[Marinir] MEBEDAH KONDISI KEKINIAN INDONESIA
Zaenal Arief
combat at melsa.net.id
Wed Jun 28 05:10:57 CEST 2006
Ulasan beliau ini keliahatannya pas betul, dengan kekinian Indonesia...
----- Original Message -----
From: "Yap Hong Gie" <ouwehoer at centrin.net.id>
To: "Posting X-PPI '77-'87" <X-PPI_Se-Eropa77-87 at yahoogroups.com>; "Posting
Wahana-news" <wahana-news at yahoogroups.com>; "Posting Tionghoa-net"
<tionghoa-net at yahoogroups.com>; "Posting Nasional-list"
<nasional-list at yahoogroups.com>; "Posting Marinir TNI/AL"
<marinir at polarhome.com>; "Posting IndoUsaMil" <IndoUsaMil at yahoogroups.com>;
"Posting Hankam" <hankam at yahoogroups.com>; "Posting FSAB"
<FSAB at yahoogroups.com>; "Post PPIIndia" <ppiindia at yahoogroups.com>; "Post
MediaCare" <mediacare at yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, June 28, 2006 3:56 AM
Subject: [Marinir] MEBEDAH KONDISI KEKINIAN INDONESIA
> MEBEDAH KONDISI KEKINIAN INDONESIA :
> UPAYA MEMAHAMI REALITAS KEINDONESIAAN
> SECARA REALISTIS, OBYEKTIF DAN VISIONER
>
> Oleh :
> SURJADI SOEDIRDJA
>
> Bismillahirrohmaanirrohiim
> Assalamu alaikum Warrahmatullahi wabarakatuuh
>
> Yth Para pejabat sipil dan militer
> Para tokoh masyarakat,
> Peserta seminar dan hadirin sekalian
>
> Kita bersyukur pada Tuhan YME karena atas karuniaNYa kita dapt bertemu di
> tempat ini dalam rangka seminar Nasional "reinvensi keindonesiaan
> menemukan
> kembali hakekkat jati diri Indonesia". Oleh Panitia, kepada saya diminta
> untuk menyampaikan materi dengan topik "membedah kondisi kakinian
> Indonesia
> sebagai upaya memahami realitas keindonesiaan secara realistik, obyektif
> dan
> visioner" Bagi saya topik ini bukan merupakan topik yang mudah karena
> disamping merupakan issue yang cukup sensitif ditengah-tengah pergulanyan
> eksistensi suatu nilai-nilai (Values) sehingga ia menjadi sensitif, juga
> perlu sangat cermat dan hati-hati memilih ukuran-ukuran dalam melihat
> kondisi keindonesiaan itu sehingga dapat dengan mudah kita lihat dan kita
> pahami pokokmasalah yang sesungguhnya.
>
>
> Para peserta seminar yang berbahagia,
>
> Pada tangal 1 Juni minggu lalu kita peringati hari lahirnya Pancasila yang
> merupakan DAsar Negara Republik Indonesia dimana pada saat itu para
> pemimpin
> bangsa tengah mempersiapkan berdirinya Negara Republik Indonesia yang
> direbut dengan perlawanan anak-anak bangsa dalam suatu perjalanan yang
> sudah
> sangat panjang, hingga ukuran abad. Dengan berdirinya Negara Republik
> Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 agustus 1945, sehari kemudian
> pada
> tanggal 18 agustus 1945 ditetapkan UUD 1945 dan ditegaskan PAncasila
> sebagai
> Dasar Negara yang ditetapkan dalam Pembukaan UUD 1945. Dan gambaran itu
> sangt jelas bahwa bangsa Indonesia seudah sepakat berdiri sebagai suatu
> bangsa yang berdasarkan PAncasila. Dari gambaran proses itu juga terlihat
> bahwa para pendiri Negara telah begitu mempersiapkan arah tujuan kita
> berbangsa dan bernegara. Sebagai perbandingan dapat saya sampaikan bahwa
> beberapa negara di dunia yang telah merdeka baru memiliki konstitusi atau
> dasra negaranya beberapa tahun kemudian seperti misalnya India yang
> memiliki
> konstitusi 2 tahun kemudian setelah kemerekaannya bahkan Amerika juga baru
> memiliki konstitusi beberapa tahun kemudian setelah kemerdekaanya.
>
>
> Sdr-sdr sekalian,
>
> Ketika gagasan akan re-invensi Indonesia ini diangkat kita membayangakan
> bahwa munculnya gagasan ini antara alin karena perkembangan kondisi
> kebangsaan kita yang diantaranya perlu menjadi perhatian kita semua.
> bebarapa alasan pokok disamping karen fakta globalisasi dapat saya
> sampaikan
> yaitu:
>
> Pertama, adanya ekses kebijakan desentralisasi yang muncul dalam
> bentuk-bentuk yang potensial melemahkan hubungan antara pemerintah puat
> dan
> daerah, ethno-nationalism, maupun ynag dapt melemahkan kohesi sosial
> ditengah-tengah masyarakat;
> Kedua, ekses kebebasan yang sebeas-bebasnya, euforia dalam berdemokrasi
> yang
> melemahkan persatuan nasional
> Ketiga, hubungan antara negara dan warga negara yang berada pada fase
> transisi demokrasi, ditandai dengan kebijakan pemerintah yang dihasilkan
> serta reaksi masyarakat atas berbagai kebijakan tsb
>
> Merupakan kenyataan nahwa telah terjadi perkembangan dan perubahan di
> negara
> kita. Kondisi LIngkungan strategis internasional yang dikenal dengan
> globalisasi telah cukup lama dicoba untuk diwaspadai sejak sekitar tahun
> 1992-an sampai tahun 1996 serta semakin diwaspadai pada sekitar tahun 2003
> akan adanya perdangangan bebas asia dan pada akhirnya tidak dapat lagi
> kita
> elakkan perdagangan bebas asia di tahun 2010. Gambaran ini semakin
> memberikan isyarat kepada kita untuk semakin kokh berpegang pada
> nilai-nilai
> jatidiri Indonesia. Beberapa perkembangan dan perubahan yang dapat kita
> tarik sebagai pelajaran meliputi aspek atau ukuran-ukuran berikut ini :
>
> Pertama, dalam sistem politik, kenyataan yang kita saksikan ialah bahwa
> kekuasaan diperoleh elit Politik dengan sistem perwakilan dan terjadi
> rekayasa antara lain Money politics, nepotisme dan pemanfaatan masa
> mengambang (Floating mass). Gambaran yang demikian membawa akibat yang
> kurang sehat dalam aktualisasi kehidupan politik seperti para
> politisi/legislator, partai politik maupun para penguasa, sehingga yang
> muncul ahila gejala power seeking politican.
>
> Kedua, pada aspek hukum, gejala yang muncul ialah hukum yang
> diinterpretasikan menurut kepentingan kelompok dan kebutuhan untuk
> legitimasi kekuasaan, beberapa gejala yang muncul juga berupa aplikasi
> hukum
> yang telah memicu fragmentasidi tengan masyarakat. Beberapa konsep
> kebijakan
> publik pada kenyataannya telah menstimulir fragmentasi masyrakat. Masih
> ada
> juga maslah-masalah HAM yang oleh masyarakat dianggap tidak tuntas.
>
> Ketiga, Orientasi Kebijakan Ekonomi pada beberapa aspek kurang dirasakan
> berpihak pada masyarakat seperti kasus BBM, listrik, air bersih, pupk, dan
> sebagainya. Juga masih ada kekawatiran akan KKN dengan "Crony Capitalist"
> lama maupun baru. Justifikasi kebijakan ekonomi yang sangat penting
> seperti
> misalnya berkaitan dengan sumberdaya alam, bekum sepenuhnya dipahami oleh
> masyarakat dan mengandung berbagai interpretasi masyarakat.
>
> Keempat, Sikap Masyarakat Terhadap Pluralisme memiliki ruang yang makin
> sempit, dimana ada potensi gangguan Pluralisme di tengah masyarakat, baik
> dalam bentuk kebijakan untuk penyeragaman ataupun dalam bentuk-bentuk
> kebijakan yang kurang menunjang tumbuhnya diversifikasi budaya, kebijakan
> pembatasa dan lain-lain.
>
> Kelima, Perimbangan "kekuasaan" antara Pusat-Daerah, dengan indikasi masih
> adanya gejala desentralisasi kekuasaan pusat, antara lain dalam bentuk
> kebijakan keuangan, kebijakan sektoral ataupundalam bentuk prilaku partai
> yang sentralistik, misalnya dalam penetuan daftar calon anggota
> legislative,
> daftar calon dalam pilkada dll
>
> Keenam, Orientasi Sistem Pendidikan yang masih mengandung doktriner
> feodalistik, kurikulum yang seragam dan kaku (Teacher Centees
> Uncontrollled
> Individualisme), serta belum berkembangnya muatan lokal.
>
> Ketujuh, Sikap terhadap idoelogi gender, diaman peran domestik perempuan
> yang dilegitimasi oleh penguasa dan pengembangannya secara seragam serta
> mobilisasi perempuan untuk kepentingan tertentu apakah untuk program
> pemerintah, program gerakan social kemasyarakatan, persyarakatan Pinjaman
> Luar Negri dan sebagainya.
>
> Kedelapan, Respon Masyarakat Terhadap Globalisasi yang cukup bervariasi
> dan
> masih terdapat indikasi mendukung atau menolak globalisasi dari kelompok
> masyarakat misalnya petani, nelayan dan sebagainya dan disisi lain
> dihadapkan pada semakin deras masuknya kelompok-kelompok profesional asing
> ke tanah air seperti penasihat hukum, akuntan, tenaga medis dan
> sebagainya.
> Globalisasi belum direspons dalam bentuk persiapan diri untuk
> berkompetisi.
>
> Kesembilan, Sikap Pemerintah Terhadap Agama dalam bentuk jargon-jargon
> agamis untuk legitimasi kebijakan pemerintah juga masih dirasakn dan
> menstimulir fragmentasi respons di tengah masyarakat.
>
> Kesepuluh, Praktek Demokradi Masyarakat berlangsung melalui Partai Politik
> yang pada kenyataanya tidak melakukan pendidikan politik rakyat
> sebagaimana
> mestinya. selain tiu juga muncul Pers Partisan (Pers yang mendukung elit
> politik tertentu). Pers juga kadang-kadang mucul sebagai corong
> pemerintah,
> sehingga secara keseluruhan demokrasi tidak dimengerti oleh rakyat
> sebagaimana mestinya, Disisi lain juga terindikasi keadaan dimana pers
> menjadi tempat penyampain aspirasi dan permasalahan masyarakat.
>
> Kesebelas, Posisi Tawar Masyarakat Dalam Pemerintah, muncul dengan gejala
> kekuasaan beroperasi melalui wacana, pendefinisian realitas, dan
> penciptaan
> symbol-symbol suasana atau citra. Pemerintah juga belum dalam posisi
> memberikan pelayanan pada masyarakat. Masih terindikasi gejala
> foedalistik,
> dimana penguasa lebih ingin dihormai daripada melayani. Lebih parah lagi,
> birokrasi pemerintah bahkan muncul dengan gejala rent-seeking bureucracy.
> Disisi lain, keberadaan LSM yang bersifat lintas negara dengan segala
> kegiatannya berlangsung di tanah air dan memberi pengaruh pada
> masyarakat,
> sehingga peluang masyarakat berkembang atas jatidirinya juga dapat semaki
> berkurang.
>
> Para peserta seminar yang berbahagia
>
> Gambaran persoalan yang saya ungkapkan itu secara keseluruhan mengandung
> muatan jatidiri bangsa yang harus dipertahankan, dikedepankan atau justru
> harus menjadi patokan bagi kita untuk mengatasinya. Pancasila sebagai
> dasar
> negara yang merupakan jati diri bangsa dengan unsur-unsur Ketuhanan,
> Persatuan, Permusyawaratan dan Keadilan sosial juga cukup jelas
> bersentuhan
> dengan persoalan-persoalan aktual tsb.
>
> Persoalan selanjutnya adalah bagaimana aktualisasi penguatan jati diri tsb
> dilaksanakan agar jati diri tetap tertanam dan relevan sepanjang kehidupan
> berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia. Tak ada pilihan lain bagi bangsa
> Indonesia untuk tetap eksist sebagai suatu bangsa yaitu harus eksist
> dengan
> nilai dasar Pancasila. Menjadi kewajiban kita semua untuk
> mengaktualisasikan
> dan melaksanakannya secara konsekuen dan konsisten. Juga penting untuk
> dapat
> dilakukan langkah-langkah berikut :
>
> Pertama, pertegas dan terus menerus diingatkan Pancasila sebagai dasar
> negara oleh semua elemen kepemimpinan, mulai dari kepemimpinan negara dan
> pemerintahan, sampai pada kepemimpinan di tengah masyarakat.
>
> Kedua, pelaksanaan nilai-nilai dengan keteladanan para pemimpin di
> berbagai
> unsur dan strata kepemimpinan
>
> Ketiga, penyegaran secara terus menerus akan makna nilai-nilai dasar
> Pancasila dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
>
> Keempat, penyemaian bagi generasi muda dari format individual sampai pada
> kelompok-kelompok di masyarakat, mulai dari upaya formal (di
> sekolah-sekolah) sampai pada upaya non formal, dalam kehidupan keseharian.
>
>
> Akhirnya, saya mengajak semua yang hadir di sisni khususnya generai muda
> untuk bisa melihat secara jernih semua persoalan kebangsaan yang kita
> hadapi
> dan mari kita ikut memberikan kontribusi secara tepat dalam
> penyelesaiannya
> untuk kepentingan bangsa dan negara.
>
> Sekian,
> Wassalamu alaikum Warrahmatullahi wabatukatuuh.
>
> Jakarta, 8 Juni 2006
>
>
> --
> ----------------------------------------
> I am using the free version of SPAMfighter for private users.
> It has removed 684 spam emails to date.
> Paying users do not have this message in their emails.
> Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len
>
>
>
> _______________________________________________
> Marinir mailing list
> Marinir at polarhome.com
> http://www.polarhome.com/mailman/listinfo/marinir
>
More information about the Marinir
mailing list