleidoinya dimuka Mahmilub (19 Februari 1966), Nyono mengatakan:
"Bahwasanya G30S bukanlah suatu pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah
yang ada, tetapi suatu gerakan pembersihan, hal ini tidak hanya dinyatakan
dalam pengumuman dan dekrit Dewan Revolusi, juga dibuktikan oleh perbuatan -
perbuatan konkritnya".
Sehubungan dengan pernyataan Anda: "saya adalah bagian dari masyarakat
Indonesia yang menolak dan mengutuk Genoside", maka supaya "jangan ada
dusta diantara kita" tolong dijawab: Apakah Anda mengutuk atau mendukung
"gerakan pembersihan" terhadap para Pahlawan Revolusi?


Tentang berbagai tuduhan Anda terhadap saya, itu bukan fenomena baru.
Ketika orang melakukan koreksi terhadap kebohongan  politik dan manipulasi
sejarah, pada umumnya simpatisan PKI yang intelektualnya kurang, mudah
menjadi kalap sehingga melontarkan bermacam-macam fitnah murahan.
Mirip dengan isu yang dilontarkan PKI tentang "Dewan Jenderal" ....


Walaupun saya belum pernah mendengar tentang "Aliansi Perjuangan Rakyat".
Apabila adapun, gerakan itu perlu kita waspadai, karena sudah terlalu banyak
pihak-pihak yang menjual nama "Rakyat", untuk kepentingan politik, jabatan
(kekuasaan) dan uang.


Kesimpulan Anda bahwa, antara Anda dan saya terdapat pandangan politik yang
bertentangan secara diametral, masih kurang tepat. Karena perbedaan
pandangan politik kita bertentangan secara fundamental!  --- [Koreksi 4.]


Wassalam, yhg.
--------------------



----- Original Message -----
From: sally salido
To: ouwehoer at centrin.net.id
Cc: titikapi at email.com
Sent: Tuesday, October 18, 2005 8:56 PM
Subject: FW: Re: Fakta-Fakta Keterlibatan PKI Dalam Peristiwa G30S

Mr. Yap Hong Gie,

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berarti untuk Rakyat Indonesia
bukan hanya Kemerdekaan Politik, tetapi lebihdari itu, yalah setiap
Individuum dari Warganegara Republik Indonesia acceptance sebagai manusia
Merdeka, yang mempunyai Hak-Hak Azasi Manusia yang takbisa diganggugugat
oleh siapapun, oleh kekuatan apapun, yang hidup diatas wilayah R.I. - Laut,
Darat dan Udara - dari Sabang sampai dengan ke Merauke. Kesadaran tersebut
ditanamkan oleh Diponegoro, oleh Imam Bonjol, oleh Sisingamangaraja, oleh
Teuku Umar, oleh Hasanudin, oleh Patirajawane, dll.nya, sampai dengan
Pemberontakan Silungkan 1926 dan Sumpah Pemuda 1928 dan perlawan Rakyat di
Nusantara yang tak henti-hentinya melawan perbudakan kekuasaan kaum Kolonial
Belanda: dan puncak yang tertinggi yalah Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia oleh Pejuang Besar Rakyat Indonesia SOEKARNO!

Para Pahlawan Rakyat Indonesia diatas, yang mengorganisasi Rakyat untuk
melawan kekuasaan perampokan, penindasan,penghinaan kaum Kolonial Belanda
bukan "badut-badut yang ingin popularitas atau yang bermimpi untuk memutar
kembali jarum lalu"( cursive dari saya)  untuk menyusun kembali suatu Negara
Merdeka seperti yang pernah dipunyai diatas  wilayah  Nusantara   -
Sriwijaya dan Majapahit -
Setiap Individuum yang berusaha menyatukan dirinya dengan Barisan Rakyat
dalam melawan kekuasaan penindasan, melawan Genoside, melawan perampokan
Hak-Hak Azasi Manusia, untuk urusan Demokrasi, untuk Kemajuan Sosial dan
untuk Perdamaian, menurut logika anda adalah "badut-badut...", amboi Mr. Yap
Hong Gie, jalan pikiran anda mengingatkan saya ke-tahun-tahun '50an, ketika
kelompok Kuo Min Tang di Jakarta melantangkan suara mereka, agar pemerintah
Republik Indonesia menerima dan puas dengan keputusan KMB. Yeah, burung
sejenis, terbang bersama.  Presiden Soekarno mendenonsasi/membatalkan
keputusan KMB dan menasionalisasi seluruh apa yang dinamak "Hakmilik" kaum
Kolonial Belanda diatas wilayah R.I. yang kemudian dijadikan PN-PN Negara
dan yang digrowoti oleh para Jendral TNI AD dengan "Dwi Fungsi ABRI". Dan
aktivitas Kuo Min Tang di Jakarta ditutup oleh pemerintahan NASAKOM.
Semenjak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kaum Kolonial Belanda
defacto dan dejure tidakpunya Hakmilik apapun diatas wilayah R.I. dan
Republik Indonesia adalah subjek Hukum Internasional yang diakui PBB,
terutama oleh Lima Anggota Dewan Keamanan PBB yang mempunyai Hak Veto.

Kaum Kolonial Belanda berusaha merehabilitasi kekuasaan Kolonialisme Belanda
atas wilayah R.I., apakah itu dilakukan dengan Subversi dan
Penyerangan/Agresi Belanda I & II, ataukah itu dilakukan dengan Bantuan para
Perwira TNi AD seperti Zulkifli lubis, A.H.Nasutio, Ahmad Husen,dll. seperti
itu, ataukah dengan Pengkhianatan Pemerintahan Hatta-Sukiman yang
bertanggungjawab atas persetujuan KMB, dimana R.I. harus membayar ke
Niederland sebesar 6,5 miliar Gulden, termasuk beaya agresi Belanda I &
ke-II. Coba lihat, berapa besarnya kekayaan dari Bumi Nusantara yang dikuras
dan dibawa ke Amsterdam, ke Den Haag, ke Rotterdeam - Niederland dari Tahun
1602 - 1942? Untuk periode antara Tahun 1830 - 1837 saja yaitu periode
cultur stelsel/tanaman paksa, Belanda memeras dengan keuntungan ca.15,4
miliar Gulden. Belum lagi dihitung, berapa juta manusia yang mati kelaparan
dan dibunuh oleh kaum Kolonial Belanda. Dan kemudian Belanda menerima dari
Jendral TNI AD Suharto-Golkar (ORBA-Orde Belanda) seluruh
Perkebunan-perkebunan, perusahaan-perusahaan,dll. yang dinasionalisasi oleh
Pemerintahan NASAKOM dalam bentuk Gulden sejumlah 600 juta Gulden (1969),
yang anda ingkasi.
Keadaan tersebut hanya bisa terjadi diantaranya dan terutama karena
pengkhianatan kekuatan yang anti Kemerdekaan R.I., yang anti-Demokrasi, yang
anti-Kesejahteraan Sosial untuk Rakyat didalam Republik Indonesia, kekuatan
yang berusaha menghancurkan Pemerintahan Presiden Soekarno dengan NASAKOM
dengan cara menterror kekuatan utama NASAKOM - Partai Komunis Indonesia.
Genoside 30 September'65 yang diorganisasi/dilakuan oleh para Jendral TNI AD
bukanlah suatu Episode yang terlepas dari seluruh rangkaian Sejarah R.I.,
tapi adalah satu matarantai dari usaha-usaha kaum Kolonial untuk merebut
kembali posisi mereka yanghilang, untuk merehabilitasi Kolonialisme di
Wilayah Republik Indonesia, dalam bermacam bentuk.

Also, secara politik dapat disimpulkan bahwa antara saya dan anda Mr.Yap
Hong Gie mempunyai pandangan yang bertentangan secara diametral:
- saya adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang membela keutuhan R.I.,
sedangkan  anda  seorang penyokong system Kolonial;
- saya adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang menolak dan mengutuk
Genoside (kekuatan apapun yang melakukannya), karena dengan Genoside takkan
bisa disusun suatu masyarakat yang demokratis, sedangkan anda seorang yang
keranjingan dan menyokong Genoside 30 September'65 yang diorganisasi dan
dilakuan oleh para Jendral TNI AD, yang menjagal lebihdari satu juta
Warganegara Republik Indonesia, dari Mentri s/d orang awam.

Dapat saya tekankan disini, bahwa saya indentifikasi diri saya sepenuhnya
dengan Program Tuntutan ALIANSI PERJUANGAN RAKYAT, sedangkan anda
seorang yang merindukan diktator Militer di wilayah R.I.; etc. dll.
Rakyat Indonesia lambat atau cepat akan meluruskan sejarahnya sendiri,
seperti Rakyat RRChina yang meluruskan sejarahnya, dimana cara berpikir Kuo
Min Tang tidak mendapat tempat dalam kehidupan Rakyat RRChina.Atau seperti
di Venezuela, dimana sebagian besar Anggota Angkatan Bersenjata Venezuela
bersama Rakyat menegakkan Demokrasi, berjuang bersama untuk Kemajuan
Sosial dan untuk Perdamaian di Regional Amerika-Latin.

                   - dr.tchaniago-




More information about the Marinir mailing list