[Marinir] Soal Pembunuhan Pasca G30S ... NU lebih jujur dari Katolik ....

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Fri Sep 30 21:18:08 CEST 2005


http://www2.rnw.nl/rnw/id/spesial/40_thn_g30s_pki050928/pembunuhan_pasca30S_050928?view=Standard

Soal Pembunuhan Pasca G30S
NU Lebih Jujur dari Katolik
Wawancara Ranesi, September 2005

Dalam acara dialog interaktif Secangkir Kopi yang disiarkan TVRI tanggal 14
Maret tahun 2000, Presiden Kyai Haji Abdurrahman Wahid menyatakan sejak
menjabat ketua PBNU dirinya sudah meminta maaf kepada para korban pembunuhan
pasca peristiwa G30S.

"Saya sudah meminta maaf atas segala pembunuhan yang terjadi terhadap
orang-orang yang dikatakan sebagai komunis," kata Gus Dur waktu itu.
Sejak ucapan itu tabir tabu yang meliputi PKI serta peristiwa G30S seperti
terkoyak. Semua orang bisa berbicara bebas tentang peristiwa bersejarah 40
tahun silam yang mengubah perjalanan bangsa Indonesia, termasuk
korban-korbannya.
Ucapan ini adalah juga rintisan menuju rujuk nasional dengan NU sebagai
pelopornya, walaupun organisasi massa Islam terbesar ini masih saja terbelah
soal peran mereka waktu itu.
Indonesianis senior Profesor Benedict Anderson yang seperempat abad lebih
dilarang masuk Indonesia gara-gara pendapatnya soal G30S, menyambut baik
upaya NU. Tapi pakar Indonesia dari Cornell University ini juga mendesak
supaya organisasi-organisasi lain terbuka dan jujur dalam peran mereka pada
pembunuhan massal pasca G30S.


Berikut Profesor Ben Anderson kepada Radio Nederland.

Perubahan di kalangan NU
Benedict Anderson [BA]: "Yang paling menarik adalah perubahan justru di
kalangan NU. Karena diketahui pada waktu tahun 1965, justru orang-orang
Ansor menjadi pembantu yang sangat penting untuk tentara dalam hal
menghancurkan PKI, khususnya di daerah pedalaman, di Jawa Timur, Jawa
Tengah.
Karena di kalangan anak muda intelektual justru mereka ingin mengetahui apa
yang terjadi.
Mereka membantu usaha Ibu Sulami untuk menelusuri jumlah orang kiri yang
terbunuh di beberapa daerah. Dan mereka mulai bikin rekonsiliasi atau hati
ke hati antara orang Gerwani dan orang-orang dari ormas NU, khusus untuk
wanita."

"Ini sangat bagus, walaupun mereka harus menghadapi fakta bahwa di antara
keluarga mereka sendiri ada yang menjadi algojo.
Dan rupanya mereka bersiap untuk itu. Jadi mereka tidak mati-matian membela
apa yang terjadi sebelumnya.
Ini berarti bahwa sebagian penting dalam masyarakat Indonesia, justru fihak
yang di angkatan tuanya sangat aktif dalam masyarakat ini, berubah
pikirannya.
Kami belum lihat usaha yang sedemikian dari fihak Katolik, Protestan,
Muhammadiyah. Tapi Insya Allah itu akan berlangsung pada tahun yang akan
dateng."


"Kita harus ingat bahwa orang-orang yang sudah ambil posisi, yang sudah lama
menyokong Soeharto mati-matian, seperti Kompas, Jacob Oetama dan sebagainya,
walaupun mungkin dalam hati kecilnya mereka mengaku bahwa apa yang terjadi
tahun 1965 adalah satu manipulasi yang jahat, toh mereka tidak akan
meninggalkan pendirian mereka di depan umum.
Karena mereka sudah punya andil dalam proyek yang besar. Dalam proyek Orde
Baru. Sampai sekarang."

"Ini sering terjadi dalam politik. Bahwa orang-orang yang sebenarnya dalam
hati kecilnya enggak yakin, tapi demi temennya, demi anu, namanya, demi ini,
demi itu, demi untungnya; masih ngotot dengan pendapat yang sebenarnya
mereka sudah tahu bahwa ini tidak benar."


NU lebih jujur daripada Katolik
"Kita tahu bahwa sebagian penting dari dana keuangan untuk Soeharto pada
masa-masa kritis yang pertama, sebagian datang dari, ini yang bagian dalam
negeri, bukan bantuan dari luar negeri, tapi dari dalam negeri sebagian
besar datang dari Pertamina dan sebagian besar lagi datang dari Menteri
Perkebunan Agraria, tokoh Flores yang kita semua tahu, Frans Seda.  Ini kan
menteri pemerintahan Soekarno, yang diangkat oleh Soekarno dan dia harus
setia kepada Soekarno.
Tapi justru sebaliknya. Diam-diam dia colong duit dari departemennya untuk
dikasih kepada orang yang mendongkel Bung Karno."

"Yang kedua itu sudah diketahui bahwa orang-orang yang sangat penting dalam
mendirikan Opsus, CSIS dan sebagainya.
Dua orang yang paling penting di situ, tidak semuanya orang-orang Katolik,
tetapi sebagian ada. Itulah Liem Bian Kie dan adiknya dan juga Harry Tjan
Silalahi.
Ini semua juga mengambil peranan yang cukup jahat dalam masalah Timtim.
Mereka menjadi penasehat dan operator agennya Ali Moertopo dalam berusaha
mendongkel pemerintah Timtim merdeka pada tahun 1975."

"Nah ini, sampai sekarang Kompas tidak pernah mau terus terang tentang
peranan yang penting dari orang-orang Katolik ini.
Semua ditutup dengan kata-kata halus. Ya, stylenya Kompas, bisa diketahui
dengan istilah yang kita semua sudah kenal. Seperti,
"Ya, saya dari dulu memang anti. Saya memang dari dulu itu kritis. Saya
memang dari dulu tidak setuju."
Tapi ini semacam hipokrisi yang kalau mereka betul-betul kritis, betul-betul
anti, ndak mungkin mereka bukan saja survive, tapi menjadi satu konglomerat
yang maha besar, yang masih mencekik dunia penjualan buku."

"Jadi dalam hal ini, NU jauh lebih jujur dari Katolik. Ini tidak berarti
bahwa tidak ada cukup banyak romo yang bagus, yang mengunjungi tapol dan
berusaha untuk membantu mereka. Jadi, maksud saya bukan untuk mencaci maki
kaum Katolik pada umumnya.
Tapi harus diakui bahwa kaum Katolik pada umumnya masih menjadi satu
minoritas yang tidak berani mencuci celana kolornya di pekarangan depan.
Dalam hal ini sikap mereka, dibandingkan dengan sikapnya NU, tidak bisa
dipuji."


Semuanya terlibat
Radio Nederland [RN]: "Kalau NU itu ada pemuda Ansor yang melakukan
pembunuhan itu, membantu tentara.
Apakah pelaku-pelaku itu juga ada dari kalangan Katolik, Protestan dan
Mohammadiyah, menurut anda?"

BA: "Harus diakui bahwa sebagian besar pembunuhan terjadi di pedesaan. Bukan
di kota.
Jadi kalau waktu itu kamu jadi PKI kelas teri, kamu akan lebih aman, lebih
mungkin survive, kalau di kota.
Dan ini memang NU kuat di desa, sedangkan pada umumnya Muhammadiyah, paling
sedikit di Jawa, lebih kuat di kota. Katolik juga begitu, Protestan juga."

"Tapi sampai sekarang, umpamanya, tidak pernah ada penelitian terhadap apa
yang terjadi di daerah yang jelas Katolik seperti Flores.
 Apa yang terjadi di sana? Saya belum pernah melihat laporan tentang ini.
Jelas itu tidak dilakukan oleh Kompas cs."

"Kita tahu bahwa di Bali yang membunuh justru bukan orang Islam, tapi orang
Hindu.
Dan mungkin lebih sadis daripada yang terjadi di Jawa. Kita tahu bahwa
pembunuhan yang paling komplit di mana dipastikan semua anggota komunis
dibunuh, justru terjadi di Aceh, yang pada waktu itu secara politik
berafiliasi dengan Muhammadiyah."

"Jadi boleh dikatakan tidak ada partai atau golongan yang tidak ada tanggung
jawabnya. Kalau bukan di lapangan atau di desa, tapi sebagai otak.
Di bagian intel, cukup banyak Protestan Batak di intel-intel pada waktu itu.
Atau di kalangan intelektual yang menjual diri supaya bisa dapet posisi yang
bagus di orde baru awal, mengharapkan kedudukan seperti itu.
So, orang-orang yang tidak kena itu sedikit sekali."

"Maka dari itu saya merasa harus angkat topi kepada NU dalam hal ini.
Karena mereka udah kasih contoh yang bagus. Insya Allah yang lain-lainnya
akan mawas diri dan memikirkannya.
Insya Allah, tapi saya memang tidak banyak harapan dalam hal ini."

Demikian percakapan bagian kedua dengan Profesor Benedict Anderson
Indonesianis senior dari Cornell University, Amerika Serikat.



More information about the Marinir mailing list