[Marinir] [mediacare] Gub. Lemhanas: "Menemukan Kembali Hakekat & Jati Diri Indonesia"
kinnoyas at centrin.net.id
kinnoyas at centrin.net.id
Mon Jul 3 14:03:15 CEST 2006
Terima kasih Bung informasi yang bagus sekali nich. Bagaimana kabar
disini? Wass.Asmun A. Sju'eib eks pejuang SBY-JK
> Keynote Speech
> Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional RI
> Pada Seminar Reinvesi Keindonesiaan
> "Menemukan Kembali Hakekat dan Jati Diri Indonesia"
> Bandung, Kamis 8 Juni 2006
>
> Assalamu'alaikum Wr. Wb
> Salam sejahtera bagi kita semua
> YTH. Para Sesepuh Pejuang 45
> Tokoh-tokoh Masyarakat dan Agama
> Jajaran Pemerintah Jawa Barat
> Jajaran TNI dan Polri Jawa Barat
> Pimpinan Parpol dan Organisasi Kepemudaan
> Pimpinan LSM dan Media Massa Di Jawa Barat
>
>
> Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat TUHAN YME
> yang
> pada kesempatan kali ini saya diminta untuk berbicara tentang "reinvensi
> keindonesiaan menemukan kembali hakikat dan jati diri Indonesia"
> Mudah-mudahan apa yang akan saya sampaikan bermanfaat bagi bangsa dan
> mendapat ridho dari Allah SWT, amin.
>
> Para peserta seminar yang terhormat,
>
> Sebagai permulaan sambutan saya, saya ingin mengajak anda untuk
> melakukan "flashback" berupa potret keadaan pada peralihan tahun
> 1997-1998.
>
> Sebelum gerakan reformasi/demokratisasi merebak pada tahun 1998,
> persoalan persatuan dan kesatuan bangsa sangat intensif dilakukan dan
> dipelihara. Namun sayangnya modal sosial yang sangat kuat dan tumbuh
> bersama-sama dengan kebangkitan nasional bangsa tsb, dikelola secara
> simultan dengan aspek-aspek kehidupan yang lain dengan pendekatan politik
> yang relatif represif dan mengedepankan stabilitas politik dengan demikian
> persoalan persatuan dan kesatuan bangsa juga menerima imbas negatif di era
> reformasi.
>
> Persoalan-persoalan yang bernuansa separatisme kedaerahan yang sempit
> pada saat itu dapat diredam dengan pendekatan stabilitas politik dengan
> nuansa pembangunan pertumbuhan ekonomi yang secara artifisial cukup
> memuaskan, unutk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) rakyat disertai
> dengan sistem pemerintahan yang sentralistik.
>
> Pada saat terjadinya krisis ekonomi yang dashat pada akhir tahun 1337
> yang pada akhirnya tidak dapat diatasi dan kemudian disusul oleh krisis
> multidimensional akibat sinergi negatif antara krisis ekonomi dan keadaan
> sosial politik yang tidak sehat yang sebenarnya merupakan "api dalam
> sekam"
> maka meledaklah ketidakpercayaan pada penguasa pada waktu itu sehingga
> orde
> baru jatuh dan digantikan oleh orde reformasi.
>
> Salah satu "side effect" runtuhnya orde baru sangat menyedihkan adalah
> berkembangnya sikap skeptis tehadap ideologi pancasila akibat trauma atas
> pendekatan doktriner P4 (eka prasetya pancakarsa) yang menjadikan
> pancasila
> kurang mencerminkan keseimbangan antara moralitas institusional, moralitas
> sosial dan moralitas sipil dan bahkan menjadikan pancasila sebegai
> ideologi
> tertutup di luar penafsiran nilai-nilai yang diformalkan.
>
> Kegamangan tehadap ideologi pancasila tsb menyurutkan makna ideologi
> baik secara perekat persatuan bangsa maupun sebagai sarana untuk
> menumbuhkan
> kepercayaan bangsa lain yang akan berhubungan dengan Indonesia (The
> predictability function of ideology)
>
> Terkait dengan nilai atau sila persatuan bangsa kondisi negatif tsb
> nampak dari pelbagai indikator sebagai berikut :
>
> * Rasa tidak aman/tidak tentram bagi minoritas
> * Munculnya gerakanradikalisme yang tidak jarang disertai dengan
> langkah-langkah anarkhir, kekerasan dan amuk massa
> * Munculnya terorisme, yang dipicu oleh radikalisme dengan
> memanfaatkan
> melemahnya ideologi
> Pancasila
> * Toleransi terhadap perbedaan pendapat sangat lemah
> * Munculnya elemen-elemen separatisme dan kedaerahan/primordialisme
> dengan menafsirkan otonomi daerah sebagai federalisme
> * Pendekatan fragmentatif dalam menghadapi persoalan-persoalan bangsa
> * Ketiadaan atau kelangkaan tokoh panutan
> * Perasaan gotong royong, solidaritas dan kemitraan yang lemah
> * Ketidaksepahaman dalam mensikapi proses globalisasi
> * Iklim investasi yang buruk dan larinya modal asing (FDI) sebagai
> "the
> final aftermath"
> * DLL
>
> Dalam kondisi semacam itu bangsa Indonesia sebenarnya tetap yakin
> bahwa
> persatuan dan kesatuan nasional baik yang bernuansa struktural maupun
> kultural (solidaritas sosial) tetap bisa dipertahankan di negri ini, sebab
> bangsa ini memang didirikan atas dasar falsafah non-primordialisme,
> melainkan atas dasar rasa penderitaan yang sama (sense of common
> suffering)
> akibat penjajahan asing ratusan tahun. Dengan demikian fondasi berdirinya
> bangsa ini adalah pluralisme dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika (unity in
> diversity/pluribus unum).
>
> Semboyan tsb sangat bermakna, karena di dalamnya terkandung
> elemen-elemen : "diversity, unity, harmony, tolerance and peace" hal ini
> tidak hanya bernuansa domestik tetapi juga mondil mengingat pengaruh
> globalisasi yang menjadikan dunia ini sebagai "the global village" yang
> anti
> tehadap segala perilaku diskriminatif.
>
> Berbicara tentang membangun jati diri adalah suatu proses penumbuhan
> dan
> pengembangan nilai-nilai luhur yang terpancar dari hati nurani melalui
> mata
> hati kita, dan direfleksikan melalui sikap, pemikiran dan perilaku.
>
> Mungkin kita selama ini hanya menggunakan cipta dan karsa serta karya
> atau tangan saja, tetapi kedepan kita sudah saat menampilkan olah rasa
> dalam
> membangun jati diri bangsa.
> Pada dasarnya jati diri bangsa dipengaruhi oleh perkembangan sistem
> nilai yang dianut dan dipahami , yang senantiasa berubah secara dinamis
> mengikuti paradigma yang berlaku. Kuhn (1996) menjelaskan pengertian
> paradigma aebagai berikut : Paradigma sebagai suatu himpunan pengertian
> atau
> pendapat yang dapat memberikan penjelasan atau jawaban pada suatu
> pertanyaan
> ilmiah; atau pendefinisian dari suatu anggapan untuk berbagai masalah dan
> metode yang absah; Atau suatu kriteria untuk menetukan permasalahan yang
> dipertanyakan.
>
> Pergantian suatu paradigma dengan paradigma yang baru adalah merupakan
> kejadian ilmiah yang diakibatkan oleh perkembangan/pertumbuhan ilmu
> pengetahuan. DAlam proses perubahan paradigma tsb seringkali terjadi tidak
> berlangsung mulus, kerena selalu terdapat masyarakat pendukung paradigma
> lama dan pendukung paradigma baru.Keadaan ini secara jujur kita rasakan
> dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini yang apabila tidak
> diwaspadai akan mengancam kekokohan persatuan dan keastuan bangsa.
>
> Pada kesempatan yang baik di pagi hari ini, saya ingin mengajak
> seluruh
> komponen bangsa untuk mau menengok kebali semangat kesatuan dan persatuan
> bangsa. Kita menyadari bahwa semangat persatuan dan kesatuan itu memang
> pernah disalahgunakan untuk mengendalikan negara secara otokratik.
> Karenanya
> mari kita kembalikan makna luhur kedua kata itu menjadi niat untuk menjaga
> keutuhan bangunan negara yang kita cintai bersama.
>
> Mengelola kebhinekaan, jangan diartikan sebagai mencabik-cabik dan
> meruntuhkan bangunan negara kesatuan republik Indonesia. Kini saatnya kita
> mengibarkan kembali semangat dan tekad untuk bersatu dari sabang sampai
> merauke kita harus jaga keutuhannya, isinyalah yang kita tata dengan
> menempatkan keanekaragaman yang ada secara proporsional. Jangan pernah
> kita
> biarkan negri ini terpecah berkeping-keping hanya karena menonjolnya
> kepentingan sektorial, kedaerahan dan juga kepentingan kelompok.
>
> Setelah reformasi bergulir delapan tahun yang lalu, baru kita memahami
> bahwa aemua yang dilakukan dulu, sekarang ini menibulkan dampak
> dikalangan
> masyarakat. Rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan dan akhirnya menimbulkan
> dendam adalah fenomena yang kita temukan dikalangna masyarakat saat ini.
>
> Reformasi bukanlah revolusi, bukan pula suatu evolusi. Reformasi adlah
> suatu perubahan yang dilakukan krena kita melihat ada hal-hal dimansa lalu
> yang tidak baik, hal-hal dimasa lalu itu yang tidak benar, hal-hal dimasa
> lalu yang perlu disempurnakan dan harus diperbaiki. Jadi tidak benar kalau
> reformasi adalah penghancuran total secara emosional terhadap hasil-hasil
> di
> waktu yang lalu untuk kemudian dibangunsuatu sistem yang betul-betul tidak
> lagi berbau masa lalu.
> Kalau ini yang dilakkukan maka ini namanya revolusi dan kita akan kembali
> sekian tahun kebelakang dan tentunya akan merugikan kita semua disegala
> aspek kehidupan. Kita mensyukuri sekarang ini masyarakat menyadari
> perubahan
> itu tidak boleh dilakukan dengan emosional, kepentingan sesaat dan bals
> dendam, tetapi lebih pada perubahan yang harus dilakukan secara
> konsesional
> melalui suatu tatanan yang berlandaskan pada suatu rasionalitas sesuai
> dengan kebutuhan dan juga menatap masa depan bangsa Indonesia.
>
> Peserta seminar yang terhormat,
>
> Sebagai bangsa yang merdeka, maka bangsa Indonesia mempunyai cita-cita
> dan tujuan seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yakni adnya
> kehidupan
> yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.
>
> Kebhinekaan budaya masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari Tuhan
> YME
> yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa. Sejarah menunjukkan bahwa
> suku-suku bangsa yang mendiami wilayah nusantara ini, dengan
> keanekaragaman
> budayanya masing-masing, sejak dulu telah saling berhubungan dan
> berinteraksi.
> Berdasarkan mengenai visi mengenai masa depan, maka para pemuda dari
> suku-suku bangsa tsb pada tahun 1928 telah mengikrarkan sumpah untuk
> menjadi
> suatu bangsa dengan menggunakan bahasa persatuan dan bersama-sama hidup di
> satu tanah air.
>
> Dari peristiwa ini terlihat bahwa kebhinekaan budaya bukan manjadi
> halangan
> untuk mewujudkan persatuan bangsa. Justru budaya yang beraneka ragam tsb
> justru amapu berhubungan dan berinteraksi satu dengan yang lainnya secara
> selaras dan serasi. oleh sebab itu perlu selalu disadari dan dipahami
> bersama bahwa bangsa Indonesia ini memang bentuk dari suku-suku bangsa
> yang
> memiliki budaya yang beraneka ragam. Maka langkah utama yang perlu
> ditempuh
> dalam rangka membangun kehidupan baru bagi bangsa Indonesia di masa depan
> adalah menggunakan salah satu asa dalam konsepsi kemandirian lokal, yaitu
> "pendekatan kebudayaan" sebagai bagian utama dari strategi pembangunan
> masyarakat dan bangsa. Implementasi pendekatan kebudayaan dalam
> pembangunan
> bangsa diyakini akan dapat menumbuhkan kebanggan pada setiap anak bangsa
> terhadap diri dan budayanya dan pada gilirannya akan menumbuhkan pula
> toleransi dan pengertian akan keberadaan budaya lainnya.
> Hal ini merupakan faktor utama perekat persatuan bangsa.
>
> Para peserta seminar yang terhormat,
>
> Pada proses reformasi, penyaluran aspirasi politik masyarakat telah
> dapat diakomodasi dalam 48 partai dengan berbagai kebebasan untuk
> menentukan
> asasnya masing-masing. Pada satu sisi hal ini dapat mencerminkan
> perwujudan
> demokrasi, akan tetapi pada sisi lain dapat mengarah pada pelanggaran
> terhadap nilai-nilai pancasila. Hal tsb pada akhirnya dapat diselewengkan
> dengnan pembentukan kekuatan-kekuatan dengan memobilisasi kekuatan
> berdasarkan asas masing-masing. Hal ini dapat bermuara pada berkembangnya
> primordialisme sempit berdasarkan agama, etnis ataupun ras san aspek
> kedaerahan lainnya.
>
> Faktor kemajemukan serta adanya kesenjangan antar daerah yang makin
> menajam, dapat berdampak pada permasalahan di bidang politik, ekonomi,
> sosial budaya dan hankam. Keadaan negara yang berbentuk kepulauan dengan
> berbagai ragam permasalahan akan semakin berbahaya bila faktor luar ikut
> campur tangan memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang ada. Tuntutan
> pemisahan
> diri daerah tertentu menunjukkan terjadinya benturan kepentingan daerah
> dengan pusat. Disamping itu patut diperhatikan karena
> permasalahan-permasalahan daerah tsb di atas tenyata terjadi disepanjang
> alur laut kepulauan Indonesia (ALKI), yang apabila tidak diwaspadai akan
> mengancam ketahanan nasional kita.
>
> Ketahanan nasional (national resilience) pada hakikatnya merupakan
> tingkat peradaban (the level of civilition) suatu bangsa yang tidak dapat
> hanya diukur ata dasar parameter kemampuan defence and security,
> pertumbuhan
> ekonomi dan jumlah pendapatan perkapita suatu bangsa, tetapi juga
> ditentukan
> oleh kondisi stabilitas politik dan perlindungan HAM, tingkat demokrasi,
> tingkat kemiskinan, kemampuan suatu bangsa untuk memiliki keunggulan
> kompetitif di era globalisasi, kemajuan pendidikan dan sain serta
> teknologi
> dan sebagainya, yang semuanya sebenernya merupakan jumlah keseluruhan dari
> human and national capabilities.
>
> Ketahanan (Resilience) harus diartikan dalam kerangka "competency"
> yang
> mengandung makna menurut Schultz (2005) yaitu makna deals effectively with
> pressure, maintains focus and intensity and remains optimistic and
> persistenteven under adversity, recovers quickly from setback effectively
> balance personal life and work.
>
> Disamping itu, wawasan nusantara sebagai suatu pendangan geopolitik
> yaitu cara pandang (out look) yang berlingkup nasional untuk memberi arah
> bagi setiap warga negara Indonesia dan segenap komponen bangsa Indonesia.
> Umtuk senantiasa menjaga dan memelihara persatuan bangsa dan kesatuan
> wilayah dari sabang sampai merauke dalam rangka terwujudnya cita-cita
> nasional, sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD negara republik
> Indonesia tahun 1945.
> Tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan baik yang berasal dari dalam
> negri
> maupun luar negri yang berpotensi memecah dan merusak persatuan dan
> kesatuan
> bangsa yang menjurus kepada diintegrasi bangsa perlu segera diatasi.
> Kita harus mengatasi hal ini secara profesional dan proporsional dengan
> menngedepankan persatuan dan kesatuan bangsa serta memposisikan rakyat
> sebagai penikmat kedaulatan rakyat.
>
> Profesionalisme tidak hanya mengandung nuansa expertise yang memadai
> dari seseorang yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan oleh
> lembaga
> yang hebat. Tetapi harus disertai karakter semangat altruistik atau
> pengabdian sosial yang tinggi (sense of social responsibility) dan rasa
> kesejawatan (corporateness) dan ketaatan kepada kode etik yang berlaku
> dalam
> profesinya yang pada akhirnya berlaku positif yang secara teratur
> diterapkan
> akan menumbuhkan kebiasaan dan karakter yang kondusif untuk mencapai
> tujuan
> nasional seperti yang diamanatkan.
>
> Rasa percaya diri (self confidence) seorang pemimpin akan sangat
> dibutuhkan untuk membangun ketahanan nasional masyarakatnya. kehebatan
> seorang pemimpin seperti motivasi untuk maju,bijak, profesional tidak
> sombong, hidup sederhana, jujur (honesty is the first chapter of wisdom),
> sadar akan pentingnya team work, suka bekerja keras (every great
> achievement
> is the story of flamming heart), berani mengambil resiko secara terukur
> (calculated risk), penuh dengan imajinasi dan selalu menjaga kualitas
> kerjamya serta kesediaan untuk keunggulan seseorang termasuk keunggulan
> anak
> buahnya, tidak dapat hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi
> juga
> melalui proses penghayatan yang empiris mulai dari tahap-tahap (stages);
> mengnenal (acquaintance), menyadari lebih dalam (awareness) kemampuan
> menilai (attitude) dan membentuk perilaku (behaviour).
>
> Para peserta seminar yang terhormat,
>
> Selain permasalahan diatas telah terjadi masalah lokal yang dapt
> mencuat
> keluar dan juga dapat dimanfaatkan oleh kepentingan2 nasional negara lain
> adalah dampak dari permasalahan lama yang belum terselesaikan secara
> tuntas,
> antara lain manyangkut warisan benturan antara
> spitualisme-feodalisme-sosialisme, latar belakang sejarah dari kelompok2
> sosial dalam masyarakat majemuk serta proses sosial dalam masyarakat
> majemuk
> serta proses komitmen nasional yang belum disepakati secara menyeluruh,
> seperti benturan etnis yang terjadi di Kalbar, Maluku, mataram serta
> masalah
> tanah ulayat di timika, sumatra barat dll.
>
> Bertolak dari pokok2 permasalahan diatas kedepan perlu adanya konsepsi
> untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang sedang kita hadapi antara
> lain melalui :
>
> a. Pemerataan dan keadilan dibidang sosial dan ekonomi
> Kebutuhan dan tuntuan fundamental pertama yang harus dipenuhi
> dalam
> menemukan kembali jati diri bangsa adalah masalah pemerataan dan keadilan
> sosial serta ekonomi. untuk itu diharapkan kebijakan pemerintah pusat
> sampai
> ke pemerintah daerah memerlukan adanya pemerataan pembangunan dan keadilan
> di bidang sosial dan ekonomi.
>
> b. menciptakan sistem budaya nasional yang mantap
> Jati diri bangsa agar terwujud, membutuhkan filter diri bangsa
> untuk
> menolak pengaruh budaya negatif baik yang bersumber dari nilai-nilai asing
> maupun dari perkembangan kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Diharapkan
> adnya wadah filter budaya, mampu menyaring nilai-nilai universal mana yang
> dapat diadopsi dan memisahkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan
> kepribadian bangsa yang akan merusak budaya dan jatidiri bangsa.
>
> Untuk menggugahnya sosialisasi jati diri bangsa diharuskan menjadi
> sebuah "gerakan nasional" dengan melibatkan pemerintah dan seluruh
> komponen
> bangsa. Mengkampanyekan dan menggugah kesadaran masyarakat akan jati diri
> bangsa yang luhur dengan mengedepankan dan menanamkan nilai-nilai
> nasionalisme dan wawasan nusantara merupakan salah satu pintu sebagai
> fundamental yang penting dan strategis. Dalam pembentukan jati diri bangsa
> ke depan jalur non formal yaitu pendidikan individu dalam keluarga dan
> kelompok merupakan cara efektif selain cara-cara formal dalam lingkungan
> pendidikan nasional. Diharapkan pendidikan nasional Indonesia dapat
> mengenalkan ulang dan memberikan pencerahan mengenai sejarah bangsa
> Indonesia, kebesaran nama pahlawan bangsa, makna pentingnya bela negara
> dan
> bangsa sebagai bangsa Indonesia.
>
> c. Kepastian dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan
> Hal mendasar yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia adalah
> ketiadaan kepastian hukum dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan.
> Selama perjalanan reformasi telah banyak hadir UU yang mengatur
> penyelenggaraan pemerintahan dalam upaya untuk membangun bangsa antara
> alin
> UU nomor 32/2004 tentang pemerintahan daerah. Kondisi obyektif dalam
> implementasinya di lapangan mengalamibanyak hambatan antara lain aturan
> turunan dari UU berupa PP belumwadahi budaya, adat istiadat lokal sehingga
> daerah merasa kebutuhan dan kepentingan masyarakatnya dirasakan sebelum
> terakomodasi.
> Oleh sebab itu dimasa yang akan datang turunan dari UU berupa PP atau
> yang lainnya harus terlebih dulu dilakukan uji materi dengan daerah-daerah
> agar sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat.
>
> d. Adanya moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan
> bernegara
> Sebagai masyarakatnya yang masih berbudaya paternalistik maka
> kedaulatan setiap pemimpin dalam setiap berfikir, bersikap dan bertindak
> tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
> diharapkan mampu menjadi tauldan dan panutan yang baik yang mengcu kepada
> nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sebagaimana yangn telah tertuang dalam
> pancasila dan UUD 1945.
>
> Disamping itu sebagai seorang pemimpin yang memadai di era yang penuh
> tubulemsi perubahan dan globalisasi saat ini paling tidak harus memenuhi
> standard2 sebagai berikut :
>
> *. "change leadership" yang dapat melakukan sinergi positif antara
> "enthusiasism, energy and hope" yang slalu menjaga optimisme, pantang
> menyerah dalam mengejar tujuan, disertai rasa percaya diri di satu pihak
> dengan "moral pupose" understanding change. coherence making, relationship
> building and knowledge creation and sharing" di lain pihak . dalam
> "culture
> of change" seorang pemimpin akan mengalami atau menikmati ketegangan yang
> merupakan kesatuan dalam beratnya memecahkan masalah. Disitulah sebenarnya
> kebersihan tersebar terletak. "effective leaders make people feel that
> even
> the most dificult problems can be tackled productively"
>
> *. "global leadership" yangn konsepnya dilandasi oleh keyakinan sosila
> yang
> komplek dan bersifat global, tifak ada model khusu (singel model) yang
> cocok terhadap situasi yangs sangat laus mengahdapi seorang pemimpin
> apapun
> juga. Dalam hal ini paling tidak terdapat 5 karakterisrik yang muncul
> dalam
> kerangka keopemimpinan global yaitu ;
>
> a) Thingking globally, yang mengnandung pesan agar pemimpin selalu
> berusaha untuk memahami keaneka ragaman sistem ekonomi budaya hukum dan
> politik sebagai bagian dari warga negara dunia dengan visi dan nilai-nilai
> yang open ended. a home centric view will not be torated. gobal leaders
> need
> to have a global level when making decisions (think globaly adt locally)
>
> b) appreciating cultutral diversity diversitas dalam hal ini diartikan
> sebagai diversity of leadership style, indutries style, individual
> behaviors
> and values race, religion and sex " Hal ini akan merupakan "a key to
> competing successfully in the furure'
>
> c) developing technologycal savy tanpa hal in mas a depan kemitraan
> dan
> jaringan global yang terpadu tidak mungkin terjadi
>
> d) building partnerhip and alliances kepemimpinaan di masa depan akan
> mensyaratkan tim2 kepemimpinan yang kolaboratif setiap tim menguiasai
> pelbagai ketrampilan yang diisyaratkan oleh kepemimpinan global.
>
> e) Sharing leadership untuk membuat kepitusan2 yang efektif. tidak
> seperti kepemimpinanan individual saat ini seorang pemimpin yang berhasil
> di
> masa depan akan bergerak secara terintegrasi
>
> Hadirin peserta seminar yang berbahagia.
>
> Demikianlah sambutan saya semoga dari seminar kita semua dapat memetim
> dan menyerap manfaat hakiki dalam upaya menggugah ulang bahwa kita adalha
> bangsa yang memiliki jati diri.
>
>
> Wabillahi Taifikwal Hidayah
> Wassalamu'alaikum WR.WB
> Salam sejahtera bagi kita semua.
>
>
> Jakarta 8 juni 2006
> Gubernur Lembaga ketahanan nasional RI
> Prof. DR. Muladi. SH
>
>
>
>
>
>
> --
> ----------------------------------------
> I am using the free version of SPAMfighter for private users.
> It has removed 738 spam emails to date.
> Paying users do not have this message in their emails.
> Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len
>
>
>
>
>
>
>
>
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
> Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
> http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/IRislB/TM
> --------------------------------------------------------------------~->
>
> Web:
> http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
>
> Klik:
>
> http://mediacare.blogspot.com
>
> atau
>
> www.mediacare.biz
>
> Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
> mediacare-subscribe at yahoogroups.com
>
> Yahoo! Groups Links
>
> <*> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
>
> <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
> mediacare-unsubscribe at yahoogroups.com
>
> <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
> http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
>
>
More information about the Marinir
mailing list