[Marinir] Gub. Lemhanas: "Menemukan Kembali Hakekat & Jati Diri Indonesia"
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Sun Jul 2 19:41:31 CEST 2006
Keynote Speech
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional RI
Pada Seminar Reinvesi Keindonesiaan
"Menemukan Kembali Hakekat dan Jati Diri Indonesia"
Bandung, Kamis 8 Juni 2006
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Salam sejahtera bagi kita semua
YTH. Para Sesepuh Pejuang 45
Tokoh-tokoh Masyarakat dan Agama
Jajaran Pemerintah Jawa Barat
Jajaran TNI dan Polri Jawa Barat
Pimpinan Parpol dan Organisasi Kepemudaan
Pimpinan LSM dan Media Massa Di Jawa Barat
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat TUHAN YME yang
pada kesempatan kali ini saya diminta untuk berbicara tentang "reinvensi
keindonesiaan menemukan kembali hakikat dan jati diri Indonesia"
Mudah-mudahan apa yang akan saya sampaikan bermanfaat bagi bangsa dan
mendapat ridho dari Allah SWT, amin.
Para peserta seminar yang terhormat,
Sebagai permulaan sambutan saya, saya ingin mengajak anda untuk
melakukan "flashback" berupa potret keadaan pada peralihan tahun 1997-1998.
Sebelum gerakan reformasi/demokratisasi merebak pada tahun 1998,
persoalan persatuan dan kesatuan bangsa sangat intensif dilakukan dan
dipelihara. Namun sayangnya modal sosial yang sangat kuat dan tumbuh
bersama-sama dengan kebangkitan nasional bangsa tsb, dikelola secara
simultan dengan aspek-aspek kehidupan yang lain dengan pendekatan politik
yang relatif represif dan mengedepankan stabilitas politik dengan demikian
persoalan persatuan dan kesatuan bangsa juga menerima imbas negatif di era
reformasi.
Persoalan-persoalan yang bernuansa separatisme kedaerahan yang sempit
pada saat itu dapat diredam dengan pendekatan stabilitas politik dengan
nuansa pembangunan pertumbuhan ekonomi yang secara artifisial cukup
memuaskan, unutk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) rakyat disertai
dengan sistem pemerintahan yang sentralistik.
Pada saat terjadinya krisis ekonomi yang dashat pada akhir tahun 1337
yang pada akhirnya tidak dapat diatasi dan kemudian disusul oleh krisis
multidimensional akibat sinergi negatif antara krisis ekonomi dan keadaan
sosial politik yang tidak sehat yang sebenarnya merupakan "api dalam sekam"
maka meledaklah ketidakpercayaan pada penguasa pada waktu itu sehingga orde
baru jatuh dan digantikan oleh orde reformasi.
Salah satu "side effect" runtuhnya orde baru sangat menyedihkan adalah
berkembangnya sikap skeptis tehadap ideologi pancasila akibat trauma atas
pendekatan doktriner P4 (eka prasetya pancakarsa) yang menjadikan pancasila
kurang mencerminkan keseimbangan antara moralitas institusional, moralitas
sosial dan moralitas sipil dan bahkan menjadikan pancasila sebegai ideologi
tertutup di luar penafsiran nilai-nilai yang diformalkan.
Kegamangan tehadap ideologi pancasila tsb menyurutkan makna ideologi
baik secara perekat persatuan bangsa maupun sebagai sarana untuk menumbuhkan
kepercayaan bangsa lain yang akan berhubungan dengan Indonesia (The
predictability function of ideology)
Terkait dengan nilai atau sila persatuan bangsa kondisi negatif tsb
nampak dari pelbagai indikator sebagai berikut :
* Rasa tidak aman/tidak tentram bagi minoritas
* Munculnya gerakanradikalisme yang tidak jarang disertai dengan
langkah-langkah anarkhir, kekerasan dan amuk massa
* Munculnya terorisme, yang dipicu oleh radikalisme dengan memanfaatkan
melemahnya ideologi
Pancasila
* Toleransi terhadap perbedaan pendapat sangat lemah
* Munculnya elemen-elemen separatisme dan kedaerahan/primordialisme
dengan menafsirkan otonomi daerah sebagai federalisme
* Pendekatan fragmentatif dalam menghadapi persoalan-persoalan bangsa
* Ketiadaan atau kelangkaan tokoh panutan
* Perasaan gotong royong, solidaritas dan kemitraan yang lemah
* Ketidaksepahaman dalam mensikapi proses globalisasi
* Iklim investasi yang buruk dan larinya modal asing (FDI) sebagai "the
final aftermath"
* DLL
Dalam kondisi semacam itu bangsa Indonesia sebenarnya tetap yakin bahwa
persatuan dan kesatuan nasional baik yang bernuansa struktural maupun
kultural (solidaritas sosial) tetap bisa dipertahankan di negri ini, sebab
bangsa ini memang didirikan atas dasar falsafah non-primordialisme,
melainkan atas dasar rasa penderitaan yang sama (sense of common suffering)
akibat penjajahan asing ratusan tahun. Dengan demikian fondasi berdirinya
bangsa ini adalah pluralisme dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika (unity in
diversity/pluribus unum).
Semboyan tsb sangat bermakna, karena di dalamnya terkandung
elemen-elemen : "diversity, unity, harmony, tolerance and peace" hal ini
tidak hanya bernuansa domestik tetapi juga mondil mengingat pengaruh
globalisasi yang menjadikan dunia ini sebagai "the global village" yang anti
tehadap segala perilaku diskriminatif.
Berbicara tentang membangun jati diri adalah suatu proses penumbuhan dan
pengembangan nilai-nilai luhur yang terpancar dari hati nurani melalui mata
hati kita, dan direfleksikan melalui sikap, pemikiran dan perilaku.
Mungkin kita selama ini hanya menggunakan cipta dan karsa serta karya
atau tangan saja, tetapi kedepan kita sudah saat menampilkan olah rasa dalam
membangun jati diri bangsa.
Pada dasarnya jati diri bangsa dipengaruhi oleh perkembangan sistem
nilai yang dianut dan dipahami , yang senantiasa berubah secara dinamis
mengikuti paradigma yang berlaku. Kuhn (1996) menjelaskan pengertian
paradigma aebagai berikut : Paradigma sebagai suatu himpunan pengertian atau
pendapat yang dapat memberikan penjelasan atau jawaban pada suatu pertanyaan
ilmiah; atau pendefinisian dari suatu anggapan untuk berbagai masalah dan
metode yang absah; Atau suatu kriteria untuk menetukan permasalahan yang
dipertanyakan.
Pergantian suatu paradigma dengan paradigma yang baru adalah merupakan
kejadian ilmiah yang diakibatkan oleh perkembangan/pertumbuhan ilmu
pengetahuan. DAlam proses perubahan paradigma tsb seringkali terjadi tidak
berlangsung mulus, kerena selalu terdapat masyarakat pendukung paradigma
lama dan pendukung paradigma baru.Keadaan ini secara jujur kita rasakan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini yang apabila tidak
diwaspadai akan mengancam kekokohan persatuan dan keastuan bangsa.
Pada kesempatan yang baik di pagi hari ini, saya ingin mengajak seluruh
komponen bangsa untuk mau menengok kebali semangat kesatuan dan persatuan
bangsa. Kita menyadari bahwa semangat persatuan dan kesatuan itu memang
pernah disalahgunakan untuk mengendalikan negara secara otokratik. Karenanya
mari kita kembalikan makna luhur kedua kata itu menjadi niat untuk menjaga
keutuhan bangunan negara yang kita cintai bersama.
Mengelola kebhinekaan, jangan diartikan sebagai mencabik-cabik dan
meruntuhkan bangunan negara kesatuan republik Indonesia. Kini saatnya kita
mengibarkan kembali semangat dan tekad untuk bersatu dari sabang sampai
merauke kita harus jaga keutuhannya, isinyalah yang kita tata dengan
menempatkan keanekaragaman yang ada secara proporsional. Jangan pernah kita
biarkan negri ini terpecah berkeping-keping hanya karena menonjolnya
kepentingan sektorial, kedaerahan dan juga kepentingan kelompok.
Setelah reformasi bergulir delapan tahun yang lalu, baru kita memahami
bahwa aemua yang dilakukan dulu, sekarang ini menibulkan dampak dikalangan
masyarakat. Rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan dan akhirnya menimbulkan
dendam adalah fenomena yang kita temukan dikalangna masyarakat saat ini.
Reformasi bukanlah revolusi, bukan pula suatu evolusi. Reformasi adlah
suatu perubahan yang dilakukan krena kita melihat ada hal-hal dimansa lalu
yang tidak baik, hal-hal dimasa lalu itu yang tidak benar, hal-hal dimasa
lalu yang perlu disempurnakan dan harus diperbaiki. Jadi tidak benar kalau
reformasi adalah penghancuran total secara emosional terhadap hasil-hasil di
waktu yang lalu untuk kemudian dibangunsuatu sistem yang betul-betul tidak
lagi berbau masa lalu.
Kalau ini yang dilakkukan maka ini namanya revolusi dan kita akan kembali
sekian tahun kebelakang dan tentunya akan merugikan kita semua disegala
aspek kehidupan. Kita mensyukuri sekarang ini masyarakat menyadari perubahan
itu tidak boleh dilakukan dengan emosional, kepentingan sesaat dan bals
dendam, tetapi lebih pada perubahan yang harus dilakukan secara konsesional
melalui suatu tatanan yang berlandaskan pada suatu rasionalitas sesuai
dengan kebutuhan dan juga menatap masa depan bangsa Indonesia.
Peserta seminar yang terhormat,
Sebagai bangsa yang merdeka, maka bangsa Indonesia mempunyai cita-cita
dan tujuan seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yakni adnya kehidupan
yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.
Kebhinekaan budaya masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari Tuhan YME
yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa. Sejarah menunjukkan bahwa
suku-suku bangsa yang mendiami wilayah nusantara ini, dengan keanekaragaman
budayanya masing-masing, sejak dulu telah saling berhubungan dan
berinteraksi.
Berdasarkan mengenai visi mengenai masa depan, maka para pemuda dari
suku-suku bangsa tsb pada tahun 1928 telah mengikrarkan sumpah untuk menjadi
suatu bangsa dengan menggunakan bahasa persatuan dan bersama-sama hidup di
satu tanah air.
Dari peristiwa ini terlihat bahwa kebhinekaan budaya bukan manjadi halangan
untuk mewujudkan persatuan bangsa. Justru budaya yang beraneka ragam tsb
justru amapu berhubungan dan berinteraksi satu dengan yang lainnya secara
selaras dan serasi. oleh sebab itu perlu selalu disadari dan dipahami
bersama bahwa bangsa Indonesia ini memang bentuk dari suku-suku bangsa yang
memiliki budaya yang beraneka ragam. Maka langkah utama yang perlu ditempuh
dalam rangka membangun kehidupan baru bagi bangsa Indonesia di masa depan
adalah menggunakan salah satu asa dalam konsepsi kemandirian lokal, yaitu
"pendekatan kebudayaan" sebagai bagian utama dari strategi pembangunan
masyarakat dan bangsa. Implementasi pendekatan kebudayaan dalam pembangunan
bangsa diyakini akan dapat menumbuhkan kebanggan pada setiap anak bangsa
terhadap diri dan budayanya dan pada gilirannya akan menumbuhkan pula
toleransi dan pengertian akan keberadaan budaya lainnya.
Hal ini merupakan faktor utama perekat persatuan bangsa.
Para peserta seminar yang terhormat,
Pada proses reformasi, penyaluran aspirasi politik masyarakat telah
dapat diakomodasi dalam 48 partai dengan berbagai kebebasan untuk menentukan
asasnya masing-masing. Pada satu sisi hal ini dapat mencerminkan perwujudan
demokrasi, akan tetapi pada sisi lain dapat mengarah pada pelanggaran
terhadap nilai-nilai pancasila. Hal tsb pada akhirnya dapat diselewengkan
dengnan pembentukan kekuatan-kekuatan dengan memobilisasi kekuatan
berdasarkan asas masing-masing. Hal ini dapat bermuara pada berkembangnya
primordialisme sempit berdasarkan agama, etnis ataupun ras san aspek
kedaerahan lainnya.
Faktor kemajemukan serta adanya kesenjangan antar daerah yang makin
menajam, dapat berdampak pada permasalahan di bidang politik, ekonomi,
sosial budaya dan hankam. Keadaan negara yang berbentuk kepulauan dengan
berbagai ragam permasalahan akan semakin berbahaya bila faktor luar ikut
campur tangan memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang ada. Tuntutan pemisahan
diri daerah tertentu menunjukkan terjadinya benturan kepentingan daerah
dengan pusat. Disamping itu patut diperhatikan karena
permasalahan-permasalahan daerah tsb di atas tenyata terjadi disepanjang
alur laut kepulauan Indonesia (ALKI), yang apabila tidak diwaspadai akan
mengancam ketahanan nasional kita.
Ketahanan nasional (national resilience) pada hakikatnya merupakan
tingkat peradaban (the level of civilition) suatu bangsa yang tidak dapat
hanya diukur ata dasar parameter kemampuan defence and security, pertumbuhan
ekonomi dan jumlah pendapatan perkapita suatu bangsa, tetapi juga ditentukan
oleh kondisi stabilitas politik dan perlindungan HAM, tingkat demokrasi,
tingkat kemiskinan, kemampuan suatu bangsa untuk memiliki keunggulan
kompetitif di era globalisasi, kemajuan pendidikan dan sain serta teknologi
dan sebagainya, yang semuanya sebenernya merupakan jumlah keseluruhan dari
human and national capabilities.
Ketahanan (Resilience) harus diartikan dalam kerangka "competency" yang
mengandung makna menurut Schultz (2005) yaitu makna deals effectively with
pressure, maintains focus and intensity and remains optimistic and
persistenteven under adversity, recovers quickly from setback effectively
balance personal life and work.
Disamping itu, wawasan nusantara sebagai suatu pendangan geopolitik
yaitu cara pandang (out look) yang berlingkup nasional untuk memberi arah
bagi setiap warga negara Indonesia dan segenap komponen bangsa Indonesia.
Umtuk senantiasa menjaga dan memelihara persatuan bangsa dan kesatuan
wilayah dari sabang sampai merauke dalam rangka terwujudnya cita-cita
nasional, sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD negara republik
Indonesia tahun 1945.
Tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan baik yang berasal dari dalam negri
maupun luar negri yang berpotensi memecah dan merusak persatuan dan kesatuan
bangsa yang menjurus kepada diintegrasi bangsa perlu segera diatasi.
Kita harus mengatasi hal ini secara profesional dan proporsional dengan
menngedepankan persatuan dan kesatuan bangsa serta memposisikan rakyat
sebagai penikmat kedaulatan rakyat.
Profesionalisme tidak hanya mengandung nuansa expertise yang memadai
dari seseorang yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan oleh lembaga
yang hebat. Tetapi harus disertai karakter semangat altruistik atau
pengabdian sosial yang tinggi (sense of social responsibility) dan rasa
kesejawatan (corporateness) dan ketaatan kepada kode etik yang berlaku dalam
profesinya yang pada akhirnya berlaku positif yang secara teratur diterapkan
akan menumbuhkan kebiasaan dan karakter yang kondusif untuk mencapai tujuan
nasional seperti yang diamanatkan.
Rasa percaya diri (self confidence) seorang pemimpin akan sangat
dibutuhkan untuk membangun ketahanan nasional masyarakatnya. kehebatan
seorang pemimpin seperti motivasi untuk maju,bijak, profesional tidak
sombong, hidup sederhana, jujur (honesty is the first chapter of wisdom),
sadar akan pentingnya team work, suka bekerja keras (every great achievement
is the story of flamming heart), berani mengambil resiko secara terukur
(calculated risk), penuh dengan imajinasi dan selalu menjaga kualitas
kerjamya serta kesediaan untuk keunggulan seseorang termasuk keunggulan anak
buahnya, tidak dapat hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga
melalui proses penghayatan yang empiris mulai dari tahap-tahap (stages);
mengnenal (acquaintance), menyadari lebih dalam (awareness) kemampuan
menilai (attitude) dan membentuk perilaku (behaviour).
Para peserta seminar yang terhormat,
Selain permasalahan diatas telah terjadi masalah lokal yang dapt mencuat
keluar dan juga dapat dimanfaatkan oleh kepentingan2 nasional negara lain
adalah dampak dari permasalahan lama yang belum terselesaikan secara tuntas,
antara lain manyangkut warisan benturan antara
spitualisme-feodalisme-sosialisme, latar belakang sejarah dari kelompok2
sosial dalam masyarakat majemuk serta proses sosial dalam masyarakat majemuk
serta proses komitmen nasional yang belum disepakati secara menyeluruh,
seperti benturan etnis yang terjadi di Kalbar, Maluku, mataram serta masalah
tanah ulayat di timika, sumatra barat dll.
Bertolak dari pokok2 permasalahan diatas kedepan perlu adanya konsepsi
untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang sedang kita hadapi antara
lain melalui :
a. Pemerataan dan keadilan dibidang sosial dan ekonomi
Kebutuhan dan tuntuan fundamental pertama yang harus dipenuhi dalam
menemukan kembali jati diri bangsa adalah masalah pemerataan dan keadilan
sosial serta ekonomi. untuk itu diharapkan kebijakan pemerintah pusat sampai
ke pemerintah daerah memerlukan adanya pemerataan pembangunan dan keadilan
di bidang sosial dan ekonomi.
b. menciptakan sistem budaya nasional yang mantap
Jati diri bangsa agar terwujud, membutuhkan filter diri bangsa untuk
menolak pengaruh budaya negatif baik yang bersumber dari nilai-nilai asing
maupun dari perkembangan kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Diharapkan
adnya wadah filter budaya, mampu menyaring nilai-nilai universal mana yang
dapat diadopsi dan memisahkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan
kepribadian bangsa yang akan merusak budaya dan jatidiri bangsa.
Untuk menggugahnya sosialisasi jati diri bangsa diharuskan menjadi
sebuah "gerakan nasional" dengan melibatkan pemerintah dan seluruh komponen
bangsa. Mengkampanyekan dan menggugah kesadaran masyarakat akan jati diri
bangsa yang luhur dengan mengedepankan dan menanamkan nilai-nilai
nasionalisme dan wawasan nusantara merupakan salah satu pintu sebagai
fundamental yang penting dan strategis. Dalam pembentukan jati diri bangsa
ke depan jalur non formal yaitu pendidikan individu dalam keluarga dan
kelompok merupakan cara efektif selain cara-cara formal dalam lingkungan
pendidikan nasional. Diharapkan pendidikan nasional Indonesia dapat
mengenalkan ulang dan memberikan pencerahan mengenai sejarah bangsa
Indonesia, kebesaran nama pahlawan bangsa, makna pentingnya bela negara dan
bangsa sebagai bangsa Indonesia.
c. Kepastian dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan
Hal mendasar yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia adalah
ketiadaan kepastian hukum dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan.
Selama perjalanan reformasi telah banyak hadir UU yang mengatur
penyelenggaraan pemerintahan dalam upaya untuk membangun bangsa antara alin
UU nomor 32/2004 tentang pemerintahan daerah. Kondisi obyektif dalam
implementasinya di lapangan mengalamibanyak hambatan antara lain aturan
turunan dari UU berupa PP belumwadahi budaya, adat istiadat lokal sehingga
daerah merasa kebutuhan dan kepentingan masyarakatnya dirasakan sebelum
terakomodasi.
Oleh sebab itu dimasa yang akan datang turunan dari UU berupa PP atau
yang lainnya harus terlebih dulu dilakukan uji materi dengan daerah-daerah
agar sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat.
d. Adanya moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan
bernegara
Sebagai masyarakatnya yang masih berbudaya paternalistik maka
kedaulatan setiap pemimpin dalam setiap berfikir, bersikap dan bertindak
tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
diharapkan mampu menjadi tauldan dan panutan yang baik yang mengcu kepada
nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sebagaimana yangn telah tertuang dalam
pancasila dan UUD 1945.
Disamping itu sebagai seorang pemimpin yang memadai di era yang penuh
tubulemsi perubahan dan globalisasi saat ini paling tidak harus memenuhi
standard2 sebagai berikut :
*. "change leadership" yang dapat melakukan sinergi positif antara
"enthusiasism, energy and hope" yang slalu menjaga optimisme, pantang
menyerah dalam mengejar tujuan, disertai rasa percaya diri di satu pihak
dengan "moral pupose" understanding change. coherence making, relationship
building and knowledge creation and sharing" di lain pihak . dalam "culture
of change" seorang pemimpin akan mengalami atau menikmati ketegangan yang
merupakan kesatuan dalam beratnya memecahkan masalah. Disitulah sebenarnya
kebersihan tersebar terletak. "effective leaders make people feel that even
the most dificult problems can be tackled productively"
*. "global leadership" yangn konsepnya dilandasi oleh keyakinan sosila yang
komplek dan bersifat global, tifak ada model khusu (singel model) yang
cocok terhadap situasi yangs sangat laus mengahdapi seorang pemimpin apapun
juga. Dalam hal ini paling tidak terdapat 5 karakterisrik yang muncul dalam
kerangka keopemimpinan global yaitu ;
a) Thingking globally, yang mengnandung pesan agar pemimpin selalu
berusaha untuk memahami keaneka ragaman sistem ekonomi budaya hukum dan
politik sebagai bagian dari warga negara dunia dengan visi dan nilai-nilai
yang open ended. a home centric view will not be torated. gobal leaders need
to have a global level when making decisions (think globaly adt locally)
b) appreciating cultutral diversity diversitas dalam hal ini diartikan
sebagai diversity of leadership style, indutries style, individual behaviors
and values race, religion and sex " Hal ini akan merupakan "a key to
competing successfully in the furure'
c) developing technologycal savy tanpa hal in mas a depan kemitraan dan
jaringan global yang terpadu tidak mungkin terjadi
d) building partnerhip and alliances kepemimpinaan di masa depan akan
mensyaratkan tim2 kepemimpinan yang kolaboratif setiap tim menguiasai
pelbagai ketrampilan yang diisyaratkan oleh kepemimpinan global.
e) Sharing leadership untuk membuat kepitusan2 yang efektif. tidak
seperti kepemimpinanan individual saat ini seorang pemimpin yang berhasil di
masa depan akan bergerak secara terintegrasi
Hadirin peserta seminar yang berbahagia.
Demikianlah sambutan saya semoga dari seminar kita semua dapat memetim
dan menyerap manfaat hakiki dalam upaya menggugah ulang bahwa kita adalha
bangsa yang memiliki jati diri.
Wabillahi Taifikwal Hidayah
Wassalamu'alaikum WR.WB
Salam sejahtera bagi kita semua.
Jakarta 8 juni 2006
Gubernur Lembaga ketahanan nasional RI
Prof. DR. Muladi. SH
--
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 738 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len
More information about the Marinir
mailing list