[Marinir] Fakta-Fakta Keterlibatan PKI Dalam Peristiwa G30S.

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Fri Sep 30 21:18:56 CEST 2005


Fakta-fakta Keterlibatan PKI Dalam Peristiwa Gerakan 30 September (G30 
S/PKI)

Pembelaan Nyono dimuka Mahmilub pada tanggal 19 Februari 1966.
Di publikasikan pada situs Indo-Marxis, situs kaum Marxis Indonesia, 16 
Februari 2002.
Dalam amanat Presiden Sukarno dihadapan wakil-wakil partai politik di 
Guesthouse Istana, Jakarta, tanggal 27 Okt 1965, ditegaskan bahwa . kejadian 
September bukan sekedar kejadian 30 September, tetapi adalah suatu kejadian 
politik didalam Revolusi kita.
Saya sudah kemukakan bahwa prolog daripada G30S adalah adanya rencana kudeta 
dari dewan jenderal.
Dalam bahasa sehari-hari, gara-gara ada Dewan Jenderal maka ada Dewan 
Revolusi.
Saya telah kemukakan bahwa prakteknya Dewan Jenderal merupakan golongan 
politik tersendiri.
Disini  perlu saya tegaskan, karena tidak semua Jenderal masuk dalam Dewan 
Jenderal, maka Dewan Jenderal adalah golongan politik tersendiri dari 
Jenderal-Jenderal tertentu yang menjalankan politik Nasakom-phobi, khususnya 
Komunisto-phobi, hal mana adalah bertentangan dengan politik Presiden 
Sukarno.

Kegiatan anti komunis tersebut adalah langsung bertentangan dengan politik 
Presiden yang justeru kurang lebih dua minggu sebelunya, berkenaan amanat 
dirapat raksasa ultah ke-45 PKI di Stadion Utama Senayan, dimana Presiden 
Sukarno sekali lagi menandaskan bahwa PPKI adalah "ya sanak ya kadang, yen 
mati melu kelangan".

Jelaslah bahwa menentang Dwan Jenderal pada hakekatnya adalah menentang 
Jenderal tertentu yang menjadi kapitalis birokraat, yang dalam prakteknya 
bersifat memusuhi Nasakom dan sokoguru-sokoguru Revolusi.

Saya lebih yakin lagi akan adanya Dewan Jenderal setelah saya mendapatkan 
bahan-bahan masa epilog dari G30S masa epilog merupakan masa "openbaring" 
atau masa terbukanya wajah politik yang sesungguhnya daripada Dewan 
Jenderal.
Dari koran-koran dapaat diketahui bahwa Jenderal AH. Nasution muncul 
terang-terangan dengan kampanye anti komunisnya.
Sesungguhnya Presiden Sukarno tiada jemu-jemunya memberikan indoktrinasi 
tentang mutlaknya Nasakom bagi penyelesaian indonesia.
Saya mengakui bahwa saya telah melakukan serentetan kegiatan membantu G30S, 
jelaslah bahwa G30S bukanlah suatu pemberontakan, tetapi suatu gerakan 
pembersihan. Bagaimana keterangan yuridisnya saya serahkan kepada kuasa 
hukum saya.


Kesimpulan:

PKI berada dibalik G30S, dengan dalih membela presiden soekarno, secara 
pribadi maupun untuk mengamankan "REVOLUSI" yang sedang dijalankan presiden 
soekarno. Peristiwa G30S merupakan puncak dari aksi revolusiatau kudeta PKI 
di Indonesia, yang sebelumnya sudah didahului dengan berbagai aksi kekerasan 
(pembunuhan) terhadap warga masyarakat diberbagai wilayah indonesia, yang 
menentang keberadaan komunis (PKI).




Cuplikan Pengakuan Dr. Soebandrio Tentang Tragedi Nasional 30 September.

Saat G30S meletus saya tidak berada dijakarta, saya melaksanakan tugas 
keliling daerah yang disebut turba (turun kebawah).
Pada tanggal 28 sept 1965 saya berangkat ke Medan, Sumatera Uara. Beberapa 
waktu sebelumnya saya keliling ke Jawa Timur dan Indonesia Timur.

Pada tanggal 29 Oktober 1965 pagi hari , Panglima AU Omar Dhani melaporkan 
kepada Presiden Soekarno tentang banyaknya pasukan yang datang dari daerah 
ke Jakarta.  Beberapa waktu sebelumnya saya melaporkan kepada bung  karno 
adanya sekelompok Dewan Jenderal -termasuk bocoran dewan Jenderal membentuk 
kabinet.

Menurut Serma Bungkoes (Komandan Peleton Kompi C Bataliyon Kawal Kehormatan) 
yang memimpin prajurit penjemputan Mayjen MT Haryono, di militer tidak ada 
perintah culik, yang ada adalah tangkap dan hancurkan.
Perintah yang saya terima dari Komandan Resimen Cakrabirawa Tawur dan 
Komandan Bataliyon Untung tangkap para jenderal itu, kata bangkoes setelah 
ia bebas dari hukuman. Namun MT Haryono terpaksa dibunuh sebab rombongan 
pasukan tidak diperkenankan masuk rumah oleh isteri MT Haryono, sang istri 
curiga suami dipanggil Presiden kok dinihari.
Karena itu pintu rumah itu didobrak dan MT Haryono tertembak tidak jelas 
apakah Haryono Pondok Gede (lubang buaya).

Ada masa dimana Indonesia lowong kepemimpinan sejak awal oktober 1965 sampai 
Maret 1966 atau sekitar enam bulan. Bung Karno masih sebagai Presiden, tapi 
sudah tidak punya kuasa lagi Bung Karno pada tenggang waktu itu belum 
benar-benar sampai ajal politik.
Beliau masih punya pengaruh, baik di Angkatan Bersenjata maupun dikalangan 
parpol-parpol besar dan kecil.
Para pemimpin parpol umumnya mendukung Angkatan Darat untuk membasmi PKI, 
namun mereka juga mendukung Bung Karno yang mencoba memulihkan wibawa. 
Walaupun Bung Karno akrab dengan PKI.

Lantas..mahasiswa melanjutkan demo turun kejalan..satu-satunya tuntutan 
mahasiswa yang murni menurut saya adalah bubarkan PKI

Setelah ditangkap saya langsung ditahan, saya diadili di Mahkamah Militer 
Luar Biasa dengan tuduhan subversi dan dijatuhi hukuman mati.
Jelas saya sangat terpukul saat itu. dari posisi orang orang nomor dua di 
Republik ini saya mendadak sontak diadili sebagai penjahat dan dihukum mati.
Saya menjalani awal dipenjara Cimahi Bandung. Disana berkumpul orang-orang 
yang senasib dengan saya (dituduh sebagai penjahat yang terlibat G30S) 
diantaranya adalah Kolonel Untung yang memang Komandan G30S.
..kalau Aidit mendukung  pembunuhan anggota Dewan Jenderal, memang ya dalam 
suatu saya dengar Aidit mendukung gerakan pembunuhan anggota jenderal yang 
dikabarkan akan melakukan kudeta terhadap Presiden, sebab kalau sampai 
Presiden terguling oleh kelompok militer, maka selanjutnya bakal sulit.


Kesimpulan:

 PKI berada dibalik peristiwa G30S, buktinya kesaksian Menlu Subandrio yang 
sekaligus kepala BPI (Badan Pusat Intelejen) mengatakan bahwa Aidit dan 
Untung terlibat dalam aksi G30S, dimana kedua orang tersebut adalah 
tokoh-tokoh PKI.
Tetap dengan dalih yang sama, seperti pengakuan Nyono, bahwa ada Dewan 
Jenderal yang berniat menggulingkan kepemimpinan presiden Soekarno.
Namun kalau Nyono jelas jelas mengatakan bahwa PKI yang membasmi Dewan 
Jenderal demi alasannya.



Mewaspadai Kuda Troya Komunisme Di Era Refromasi.
(Drs. Markonina Hatisekar dan Drs. Akrin Ijani Abadi, Pustaka sarana kajian 
Jkarta Brat, cetakan ke 3 maret 2001, hal 116-118)

Kegagalan G30S/PKI merupakan pukulan yang paling telak bagi sejarah 
perjuangan kaum komunis di Indonesia.
Kehancuran kekuatan militer G30S/PKI Kabur. DN Aidit lari ke Jawa Tengah, 
Sjam, Pono dan Brigjen Suparjo mundur kebasis camp didaerah perkebunan 
Pondok Gede. Pada taggal 3 Oktober 1965, Sjam dan Pono menghadap Sudisman 
untuk memberikan keterangan tentang gagalnya PKI di Kayu Awet, Rawamangun, 
Jakarta. Setelah mendengar laporan tersebut, Sudisman memerintahkan Pono 
untuk pergi ke Jawa Tengah untuk melaporkan situasi terahir di Jakarta 
kepada DN Aidit.

Pada hari yang sama, DN Aidit di Jawa Tengah telah memerintahkan Pono 
kembali ke Jakarta membawa instruksi lisan kepada Sudisman dan sepucuk surat 
kepada Presiden Soekarno. Instruksi kepada Sudisman adalah agar 
anggota-angota CC PKI yang masih ada di Jakarta melakukan upaya penyelamatan 
partai dan Nyono dapat mewakili DN. Aidit menghadiri Sidang Kabinet 
Paripurna di Bogor pada taggal 8 Oktober 1965. Aidit beralasan, dirinya 
tidak dapat menghadiri sidang itu karena tidak adanya transportasi ke Bogor 
dari Jawa Tengah.

Dalam Sidang Paripurna di Bogor tanggal 8 Oktober 1965, Nyono membacakan 
teks yang intinya menyebutkan bahwa bahwa PKI sama sekali tidak terlibat 
dalam apa yang disebut gerakan 30 September 1965.
Secara rahasia, beberapa pentolan PKI juga mengadakan rapat yang membahas 
serangkaian peristiwa terahir setelah serangkaian G30S PKI dan melakukan 
konsolidasi partai.  Pada tanggal 12 Oktober 1965, dirumah Dargo, tokoh PKI 
Solo, dilakukan rapat gelap antara DN Aidit, Pono dan Munir (anggota PKI 
yang baru tiba dari Jawa Timur).  Dalam rapat itu dikatakan bahwa kegagalan 
gerakan  30 Sept akan membuka kedok keterlibatan PKI.
Keberadaan PKI  untuk melakukan perjuangan secara parlementer sudah tidak 
mungkin dilakukan lagi. Munir melakukan usulan untuk dilakukan gerakan 
bersenjata, usulan Munir pada prinsipnya disetujui oleh peserta rapat. Aidit 
menugaskan Ponjo untuk meneliti daerah mana saja yang memungkinkan untuk 
dijadikan basis PKI guna melaksanakan perjuangan bersenjata, daerah yang 
diusulkan untuk ditinjau adalah : Merapi, Merbabu serta Kabupaten Boyolali, 
Semarang dan Klaten.

Belum lagi kegiatan itu direalisasikan, gerakan pasukan RPKAD telah memasuki 
kota Solo. Walau PKI berusaha melawan, namun pada operasi pembersihan yang 
dilakukan RPKAD di Boyolali, DN Aidit terbunuh. Kejadian demi kejadian 
berlangsung dengan amat cepat.
Rakyat sudah tidak percaya lagi pada PKI. Rakyat bersama-sama dengan 
mahasiswa dan militer yang masih setia pada konstitusi negara merapatkan 
barisan dan bergabung dalam satu front melawan PKI.  Pada ahirnya legalisasi 
PKI sudak tidak mampu dipertahankan oleh pengikutnya.
Lewat ketetapan MPRS-RI. NO.XXV/MPRS/1966, PKI dibubarkan dan dinyatakan 
sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia. 
Bukan itu saja, lewat ketetapan yang sama, paham Komunis dan 
Marxis-Leninisme dinyatakan haram berada di negara Indonesia.



Aksi G30S/PKI Awal Dari Pelanggaran HAM.

Peristiwa penyiksaan dan pembunuhan sembilan Jenderal pada 1 Oktober 1965 
oleh pasukan Cakrabirawa yang menjadi bagian dari pasukan komunis Indonesia 
(PKI) dan dikenal sebagai Grakan 30 September adalah tanggal pelanggaran Hak 
Asasi Manusia (HAM ) di Indonesia.
"Orang sekarang bicara pelanggaran HAM , sesungguhnya titik awal dari 
pelanggaran HAM adalah penyiksaan para jenderal.
Itu apa yang kami rasakan, kata putra pahlawan revolusi Mayjen Anumerta 
Sutijo, Agus Wijoyo, di Jakarta, Senin (23/9).
Pernyataan Wakil Ketua MPR itu disampaikan saat penjelasan pers rencana 
peluncuran buku bertajuk kunang-kunang kebenaran dilangit malam setebal 250 
halaman pada tanggal 30 September nanti.

Buku tersebut berisi penuturan anak-anak dan keluarga Pahlawan Revolusi 
tentang kejadian yang disaksikan dan dialami 1 Oktoer dini hari.
Penuturan itu terdiri dari keluarga Jenderal Ahmad Yani, Letjen Purnawirawan 
Soeprapto, Letjen Anumerta S. Parman, Mayjen Anumerta D.I. Penjaitan , 
Mayjen Anumerta Soetojo Siswomiharjo, Lettu CZI Anumerta Piere Tendean dan 
Keluarga AH. Nasution.


Mengeluh

Katerin Penjaitan mengeluh, dirinya orang tua yang bisa dihargai 
pengorbanannya, belakangan mereka seolah-olah dikaburkan, "saya tidak 
terima.
Saya tahu peritiwa itu, karena bukan anak kecil lagi, waktu itu usia saya 17 
tahun" katanya.
Menurutnya orang tuanya mati secara sadis. "Kita sakit mengingat peristiwa 
itu, komunis memang sadis," katanya dengan terbata-bata.

Sedangkan Amelia yani menyayangkan, para tahanan politik yang keluar dari 
penjara, enak sekali bicara bagaimana membunuh para jenderal.
Mereka tidak merasakan bagaimana rasanya putra-putri yang ditinggalkan.

Ia membantah para pasukan Cakrabirawa yang tergabung dalam PKI tidak 
melakukan penyiksaan, orang tua kita diseret, ditembak, mereka bilang 
seenaknya, itu bukan penyiksaan tandasnya.

Amelia menyatakan siapa lagi yang mau membela para Pahlawan Revolusi kalau 
bukan anak-anaknya "Kita tidak pakai bedil, hanya pakai pena, kita 
menyatakan kudeta, penyiksaan itu terjadi jangan terulang kembali.

Putra D.I. Penjaitan mengatakan hal senada, bahwa pasukan PKI sadis, sebagai 
gambaran, selongsong peluru mencapai 360 biji yang ditemukan diarea 
pekarangan rumah seluas 800 meter pada peristiwa penculikan dan penembakan 
ayahandanya, 1 Oktober 1965, sekitar pukul 03.00-04.00 WIB, selain orang 
tuanya keponakan ayahnya, Albert Naibab ikut meninggal ditembak dan Viktor 
Naibab cacat seumur hidup.


Kunang-kunang

Putri Suprapto, Nani Indah Sutojo menyatakan peristiwa yang diangkat tidak 
berkonotasi politik.
Harapannya dengan mengemukakan pengalaman, mata rantai kekarasan sejarah 
harus diputus, dibangun mata rantai baru dengan situasi yang damai dan 
harmonis.
 Ia menyadari, rekonstruksi peristiwa G30S/PKI berdasakan pengalaman 
keluarga Pahwalawan Revolusi bukan kesimpulan sejarah, sebab sejarah punya 
pendekatan, metode aliran tersendiri yang tidak mati, bisa mengungkap hal 
baru.
"Itu milik akademisi. Tapi kebenaran yang kami sampaikan adalah realitas 
bersama.
Kunang-kunang sebagai judul buku bisa jadi dalam kegelapan ada cahaya baru 
yang mungkin redup, diganti dengan sejarah lain," tuturnya.
"Kami tidak bermaksud tetap pada tataran penderitaan, iba, belas kasihan, 
kami inginkan munculnya harapan baru pada tingkat kearifan sesuai kemampuan 
yang bisa kami sampaikan, tambahnya" 



More information about the Marinir mailing list