[Marinir] [SP] Imlek, Kebangkitan Etnis Tionghoa Indonesia
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Thu Jan 26 11:58:54 CET 2006
http://www.suarapembaruan.com/News/2006/01/26/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Last modified: 26/1/06
Imlek, Kebangkitan Etnis Tionghoa Indonesia
Bakti Sosial - Sejumlah dokter dari kalangan etnis Tionghoa memeriksa
kesehatan warga saat bakti sosial yang digelar Perhimpunan Indonesia
Tionghoa (INTI), di Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Keterlibatan etnis
Tionghoa dalam kegiatan sosial kemasyarakatan sangat membantu upaya
pembauran.
DIHAPUSNYA sejumlah peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif oleh
Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), maupun penetapan Tahun Baru Imlek
sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, boleh
dikata sebagai suatu kebangkitan yang diperjuangkan oleh seluruh masyarakat
etnis Tionghoa di Indonesia. Bayangkan, selama lebih 700 tahun kehadiran
etnis Tionghoa di Tanah Air, mereka selalu menjadi kambing hitam dan
mendapat perlakuan tidak adil atau diskriminatif.
''Saya berharap tahun baru Imlek dapat menjadi momentum bagi seluruh elemen
dan komponen bangsa ini, khususnya masyarakat etnis Tionghoa, untuk
membangun habitus baru. Dengan membuang egoisme dan mengarahkan seluruh
perilaku yang berbasis pada hati nurani, moral, budi pekerti, dan etika yang
luhur, sehingga seluruh penyakit sosial dan kriminal dapat dihindari. Dan
tahun baru Imlek dapat menjadi kemenangan etnis Tionghoa Indonesia,'' ujar
Ketua Komisi Hubungan Antar Agama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI),
Benny Susetio Pr kepada Pembaruan di Jakarta, Selasa (24/1).
Menurut Romo Benny, gereja Katolik sangat menghargai dan menghormati
kebudayaan masyarakat yang juga merupakan hasil akal serta budi pekerti
manusia untuk menjaga tatanan kehidupan dan peradaban. ''Sesuai dengan
semangat inkulturasi, gereja melihat budaya merupakan salah satu anugerah
Allah kepada manusia. Gereja menghargai seluruh bentuk manifestasi serta
pernak-pernik kebudayaan yang ditampilkan selama pesta Tahun Baru Imlek,
sehingga menjadi lebih semarak,'' katanya.
Perlakuan Tidak Adil
Hal senada diungkapkan Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa DKI Jakarta,
Benny G Setiono, yang menilai Imlek boleh dibilang sebagai bentuk kemenangan
etnis Tionghoa Indonesia dari segala bentuk diskriminasi dan perlakuan tidak
adil yang sebelumnya sempat dialami.
''Peristiwa 13-14 Mei 1998 yang telah meluluhlantakkan ribuan ruko, toko,
rumah tinggal, pusat pertokoan, bengkel, apartemen, supermarket, kendaraan
bermotor, baik roda empat maupun roda dua, bahkan juga perkosaan terhadap
perempuan-perempuan Tionghoa di Jakarta dan Solo, merupakan puncak
kehancuran martabat dan jati diri etnis Tionghoa di Indonesia,'' ujar Benny
mengenang peristiwa yang menandai berakhirnya rezim Orde Baru tujuh tahun
silam.
Selama pemerintahan Orde Baru, secara terus-menerus terjadi kerusuhan
anarkis anti- Tionghoa. Kerusuhan Mei 1998 seakan adalah puncak dari aksi
kerusuhan tersebut.
Banyak orang sebelumnya berpendapat bahwa kerusuhan anti-Tionghoa tidak
mungkin terjadi di Jakarta. Tetapi ternyata, menjelang keruntuhan rezim Orde
Baru, puncak kerusuhan tersebut justru dibiarkan berlangsung oleh aparat
keamanan di ibu kota.
Dengan kasat mata seluruh dunia dapat menyaksikan bagaimana kerusuhan yang
berlangsung selama dua hari penuh, dibiarkan aparat keamanan tanpa melakukan
suatu tindakan apapun. Jadi terbukti apa yang selama ini dikhawatirkan,
etnis Tionghoa memang dijadikan bumper dan tumbal keruntuhan rezim Orde Baru
pimpinan Presiden Soeharto.
Sungguh menyedihkan melihat etnis Tionghoa demikian tidak berdaya menghadapi
segala penindasan terhadap dirinya. Yang bisa dilakukan hanya menyelamatkan
diri untuk sementara waktu ke luar negeri, atau ke Bali dan Kalimantan Barat
bagi mereka yang masih mempunyai uang. Sebaliknya bagi mereka yang tidak
mempunyai uang, sudah tentu hanya bisa pasrah atas semua kekerasan dan
penderitaan yang menimpa diri dan keluarganya.
Etnis Tionghoa yang semasa pemerintahan rezim Orde Baru tampak seolah-olah
demikian ''gagah'', ternyata hanya dalam waktu sekejap dapat dibuat tidak
berdaya.
Ini yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan etnis Tionghoa di Indonesia.
Mereka selama ini terlampau dininabobokan, seolah-olah rezim Orde Baru
adalah segala-galanya, yang memberikan kemakmuran, keamanan, dan kemapanan
atas dirinya. Mereka selalu berusaha menghindari wilayah politik,
seolah-olah politik adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka tidak
menyadari bahwa tanpa turut berpartisipasi di wilayah politik, sebesar
apapun kekuatan mereka di bidang ekonomi, akan dengan mudah dibuat tidak
berdaya.
Memang oleh rezim Orde Baru, peluang etnis Tionghoa untuk terjun ke wilayah
politik sangat dibatasi, terutama dengan melekatkan stigma Badan
Permusyawatan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), yang hasilnya terbukti
sungguh-sungguh sangat ampuh. Sebaliknya segelintir etnis Tionghoa
''dirayu'' agar mau menjadi kroni untuk menyuburkan korupsi, kolusi, dan
nepotisme (KKN), yang sangat menyengsarakan rakyat, dan akibatnya kita
tanggung sampai saat ini.
''Sebagai perantau yang mencari kehidupan baru di Indonesia, selama ratusan
tahun, etnis Tionghoa selalu menjadi pelengkap penderita. Walaupun
kedatangan mereka di negara- negara yang menjadi pilihannya semata-mata
bertujuan mencari kehidupan baru atau memajukan perdagangan, tanpa sedikit
pun melakukan kekerasan, apalagi dengan tujuan- tujuan untuk menjajah,
seperti yang dilakukan bangsa-bangsa kulit putih,'' ujar Benny G Setiono.
Tumbuhnya Kesadaran
Setelah Presiden Soeharto jatuh pada 21 Mei 1998 dan Indonesia memasuki era
reformasi, tumbuh kesadaran di kalangan etnis Tionghoa bahwa kedudukan
mereka sangat lemah dan menyedihkan. Kesadaran ini membangkitkan keberanian
mereka untuk menolak kesewenang-wenangan yang menimpa diri mereka dan
membela keadilan.
Dengan segera berbagai organisasi dideklarasikan oleh orang-orang peranakan
yang peduli pada keadaan tersebut, antara lain Partai Reformasi Tionghoa
Indonesia (Parti), Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI), Solidaritas Nusa
Bangsa (SNB), Formasi, Simpatik, Gandi, PSMTI dan Perhimpunan Indonesia
Tionghoa (INTI). Demikian juga berbagai penerbitan seperti harian, tabloid
dan majalah, antara lain Naga Pos, Glodok Standard, Suar, Nurani, Sinergi,
Suara Baru serta sejumlah lainnya bermunculan.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, beberapa organisasi tersebut
berguguran, dan beberapa media cetak telah hilang dari peredaran. Masalah
utama yang dihadapi organisasi-organisasi tersebut adalah masalah klasik,
tidak adanya program yang jelas, semangat yang mengendur, dan terjadinya
perpecahan di kalangan pemimpinnya.
Masalah yang dihadapi media cetak yang pada umumnya dikelola golongan
peranakan adalah masalah finansial dan sumber daya manusia. Hampir tidak ada
dukungan dari masyarakat Tionghoa akan kelangsungan hidup media cetak
tersebut.
Hasil-hasil apakah yang diperoleh dengan berdirinya organisasi-organisasi
yang menghimpun etnis Tionghoa baik peranakan maupun totok? Walaupun sangat
lamban, kesadaran politik mereka mulai tampak meningkat. Namun trauma masa
lalu dan stigma Baperki masih menghantui sebagian besar etnis Tionghoa,
sehingga mereka selalu berusaha menghindari wilayah politik.
Meski demikian, perjuangan organisasi-organisasi peranakan dalam membela
hak-hak etnis Tionghoa dan menuntut penghapusan peraturan-peraturan yang
diskriminatif telah banyak menunjukkan kemajuan. Dihapusnya segala
peraturan-peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif oleh Presiden
Abdurrahman Wahid maupun Tahun Baru Imlek yang dijadikan hari libur nasional
oleh Presiden Megawati merupakan suatu kemenangan yang diperjuangkan oleh
seluruh organisasi Tionghoa tersebut. *
More information about the Marinir
mailing list