[Marinir] Hari Bhakti & Hari Jadi TNI AU 09 April 1946
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Sat Apr 8 16:17:50 CEST 2006
DIRGAHAYU TNI AU!
8 April 2006
HARI BHAKTI & HARI JADI TNI ANGKATAN UDARA
Sejarah lahirnya TNI AU bermula dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR)
pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu
sangat kekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. Sejalan
dengan perkembangannya berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada
tanggal 5 Oktober 1945 dengan nama TKR jawatan penerbangan di bawah Komodor
Udara Suryadi Suryadarma. Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi
menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara, maka
pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti
dengan Angkatan Udara Republik Indonesia, kini diperingati sebagai hari
lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional
Indonesia (TNI).
Salah satu Sejarah monumental yang selalu diperingati jajaran TNI AU tiap
tahun adalah apa yang dinamakan Hari Bhakti TNI AU. Peringatan Hari Bhakti
TNI AU, dilatar belakangi oleh dua peristiwa yang terjadi dalam satu hari
pada 29 Juli 1947. Peristiwa Pertama, pada pagi hari, tiga kadet penerbang
TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet
Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil
melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan belanda di tiga tempat,
masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.
Peristiwa Kedua, jatuhnya pesawat DAKOTA VT-CLA yang megakibatkan gugurnya
tiga perintis TNI AU masing-masing Adisutjipto, Abdurahman Saleh dan
Adisumarmo. Pesawat Dakota yang jatuh di daerah Ngoto, selatan Yogyakarta
itu, bukanlah pesawat militer, melainkan pesawat sipil yang disewa oleh
pemerintah Indonesia untuk membawa bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya.
Penembakan dilakukan oleh dua pesawat militer Belanda jenis Kittyhawk, yang
merasa kesal atas pengeboman para kadet TNI AU pada pagi harinya. Untuk
mengenang jasa-jasa dan pengorbanan ketiga perintis TNI AU tersebut, sejak
Juli 2000, di lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA (Ngoto) telah dibangun
sebuah monumen perjuangan TNI AU dan lokasi tersebut juga dibangun tugu dan
relief tentang dua peristiwa yang melatar belakanginya. Di lokasi monumen
juga dibangun makam Adisutjipto dan Abdurahman Saleh beserta istri-istri
mereka.
PESAWAT MERAH PUTIH PERTAMA
Hari itu 27 Oktober 1945, sehari menjelang peringatan 17 tahun Sumpah
Pemuda, di Pangkalan Maguwo, Yogyakarta terlihat ada kesibukan. Nampak para
teknisi sedang berada di sekitar sebuah pesawat Cureng yang bertanda bulat
Merah Putih, mempersiapkan segala sesuatunya untuk sebuah penerbangan yang
direncanakan. Mereka menginginkan sebuah pesawat Merah Putih terbang hari
itu, untuk membangkitkan Sumpah Pemuda.
Komodor Udara Agustinus Adisutjipto, yang lebih dikenal dengan sebutan Pak
Adi, adalah satu-satunya penerbang Indonesia yang berada di Pangkalan
Maguwo. Hari itu, Pak Adi akan terbang bersama Cureng Merah Putih. Upaya itu
membawa hasil. Pak Adi membawa terbang Pesawat Cureng Merah Putih tersebut
berputar-putar di Angkasa Pangkalan Maguwo disaksikan dengan rasa kagum oleh
seluruh anggota pangkalan yang berada dibawah. Itulah awal mula sebuah
pesawat Indonesia bertanda Merah Putih terbang di angkasa Indonesia yang
merdeka.
BAPAK KARBOL
Komodor Udara Abdulrahman Saleh, yang akrab di panggil Pak Karbol, buka saja
seorang Perwira Tinggi, Pendidik, dan Pahlawan/Perintis TNI Angkatan Udara,
tetapi juga perintis/pendiri Radio Republik Indonesia (RRI).
Pak Karbol yang juga di pakai untuk sebutan Taruna/Kadet Akademi Angkatan
Udara (AAU), menjadi Karbol AAU, karena keahliannya dibidang komunikasi
radio dan sebagai angkasawan radio ikut pula tergabung dalam pembentukan RRI
pada tanggal 11 September 1945.
Komodor Udara Dr. Abdulrahman Saleh menjadi pimpinan delegasi angkasawan
radio menghadap Presiden Sukarno. Delegasi menyampaikan himbauan kepada
Presiden agar menggunakan sarana komunikasi radio sebagai alat komunikasi
palih ampuh untuk mencapai rakyat dengan cepat dan luas jangkauannya. Bahkan
Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh ditunjuk sebagai Pemimpin Umum
RRI.
Bapak AURI :
Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma.
Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur pada 6 Desember 1912
Pada 1 September 1945 ditugaskan membentuk AURI
Pada 9 April 1946 diangkat sebagai KASAU (Pertama)
Pada 27 Pebruari 1948 s/d 1 Oktober 1948 diangkat sebagai APRI
Pada 1 Agustus 1949 diangkat sebagai Kastaf AURIS
Pada 18 Pebruari 1960 diangkat sebagai Menteri / Kastaf AURI
Pada 19 Januari 1962 diangkat sebagai Menteri Penasehat Presiden RI
Pada 1965 diangkat sbagai Menpostel RI
KSAU DARI MASA KE MASA :
Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma
9/04/1946 - 19/01/1962
Laksamana Madya Omar Dani
19/01/1962 - 24/11/1965
Laksamana Muda Sri Mulyono Herlambang
27/11/1965 - 31/03/1966
Laksamana Udara Roesmin Noerjadin
31/03/1966 - 10/11/1969
Marsekal TNI Soewoto Sukendar
10/11/1969 - 28/03/1973
Marsekal TNI Saleh Basarah
28/03/1973 - 4/06/1977
Marsekal TNI Ashadi Tjahyadi
4/06/1977 - 26/11/1982
Marsekal TNI Soekardi
26/11/1982 - 11/04/1986
Marsekal TNI Oetomo
11/04/1986 - 1/03/1990
Marsekal TNI Siboen Dipoatmodjo
1/03/1990 - 23/03/1993
Marsekal TNI Rilo Pambudi
23/03/1993 - 15/03/1996
Marsekal TNI Sutria Tubagus
15/03/1996 - 3/07/1998
Marsekal TNI Hanafie Asnan
3/07/1998 - 25/04/2002
Marsekal TNI Chappy Hakim
25/04/2002 - 23/02/2005
Marsekal TNI Djoko Suyanto
23/02/2005 - 15/02/2006
Marsekal TNI Herman Prayitno
15/02/2006 - Sekarang
© Copyright 2006, TNI Angkatan Udara.
Dikelola oleh DISPENAU.
More information about the Marinir
mailing list