[Marinir] Gub. Lemhanas: "Menemukan Kembali Hakekat & Jati Diri Indonesia"

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sun Jul 2 19:41:31 CEST 2006


Keynote Speech
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional RI
Pada Seminar Reinvesi Keindonesiaan
"Menemukan Kembali Hakekat dan Jati Diri Indonesia"
Bandung, Kamis 8 Juni 2006

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Salam sejahtera bagi kita semua
YTH. Para Sesepuh Pejuang 45
Tokoh-tokoh Masyarakat dan Agama
Jajaran Pemerintah Jawa Barat
Jajaran TNI dan Polri Jawa Barat
Pimpinan Parpol dan Organisasi Kepemudaan
Pimpinan LSM dan Media Massa Di Jawa Barat


    Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat TUHAN YME yang 
pada kesempatan kali ini saya diminta untuk berbicara tentang "reinvensi 
keindonesiaan menemukan kembali hakikat dan jati diri Indonesia" 
Mudah-mudahan apa yang akan saya sampaikan bermanfaat bagi bangsa dan 
mendapat ridho dari Allah SWT, amin.

    Para peserta seminar yang terhormat,

    Sebagai permulaan sambutan saya, saya ingin mengajak anda untuk 
melakukan "flashback" berupa potret keadaan pada peralihan tahun 1997-1998.

    Sebelum gerakan reformasi/demokratisasi merebak pada tahun 1998, 
persoalan persatuan dan kesatuan bangsa sangat intensif dilakukan dan 
dipelihara. Namun sayangnya modal sosial yang sangat kuat dan tumbuh 
bersama-sama dengan kebangkitan nasional bangsa tsb, dikelola secara 
simultan dengan aspek-aspek kehidupan yang lain dengan pendekatan politik 
yang relatif represif dan mengedepankan stabilitas politik dengan demikian 
persoalan persatuan dan kesatuan bangsa juga menerima imbas negatif di era 
reformasi.

    Persoalan-persoalan yang bernuansa separatisme kedaerahan yang sempit 
pada saat itu dapat diredam dengan pendekatan stabilitas politik dengan 
nuansa pembangunan pertumbuhan ekonomi yang secara artifisial cukup 
memuaskan, unutk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) rakyat disertai 
dengan sistem pemerintahan yang sentralistik.

    Pada saat terjadinya krisis ekonomi yang dashat pada akhir tahun 1337 
yang pada akhirnya tidak dapat diatasi dan kemudian disusul oleh krisis 
multidimensional akibat sinergi negatif antara krisis ekonomi dan keadaan 
sosial politik yang tidak sehat yang sebenarnya merupakan "api dalam sekam" 
maka meledaklah ketidakpercayaan pada penguasa pada waktu itu sehingga orde 
baru jatuh dan digantikan oleh orde reformasi.

    Salah satu "side effect" runtuhnya orde baru sangat menyedihkan adalah 
berkembangnya sikap skeptis tehadap ideologi pancasila akibat trauma atas 
pendekatan doktriner P4 (eka prasetya pancakarsa) yang menjadikan pancasila 
kurang mencerminkan keseimbangan antara moralitas institusional, moralitas 
sosial dan moralitas sipil dan bahkan menjadikan pancasila sebegai ideologi 
tertutup di luar penafsiran nilai-nilai yang diformalkan.

    Kegamangan tehadap ideologi pancasila tsb menyurutkan makna ideologi 
baik secara perekat persatuan bangsa maupun sebagai sarana untuk menumbuhkan 
kepercayaan bangsa lain yang akan berhubungan dengan Indonesia (The 
predictability function of ideology)

    Terkait dengan nilai atau sila persatuan bangsa kondisi negatif tsb 
nampak dari pelbagai indikator sebagai berikut :

    * Rasa tidak aman/tidak tentram bagi minoritas
    * Munculnya gerakanradikalisme yang tidak jarang disertai dengan 
langkah-langkah anarkhir, kekerasan dan amuk massa
    * Munculnya terorisme, yang dipicu oleh radikalisme dengan memanfaatkan 
melemahnya ideologi
       Pancasila
    * Toleransi terhadap perbedaan pendapat sangat lemah
    * Munculnya elemen-elemen separatisme dan kedaerahan/primordialisme 
dengan menafsirkan otonomi daerah sebagai federalisme
    * Pendekatan fragmentatif dalam menghadapi persoalan-persoalan bangsa
    * Ketiadaan atau kelangkaan tokoh panutan
    * Perasaan gotong royong, solidaritas dan kemitraan yang lemah
    * Ketidaksepahaman dalam mensikapi proses globalisasi
    * Iklim investasi yang buruk dan larinya modal asing (FDI) sebagai "the 
final aftermath"
    * DLL

    Dalam kondisi semacam itu bangsa Indonesia sebenarnya tetap yakin bahwa 
persatuan dan kesatuan nasional baik yang bernuansa struktural maupun 
kultural (solidaritas sosial) tetap bisa dipertahankan di negri ini, sebab 
bangsa ini memang didirikan atas dasar falsafah non-primordialisme, 
melainkan atas dasar rasa penderitaan yang sama (sense of common suffering) 
akibat penjajahan asing ratusan tahun. Dengan demikian fondasi berdirinya 
bangsa ini adalah pluralisme dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika (unity in 
diversity/pluribus unum).

    Semboyan tsb sangat bermakna, karena di dalamnya terkandung 
elemen-elemen : "diversity, unity, harmony, tolerance and peace" hal ini 
tidak hanya bernuansa domestik tetapi juga mondil mengingat pengaruh 
globalisasi yang menjadikan dunia ini sebagai "the global village" yang anti 
tehadap segala perilaku diskriminatif.

    Berbicara tentang membangun jati diri adalah suatu proses penumbuhan dan 
pengembangan nilai-nilai luhur yang terpancar dari hati nurani melalui mata 
hati kita, dan direfleksikan melalui sikap, pemikiran dan perilaku.

    Mungkin kita selama ini hanya menggunakan cipta dan karsa serta karya 
atau tangan saja, tetapi kedepan kita sudah saat menampilkan olah rasa dalam 
membangun jati diri bangsa.
    Pada dasarnya jati diri bangsa dipengaruhi  oleh perkembangan sistem 
nilai yang dianut dan dipahami , yang senantiasa berubah secara dinamis 
mengikuti paradigma yang berlaku. Kuhn (1996) menjelaskan pengertian 
paradigma aebagai berikut : Paradigma sebagai suatu himpunan pengertian atau 
pendapat yang dapat memberikan penjelasan atau jawaban pada suatu pertanyaan 
ilmiah; atau pendefinisian dari suatu anggapan untuk berbagai masalah dan 
metode yang absah; Atau suatu kriteria untuk menetukan permasalahan yang 
dipertanyakan.

    Pergantian suatu paradigma dengan paradigma yang baru adalah merupakan 
kejadian ilmiah yang diakibatkan oleh perkembangan/pertumbuhan ilmu 
pengetahuan. DAlam proses perubahan paradigma tsb seringkali terjadi tidak 
berlangsung mulus, kerena selalu terdapat masyarakat pendukung paradigma 
lama dan pendukung paradigma baru.Keadaan ini  secara jujur kita rasakan 
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini yang apabila tidak 
diwaspadai akan mengancam kekokohan persatuan dan keastuan bangsa.

    Pada kesempatan yang baik di pagi hari ini, saya ingin mengajak seluruh 
komponen bangsa untuk mau menengok kebali semangat kesatuan dan persatuan 
bangsa. Kita menyadari bahwa semangat persatuan dan kesatuan itu memang 
pernah disalahgunakan untuk mengendalikan negara secara otokratik. Karenanya 
mari kita kembalikan makna luhur kedua kata itu menjadi niat untuk menjaga 
keutuhan bangunan negara yang kita cintai bersama.

    Mengelola kebhinekaan, jangan diartikan sebagai mencabik-cabik dan 
meruntuhkan bangunan negara kesatuan republik Indonesia. Kini saatnya kita 
mengibarkan kembali semangat dan tekad untuk bersatu dari sabang sampai 
merauke kita harus jaga keutuhannya, isinyalah yang kita tata dengan 
menempatkan keanekaragaman yang ada secara proporsional. Jangan pernah kita 
biarkan negri ini terpecah berkeping-keping hanya karena menonjolnya 
kepentingan sektorial, kedaerahan dan juga kepentingan kelompok.

    Setelah reformasi bergulir delapan tahun yang lalu, baru kita memahami 
bahwa aemua yang dilakukan dulu,  sekarang ini menibulkan dampak dikalangan 
masyarakat. Rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan dan akhirnya menimbulkan 
dendam adalah fenomena yang kita temukan dikalangna masyarakat saat ini.

    Reformasi bukanlah revolusi, bukan pula suatu evolusi. Reformasi adlah 
suatu perubahan yang dilakukan krena kita melihat ada hal-hal dimansa lalu 
yang tidak baik, hal-hal dimasa lalu itu yang tidak benar, hal-hal dimasa 
lalu yang perlu disempurnakan dan harus diperbaiki. Jadi tidak benar kalau 
reformasi adalah penghancuran total secara emosional terhadap hasil-hasil di 
waktu yang lalu untuk kemudian dibangunsuatu sistem yang betul-betul tidak 
lagi berbau masa lalu.
Kalau ini yang dilakkukan maka ini namanya revolusi dan kita akan kembali 
sekian tahun kebelakang dan tentunya akan merugikan kita semua disegala 
aspek kehidupan. Kita mensyukuri sekarang ini masyarakat menyadari perubahan 
itu tidak boleh dilakukan dengan emosional, kepentingan sesaat dan bals 
dendam, tetapi lebih pada perubahan yang harus dilakukan secara konsesional 
melalui suatu tatanan yang berlandaskan pada suatu rasionalitas sesuai 
dengan kebutuhan dan juga menatap masa depan bangsa Indonesia.

    Peserta seminar yang terhormat,

    Sebagai bangsa yang merdeka, maka bangsa Indonesia mempunyai cita-cita 
dan tujuan seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yakni adnya kehidupan 
yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.

    Kebhinekaan budaya masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari Tuhan YME 
yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa. Sejarah menunjukkan bahwa 
suku-suku bangsa yang mendiami wilayah nusantara ini, dengan keanekaragaman 
budayanya masing-masing, sejak dulu telah saling berhubungan dan 
berinteraksi.
Berdasarkan mengenai visi mengenai masa depan, maka para pemuda dari 
suku-suku bangsa tsb pada tahun 1928 telah mengikrarkan sumpah untuk menjadi 
suatu bangsa dengan menggunakan bahasa persatuan dan bersama-sama hidup di 
satu tanah air.

Dari peristiwa ini terlihat bahwa kebhinekaan budaya  bukan manjadi halangan 
untuk mewujudkan persatuan bangsa. Justru budaya yang beraneka ragam tsb 
justru amapu berhubungan dan berinteraksi satu dengan yang lainnya secara 
selaras dan serasi. oleh sebab itu perlu selalu disadari dan dipahami 
bersama bahwa bangsa Indonesia ini memang bentuk dari suku-suku bangsa yang 
memiliki budaya yang beraneka ragam. Maka langkah utama yang perlu ditempuh 
dalam rangka membangun kehidupan baru bagi bangsa Indonesia di masa depan 
adalah menggunakan salah satu asa dalam konsepsi kemandirian lokal, yaitu 
"pendekatan kebudayaan" sebagai bagian utama dari strategi pembangunan 
masyarakat dan bangsa. Implementasi pendekatan kebudayaan dalam pembangunan 
bangsa diyakini akan dapat menumbuhkan kebanggan pada setiap anak bangsa 
terhadap diri dan budayanya dan pada gilirannya akan menumbuhkan pula 
toleransi dan pengertian akan keberadaan budaya lainnya.
Hal ini merupakan faktor utama perekat persatuan bangsa.

    Para peserta seminar yang terhormat,

    Pada proses reformasi, penyaluran aspirasi politik masyarakat telah 
dapat diakomodasi dalam 48 partai dengan berbagai kebebasan untuk menentukan 
asasnya masing-masing. Pada satu sisi hal ini dapat mencerminkan perwujudan 
demokrasi, akan tetapi pada sisi lain dapat mengarah pada pelanggaran 
terhadap nilai-nilai pancasila. Hal tsb pada akhirnya dapat diselewengkan 
dengnan pembentukan kekuatan-kekuatan dengan memobilisasi kekuatan 
berdasarkan asas masing-masing. Hal ini dapat bermuara pada berkembangnya 
primordialisme sempit berdasarkan agama, etnis ataupun ras san aspek 
kedaerahan lainnya.

    Faktor kemajemukan serta adanya kesenjangan antar daerah yang makin 
menajam, dapat berdampak pada permasalahan di bidang politik, ekonomi, 
sosial budaya dan hankam. Keadaan negara yang berbentuk kepulauan dengan 
berbagai ragam permasalahan akan semakin berbahaya bila faktor luar ikut 
campur tangan memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang ada. Tuntutan pemisahan 
diri daerah tertentu menunjukkan terjadinya benturan kepentingan daerah 
dengan pusat. Disamping itu patut diperhatikan karena 
permasalahan-permasalahan daerah tsb di atas tenyata terjadi disepanjang 
alur laut kepulauan Indonesia (ALKI), yang apabila tidak diwaspadai akan 
mengancam ketahanan nasional kita.

    Ketahanan nasional (national resilience) pada hakikatnya merupakan 
tingkat peradaban (the level of civilition) suatu bangsa yang tidak dapat 
hanya diukur ata dasar parameter kemampuan defence and security, pertumbuhan 
ekonomi dan jumlah pendapatan perkapita suatu bangsa, tetapi juga ditentukan 
oleh kondisi stabilitas politik dan perlindungan HAM, tingkat demokrasi, 
tingkat kemiskinan, kemampuan suatu bangsa untuk memiliki keunggulan 
kompetitif di era globalisasi, kemajuan pendidikan dan sain serta teknologi 
dan sebagainya, yang semuanya sebenernya merupakan jumlah keseluruhan dari 
human and national capabilities.

    Ketahanan (Resilience) harus diartikan dalam kerangka "competency" yang 
mengandung makna menurut Schultz (2005) yaitu makna deals effectively with 
pressure, maintains focus and intensity and remains optimistic and 
persistenteven under adversity, recovers quickly from setback effectively 
balance personal life and work.

    Disamping itu, wawasan nusantara sebagai suatu pendangan geopolitik 
yaitu cara pandang (out look) yang berlingkup nasional untuk memberi arah 
bagi setiap warga negara Indonesia dan segenap komponen bangsa Indonesia. 
Umtuk senantiasa menjaga dan memelihara persatuan bangsa dan kesatuan 
wilayah dari sabang sampai merauke dalam rangka terwujudnya cita-cita 
nasional, sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD negara republik 
Indonesia tahun 1945.
Tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan baik yang berasal dari dalam negri 
maupun luar negri yang berpotensi memecah dan merusak persatuan dan kesatuan 
bangsa yang menjurus kepada diintegrasi bangsa perlu segera diatasi.
Kita harus mengatasi hal ini secara profesional dan proporsional dengan 
menngedepankan persatuan dan kesatuan bangsa serta memposisikan rakyat 
sebagai penikmat kedaulatan rakyat.

    Profesionalisme tidak hanya mengandung nuansa expertise yang memadai 
dari seseorang yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan oleh lembaga 
yang hebat. Tetapi harus disertai karakter semangat altruistik atau 
pengabdian sosial yang tinggi (sense of social responsibility) dan rasa 
kesejawatan (corporateness) dan ketaatan kepada kode etik yang berlaku dalam 
profesinya yang pada akhirnya berlaku positif yang secara teratur diterapkan 
akan menumbuhkan kebiasaan dan karakter yang kondusif untuk mencapai tujuan 
nasional seperti yang diamanatkan.

    Rasa percaya diri (self confidence) seorang pemimpin akan sangat 
dibutuhkan untuk membangun ketahanan nasional masyarakatnya. kehebatan 
seorang pemimpin seperti motivasi untuk maju,bijak, profesional tidak 
sombong, hidup sederhana, jujur (honesty is the first chapter of wisdom), 
sadar akan pentingnya team work, suka bekerja keras (every great achievement 
is the story of flamming heart), berani mengambil resiko secara terukur 
(calculated risk), penuh dengan imajinasi dan selalu menjaga kualitas 
kerjamya serta kesediaan untuk keunggulan seseorang termasuk keunggulan anak 
buahnya, tidak dapat hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga 
melalui proses penghayatan yang empiris mulai dari tahap-tahap (stages); 
mengnenal (acquaintance), menyadari lebih dalam (awareness) kemampuan 
menilai (attitude) dan membentuk perilaku (behaviour).

    Para peserta seminar yang terhormat,

    Selain permasalahan diatas telah terjadi masalah lokal yang dapt mencuat 
keluar dan juga dapat dimanfaatkan oleh kepentingan2 nasional negara lain 
adalah dampak dari permasalahan lama yang belum terselesaikan secara tuntas, 
antara lain manyangkut warisan benturan antara 
spitualisme-feodalisme-sosialisme, latar belakang sejarah dari kelompok2 
sosial dalam masyarakat majemuk serta proses sosial dalam masyarakat majemuk 
serta proses komitmen nasional yang belum disepakati secara menyeluruh, 
seperti benturan etnis yang terjadi di Kalbar, Maluku, mataram serta masalah 
tanah ulayat di timika, sumatra barat dll.

    Bertolak dari pokok2 permasalahan diatas kedepan perlu adanya konsepsi 
untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang sedang kita hadapi antara 
lain melalui :

    a. Pemerataan dan keadilan dibidang sosial dan ekonomi
        Kebutuhan dan tuntuan fundamental pertama yang harus dipenuhi dalam 
menemukan kembali jati diri bangsa adalah masalah pemerataan dan keadilan 
sosial serta ekonomi. untuk itu diharapkan kebijakan pemerintah pusat sampai 
ke pemerintah daerah memerlukan adanya pemerataan pembangunan dan keadilan 
di bidang sosial dan ekonomi.

    b. menciptakan sistem budaya nasional yang mantap
        Jati diri bangsa agar terwujud, membutuhkan filter diri bangsa untuk 
menolak pengaruh budaya negatif baik yang bersumber dari nilai-nilai asing 
maupun dari perkembangan kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Diharapkan 
adnya wadah filter budaya, mampu menyaring nilai-nilai universal mana yang 
dapat diadopsi dan memisahkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan 
kepribadian bangsa yang akan merusak budaya dan jatidiri bangsa.

    Untuk menggugahnya sosialisasi jati diri bangsa diharuskan menjadi 
sebuah "gerakan nasional" dengan melibatkan pemerintah dan seluruh komponen 
bangsa. Mengkampanyekan dan menggugah kesadaran masyarakat akan jati diri 
bangsa yang luhur dengan mengedepankan dan menanamkan nilai-nilai 
nasionalisme dan wawasan nusantara merupakan salah satu pintu sebagai 
fundamental yang penting dan strategis. Dalam pembentukan jati diri bangsa 
ke depan jalur non formal yaitu pendidikan individu dalam keluarga dan 
kelompok merupakan cara efektif selain cara-cara formal dalam lingkungan 
pendidikan nasional. Diharapkan pendidikan nasional Indonesia dapat 
mengenalkan ulang dan memberikan pencerahan mengenai sejarah bangsa 
Indonesia, kebesaran nama pahlawan bangsa, makna pentingnya bela negara dan 
bangsa sebagai bangsa Indonesia.

    c. Kepastian dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan
        Hal mendasar yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia adalah 
ketiadaan kepastian hukum dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan. 
Selama perjalanan reformasi telah banyak hadir UU yang mengatur 
penyelenggaraan pemerintahan dalam upaya untuk membangun bangsa antara alin 
UU nomor 32/2004 tentang pemerintahan daerah. Kondisi obyektif dalam 
implementasinya di lapangan mengalamibanyak hambatan antara lain aturan 
turunan dari UU berupa PP belumwadahi budaya, adat istiadat lokal sehingga 
daerah merasa kebutuhan dan kepentingan masyarakatnya dirasakan sebelum 
terakomodasi.
    Oleh sebab itu dimasa yang akan datang turunan dari UU berupa PP atau 
yang lainnya harus terlebih dulu dilakukan uji materi dengan daerah-daerah 
agar sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat.

    d. Adanya moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan 
bernegara
        Sebagai masyarakatnya yang masih berbudaya paternalistik maka 
kedaulatan setiap pemimpin dalam setiap berfikir, bersikap dan bertindak 
tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara 
diharapkan mampu menjadi tauldan dan panutan yang baik yang mengcu kepada 
nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sebagaimana yangn telah tertuang dalam 
pancasila dan UUD 1945.

    Disamping itu sebagai seorang pemimpin yang memadai di era yang penuh 
tubulemsi perubahan dan globalisasi saat ini paling tidak harus memenuhi 
standard2 sebagai berikut :

*. "change leadership" yang dapat melakukan sinergi positif antara 
"enthusiasism, energy and hope" yang slalu menjaga optimisme, pantang 
menyerah dalam mengejar tujuan, disertai rasa percaya diri di satu pihak 
dengan "moral pupose" understanding change. coherence making, relationship 
building and knowledge creation and sharing" di lain pihak . dalam "culture 
of change" seorang pemimpin akan mengalami atau menikmati ketegangan yang 
merupakan kesatuan dalam beratnya memecahkan masalah. Disitulah sebenarnya 
kebersihan tersebar terletak. "effective leaders make people feel that even 
the most dificult problems can be tackled productively"

*. "global leadership" yangn konsepnya dilandasi oleh keyakinan sosila yang 
komplek dan bersifat global, tifak ada model khusu (singel  model) yang 
cocok terhadap situasi yangs sangat laus mengahdapi seorang pemimpin apapun 
juga. Dalam hal ini paling tidak terdapat 5 karakterisrik yang muncul dalam 
kerangka keopemimpinan global yaitu ;

    a) Thingking globally, yang mengnandung pesan agar pemimpin selalu 
berusaha untuk memahami keaneka ragaman sistem ekonomi budaya hukum dan 
politik sebagai bagian dari warga negara dunia dengan visi dan nilai-nilai 
yang open ended. a home centric view will not be torated. gobal leaders need 
to have a global level when making decisions (think globaly adt locally)

    b) appreciating cultutral diversity diversitas dalam hal ini diartikan 
sebagai diversity of leadership style, indutries style, individual behaviors 
and values race, religion and sex " Hal ini akan merupakan "a key to 
competing successfully in the furure'

    c) developing technologycal savy tanpa hal in mas a depan kemitraan dan 
jaringan global yang terpadu tidak mungkin terjadi

    d) building partnerhip and alliances kepemimpinaan di masa depan akan 
mensyaratkan tim2 kepemimpinan yang kolaboratif setiap tim menguiasai 
pelbagai ketrampilan yang diisyaratkan oleh kepemimpinan global.

    e) Sharing leadership untuk membuat kepitusan2 yang efektif. tidak 
seperti kepemimpinanan individual saat ini seorang pemimpin yang berhasil di 
masa depan akan bergerak secara terintegrasi

Hadirin peserta seminar yang berbahagia.

    Demikianlah sambutan saya semoga dari seminar kita semua dapat memetim 
dan menyerap manfaat hakiki dalam upaya menggugah ulang bahwa kita adalha 
bangsa yang memiliki jati diri.


    Wabillahi Taifikwal Hidayah
    Wassalamu'alaikum WR.WB
    Salam sejahtera bagi kita semua.


Jakarta 8 juni 2006
Gubernur Lembaga ketahanan nasional RI
Prof. DR. Muladi. SH



 


-- 
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 738 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len





More information about the Marinir mailing list