[Marinir] Arti Diskriminasi & Nurani - Re: Imlek Momentum Kesetiakawaan Sosial
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Tue Feb 27 19:32:15 CET 2007
Pak Asmun dan rekan-rekan milis,
Walaupun topik ini tidak ada hubungannya dengan milis Marinir, dengan
melakukan cross-posting saya ingin membagi (dua) pendapat yang saling
bertentangan seputar etnis Cina, yang polemiknya semakin tajam, diantara
kedua wanita ini.
Wassalam, yhg.
---------------
--- In tionghoa-net at yahoogroups.com, "Karang Terjal"
<terjal.karang at ...> wrote:
>
> Ny. Becky yg terhormat,
>
> Apa yg telah anda perbuat buat bangsa dan negara ini, baik dalam skala
> nasional dan international?
Saya menjadi warga negara produktif dan membayar pajak. Saya adalah 1
dari 4 juta WP yang benar2 membayar pajak.
> Jangan pernah mengatakan diskriminasi yg terjadi di Indonesia adalah
> mitos. Bila anda tidak pernah mengalaminya berkat materi yg anda punyai
> atau berlindung dibawah ketiak orang tua shg terbebas dari diskriminasi,
> bukan berarti diskriminasi tdk pernah terjadi di bumi pertiwi ini.
Diskriminasi yang suka diumbar kaum Tionghoa tsb adalah lebih bersifat
mitos ketimbang fakta.
Indonesia lain dengan Malaysia, di negara jiran tsb diskriminasi
adalah riil - tidak seperti di Indonesia. Di Malaysia, Cina benar2
disembelih tahun 1969, dan sampai kini diperas karena mereka Cina, dan
dilegalisir UU mereka.
Tapi kalau disuruh bertukar tempat, Cina Malaysia tidak mau pindah ke
Indonesia; mengapa ? Karena Indonesia di mata mereka tidak semakmur
Malaysia, bukan karena diskriminatif terhadap Cina.
Saya memang merasa tidak didiskriminasi, bukan karena materi atau
perlindungan ketiak bapak-ibu saya - tapi karena memang diskriminasi
itu tidak ada.
SBKRI ? Tidak masalah. Waktu Soeharto menawarkan jalur ekspres, bapak
saya antri pertama dan membawa pulang 6 buah SBKRI untuk sekeluarga.
Tanpa biaya mahal2, tanpa susah-payah - apalagi seperti cerita2 seram
yang katanya habisin tabungan berpuluh juta.
Kata orang tua saya, asalkan surat2 lengkap dan ngga malas ngurus.
Makanya jangan remehkan surat2, sembarang simpan atau tidak mau urus
sama sekali, lalu salahkan orang lain dan aparat.
Waktu SMA, sekolah saya adalah melting pot - semua suku : Jawa, Sunda,
Batak, Padang dll terepresentasi di sana. Kami suka bergelut dan
saling mengejek. Dari membaca sketch seperti 'Mati Ketawa Cara Rusia'
dan tumpukan 'MAD Magazine', kami belajar menertawakan ethnic jokes.
Sahabat terbaik saya adalah gadis Jawa yang bapaknya ngotot menamai 8
orang anak2nya dengan urut abjad. Saat libur tengah semester, saya
tidak punya duit untuk beli tiket pulang kampung, saya tidur di
rumahnya. Saya masih menyimpan foto rame2 yang meniru pose 'united
colors of benetton'.
Saya belajar keras untuk beasiswa ke Inggris. Berkat bocoran kakak
teman sekelas yang bersekolah di sana, saya tahu saya punya 3
kelebihan yaitu : 'tidak mampu', 'perempuan' dan 'dari negara dunia
ketiga'; plus melamar ke universitas yang sedang memberi peluang pada
murid dengan 'kelebihan' seperti saya.
Itu semua adalah kombinasi dari kerja keras, strategi yang tepat dan
keberuntungan. Saya boleh miskin, cuma perempuan dan dari negara yang
dianggap unfortunate - tapi saya berhasil memanfaatkan ketiga faktor
tsb. Hidup adalah soal pilihan, apakah menyerah pada keadaan atau
menjadikan kelemahan sebagai peluang.
Teman2 Cina saya di SMA banyak yang masuk UGM, dan bahkan ada yang
mendapat beasiswa dari BPPT. Mereka dapatkan itu dengan kerja keras,
sama seperti teman2 yang pribumi.
Bukan cuma kerja keras tapi juga strategi, guru2 kami memang
menggembleng kami untuk masuk Universitas Negeri top. Mereka sudah
biasa melihat soal2 UMPTN, juga mengerti peta kompetisi dengan SMA2
lain, jurusan2 favorit dan jumlah peminatnya, dan yang terpenting -
mengerti benar kelebihan dan kekurangan anak didiknya.
Saya tadinya mau memilih Fak. Ekonomi UGM, menurut guru saya peluang
saya tipis - karena peminatnya membludak, dan kemampuan menghapal saya
tidak top-notch. Karena Matematika saya bagus, saya disuruh ambil
FMIPA sebagai pilihan pertama, persaingannya juga lebih sedikit - yang
penting masih UGM, dan saya suka bidang itu juga. Nasihat yang jitu,
saya berhasil lolos. Saya adalah orang ketiga yang berhasil diterima
UGM dalam keluarga, setelah kakak dan kakak ipar saya, keduanya Cina.
Sayangnya UGM harus saya lepas, karena ke London adalah impian saya.
Di kelas saya saja, 12 orang diterima di UGM, dan hanya 6 orang yang
tidak diterima di Universitas negeri. Semua yang beretnis Cina diterima.
Sampai saya lulus S2 - didapat dalam rentang 12 tahun putus-sambung
sambil bekerja serabutan, prinsip hidup saya hanya satu : bahwa hidup
adalah perjuangan, there is no such thing as freeloading and free lunch.
Dalam dunia dan hidup yang keras; semua rengekan diskriminasi : SBKRI,
olokan Cina loleng, pemaksaan ganti nama, penjatahan kursi universitas
dan lowongan pegawai negeri dsb dsb - adalah self-indulgence yang
contra-productive. Mengeluh saja, dan lupa berusaha.
Negara mana yang social interactionnya sama sekali tidak ada unsur
racism ? Negara mana yang public servicenya 100% free dari
discrimininatory action ? Enam tahun tinggal di Inggrispun, saya
sebagai yellow trash tetap mengalami harus mengalah pada roughneck
dalam pelayanan kesehatan, administrasi dan loans.
Masalahnya, kita ngerti ngga membedakan diskriminasi oleh negara
dengan perbuatan oknum ? Kalau oknum, apa kita boleh bilang Inggris
itu diskriminatif, Perancis itu diskriminatif, Indonesia itu
diskriminatif ?
Soal SBKRI, ngerti atau tidak - apa yang melatar-belakanginya ?
Mengapa tidak pernah menyalahkan RRC yang mengubah ius soli menjadi
ius sanguinis ? Mengapa tidak pernah menyalahkan Zhou En-Lai ?
Mengapa tidak menyesalkan orang tua malas mengurus dan menyimpan surat2 ?
Mengapa tidak salahkan diri sendiri malas mengurus dan pilih pakai calo ?
Sebelum menebar kata diskriminasi, sudah ngerti belum arti kata
diskriminasi ? Kalau dipanggil Cina loleng saja sudah merasa
didiskriminasi, bener2 malu2in.
> Minggu lalu, Metro TV menampilkan para pahlawan bulu tangkis yg telah
> mengharumkan nama Indonesia di dunia international, dan dengan jelas
> menyatakan bahwa mereka pernah didiskriminasi di bumi pertiwi ini dan
> meminta agar diskriminasi dihapuskan, anda yg seenak perut saja
> melecehkan para pahlawan tersebut dgn mengatakan diskriminasi di sini
> adl mitos.
Adanya pahlawan bulutangkis beretnis Cina hanya bisa membuktikan satu
hal yaitu tidak ada diskriminasi di dunia bulutangkis Indonesia.
Lucu ya, apa anda pikir bahwa para pahlawan itu bisa nongol begitu
saja dari nowhere, kalau bukan karena ada sistem di Indonesia yang
melakukan seeding terhadap mereka, menanggung biaya berlatih dan
membayarkan standard minimum uang saku dan biaya pendidikan mereka,
yang membayarkan tiket dan uang pendaftaran ikut turnamen, yang
mengizinkan mereka membawa bendera Indonesia - dari saat mereka2 ini
belum menjadi bintang, masih keroco2 sampai menjadi juara All England,
juara dunia, juara Olympiade dsb dsb ?
Heh.. dan mengapa kesempatan itu jatuh ke Hendrawan atau Imelda
Kurniawan yang bermata sipit, bukan putra Aceh atau Ambon asli ?
Itu adalah bukti konsep merit masih berjalan, dan putra-putri berbakat
diberi kesempatan apapun etnisnya.
Dan akhirnya mereka itupun dijadikan corong pihak2 yang ingin
mengobar2kan soal diskriminasi, untuk mendiskreditkan pemerintah. Soal
SBKRInya Hendrawan misalnya, dikutip terus-menerus - padahal bertahun2
tanpa SBKRI itu dia toh bisa masuk universitas, bisa punya paspor,
bertanding di LN dan jadi juara bulutangkis bahkan jadi top eksekutif
di Top One. Asal dia ngomong saja, tidak kurang Megawatipun ikut sibuk
soal SBKRInya.
Well, well, luar biasanya penderitaan akibat didiskriminasi itu ya ?
Kurang apa pelayanan negeri ini termasuk Presiden terhadap para
pahlawan bulutangkis itu ya ?
> Jangan sampai kehilangan nurani, Ny Becky yg terhormat..
Ini sudah kedua kalinya, anda menyebut saya 'kehilangan nurani'. Saya
tidak mengerti apa maksud kalimat anda tsb ? Jangan2, bukan hanya anda
tidak memahami arti kata diskriminasi, anda juga tidak memahami apa
arti nurani.
Atau anda hanya netter seperti yang dikatakan Prof BH. Jo. Yang gemar
memakai kata 'Yth', lalu melakukan penyerangan terhadap pribadi.
Menurut sang Prof, netter seperti anda ini merusak kualitas milis.
Hanya karena saya tidak setuju pada keadilan Mei '98 versi anda, anda
mencap saya tidak punya nurani.
Kejadian Mei 98 sudah lewat hampir 9 tahun. Kalau tujuan penegakan
keadilan itu adalah 'supaya Mei '98 tidak terulang'; bagi saya itu
sudah tercapai tanpa penegakan keadilan. Bangsa ini sudah belajar dari
krisis kepercayaan, kesulitan ekonomi, kebangkrutan dan alienasi
internasional akibat kerusuhan tsb; dan telah membayar ongkos2nya.
Siapa yang bertanggung-jawab atas kerusuhan Mei '98 ? Saya tidak tahu
jawabannya. Menurut saya, semua itu adalah ongkos perubahan bangsa ini
ke alam demokrasi. Dan sepanjang hampir 1 dekade pasca Mei '98,
berkali2 kita mengalami peristiwa2 dahsyat : Tragedi Semanggi,
kerusuhan Sampit, kerusuhan Ambon, kerusuhan Poso, kerusuhan Aceh,
Bom Bali 2x dan berkali2 bencana alam : Tsunami Aceh, Gempa Yogya,
Gn. Merapi, tanah longsor, banjir bandang Jakarta. Belum lagi yang bikinan
manusia kayak lumpur Lapindo dan segala macam kecelakaan pesawat,
kereta api dan kapal laut.
Well, di atas semua itu, tragedi Mei '98 buat saya kedengaran benar2
usang. Sama kayak di abad XX, apakah kita masih mau persoalkan letusan
gunung Krakatau ?
Hari ini, jika anda tanya saya, kehilangan nurani itu apa, coba
jelaskan rasionalitasnya mengapa penghuni Perumtas di Sidoarjo yang
rumahnya kerendam lumpur 3 meter sampai ngga mau dibayar Lapindo
Brantas Inc. gara2 lokasinya tidak ada dalam rekomendasi Tim
Penanggulangan Lumpur Sidoarjo ?
Kalau suruh saya protes pada pemerintah, saya mau menanyakan mengapa
hal sesimple ini kok pengurusannya bertele2, mengapa warga Perumtas
itu sama sekali tidak segera dilindungi dan dijamin haknya ?!
Ingat, saya tidak pernah menyatakan bahwa tragedi Mei '98 tidak perlu
diusut - saya hanya bilang kaum Tionghoa tidak perlu mendesak, dan
tidak perlu menyebut tragedi itu sebagai eksklusif Tionghoa.
Dan terus mendesak dan mengungkit2 soal Mei '98 di atas semua tragedi,
kesusahan dan berbagai PR keadilan yang lebih relevan dan urgent bagi
pemerintah adalah bukti tipisnya solidaritas dan kesetiakawanan sosial
kaum Tionghoa terhadap berbagai macam masalah bangsa.
Kalau Tionghoa2 mau bikin tugu peringatan Mei '98 di depan
Lindetteves, saya juga tidak tahu apakah tugu itu akan dipasangi hio
wangi sepanjang tahun atau justru diludahi oleh orang2 yang marah
dengan eksklusifisme dan kejahatan2 yang dilakukan sebagian orang
Tionghoa.
BK
============================
http://groups.yahoo.com/group/tionghoa-net/message/52901
Ny. Becky yg terhormat,
Apa yg telah anda perbuat buat bangsa dan negara ini, baik dalam skala
nasional dan international?
Jangan pernah mengatakan diskriminasi yg terjadi di Indonesia adalah mitos.
Bila anda tidak pernah mengalaminya berkat materi yg anda punyai atau
berlindung dibawah ketiak orang tua shg terbebas dari diskriminasi, bukan
berarti diskriminasi tdk pernah terjadi di bumi pertiwi ini.
Minggu lalu, Metro TV menampilkan para pahlawan bulu tangkis yg telah
mengharumkan nama Indonesia di dunia international, dan dengan jelas
menyatakan bahwa mereka pernah didiskriminasi di bumi pertiwi ini dan
meminta agar diskriminasi dihapuskan, anda yg seenak perut saja melecehkan
para pahlawan tersebut dgn mengatakan diskriminasi di sini adl mitos.
Jangan sampai kehilangan nurani, Ny Becky yg terhormat..
Salam,
Karang Terjal
More information about the Marinir
mailing list