[Marinir] Penjelasan Dankormar Tentang Kasus Grati 02-06-'07
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Wed Jun 6 19:35:53 CEST 2007
KORPS MARINIR
DINAS PENERANGAN
Sabtu 2 Juni 2007
PENJELASAN DANKORMAR TENTANG KASUS GRATI
Pemberitaan mengenai insiden penembakan di Grati - Pasuruan dirasakan
sudah semakin tidak seimbang, dimana pihak-pihak yang sama sekali tidak
menguasai tragedi tersebut ikut memberikan (dis-)informasi, pendapat, serta
menyampaikan opini keliru kepada masyarakat.
Tanpa mengurangi rasa keprihatinan yang mendalam atas jatuhnya korban, juga
bukan maksud untuk mempengaruhi proses hukum yang sedang berjalan, namun
kami merasa perlu menyampaikan kepada publik fakta-fakta yang terjadi,
bedasarkan hasil investigasi Korps Marinir.
1. Marinir sebenarnya tidak ada kaitan apa-apa dengan masalah pekerjaan
lahan. Lahan itu luas sekali, ada sekitar 5.569 hektar.
Jadi Marinir sebenarnya tidak mengerti soal adanya kerja sama yang seperti
apa dan lain-lain. Marinir hanya, bagaimana mereka yang ada di Puslatpur
Grati itu menyelenggarakan latihan-latihan terhadap pasukan yang dikirim ke
sana.
2. Marinir setiap hari memang mengeluarkan patroli pengamanan sektor.
Tujuannya mengontrol agar rakyat tidak terus menyerobot masuk ke daerah
latihan. Mereka itu sering menyerobot dan membuat bangunan-bangunan baru di
atas tanah-tanah yang jelas-jelas itu milik TNI AL. Dan itu adalah area dari
pusat latihan tempur. Juga mengontrol wilayah jika ada masyarakat yang
menemukan granat, menemukan peluru mortir yang belum meledak, ada yang
busung. Dan juga kadang-kadang mencegah karena rakyat juga sering-sering
menebang pohon, ambil kayunya yang ada di Puslatpur, padahal pohon-pohon
itu dipelihara untuk latihan untuk berlindung dan sebagainya.
3. Jadi Marinir tidak melakukan bantuan kepada pihak manapun, kepada
pihak swasta, misalnya itu yang sedang menggarap wilayah lahan Grati. Sebab
kalau ada maksud untuk membantu seperti itu, tentu mereka datang dengan
truk. Lho terus ngapain harus jalan kaki sejauh itu, sedangkan pada kejadian
ini Marinir hanya melaksanakan patroli rutin, karena memang setiap hari
mereka itu patroli. Tapi rutenya berubah-ubah. Jadi patroli berjalan kaki.
Sedangkan pada kejadian ini, mereka baru tiba di tempat itu setelah berjalan
lebih kurang 4 km, selama 2 jam berjalan. Jadi ini suatu fakta, tidak ada
kita mau bantu, apakah katanya Citra Rajawali, Grati Agung, enggak ada
urusan dengan itu semua. Marinir hanya jalan, patroli hanya untuk melindungi
wilayah itu dari tadi yang saya katakan, ada yang menebang pohon, ada yang
membangun bangunan-bangunan baru di wilayah lahan-lahan latihan. Itu khan
membahayakan.
4. Perlu diketahui sebenarnya hubungan Marinir dengan anggota masyarakat
selama ini cukup dekat. Mereka ceritakan, seminggu sebelum kejadian itu,
mereka datang ke Alastlogo karena ada undangan Kepala Desanya, Pak Ilham.
Khitanan anaknya, kalau tidak salah. Dan juga sebagian anggota itu tinggal
di sekitar Grati itu, berada di sekitar Grati, dan keluarganya juga ada yang
tinggal di sekitar atau dekat dengan Alastlogo. Jadi mereka ini adalah
orang-orang yang ada di sana, yang memiliki hubungan emosional dengan
masyarakatnya.
5. Seperti yang sudah dijelaskan pada beberapa kali dalam memberikan
keterangan bahwa, patroli Marinir tidak di tempat kerumunan massa. Jadi
setelah mereka jalan selama 2 jam, mereka tiba di tempat kerumunan massa di
batas desa Alastlogo. Dengan tidak merasa curiga apa-apa, Komandan Tim
Letnan Budi Santoso itu dengan beberapa anggota datang, merapat, mendekati
masyarakat, membujuk mereka, buat apa bikin demo, khan kelihatan dari usaha
mereka mau demo. Nyatanya usaha ini berhasil, sebagian buyar, ada yang
pulang. Namun belum ada sepuluh menit kira-kira hal itu terjadi, seperti ada
yang mengomando, mereka mulai menyerang, memukul kentongan, teriak-teriak,
melempari batu ke arah Marinir. Patroli Marinir ini menghindar dengan cara
mundur dan menjauhi tempat tersebut tapi terus dikejar, bahkan ada yang mau
membacok dengan clurit. Orang yang membacok itu jelas diceritakan oleh
anggota kita yang namanya Koptu Totok, orang itu menutup mukanya dengan
sorban putih. Dia membacokkan cluritnya dari belakang. Setelah diteriaki
oleh teman lainnya, itu dapat ditepis dengan menangkis dengan popor. Inilah
kondisinya. Jadi anggota saat itu memar-memar, ada yang sudah berdarah di
bagian pelipisnya, ada yang memar di lehernya kena batu, ada yang kakinya
bengkak, tangan lain-lain di tubuh mereka. Ini semua jelas dan sudah
dilakukan visum serta pemeriksaan.
6. Anggota melakukan tembakan peringatan atas perintah Komandan Tim. Itu
tembakan ke atas pada mulanya. Diharapkan massa itu yach berhenti untuk
mengejar mereka, tapi nyatanya massa yang sudah lebih dari 300 orang itu
terus menyerang dengan berani, dan ada yang meneriakkan di dalam rombongan
itu, " Jangan takut, itu peluru bohong, itu peluru hampa, serang terus,
jangan takut, kita atau Marinir yang mati!!" Jadi mereka meneriakkan
kalimat-kalimat yang heroik begitu. Nah melihat kondisi inilah, untuk bisa
meyakinkan massa yang terus maju dengan rapat, terus melempari,
mengacung-acungkan clurit, parang, maka ada beberapa anggota yang menembakan
senjatanya ke tanah. Mereka tembakkan ke tanah di sekitar tempat mereka
dengan model dopping. Khan ada latihan model dopper. Perlu diketahui
Marinir-Marinir di Puslatpur ini sebagian besar adalah pelatih-pelatih yang
sering melayani latihan pasukan. Jadi mereka itu bisa bertindak sebagai
Dopper yang menembakkan peluru ke tanah sehingga terjadi kebulan-kebulan
tanah atau debu yang memperlihatkan bahwa itu bukan peluru bohongan, itu
bukan peluru hampa. Jadi inilah yang kami duga dari akibat mereka tembak ke
tanah. Setelah belakangan kita sinyalir bahwa tanah di situ banyak batunya,
bebatuan, dari situ terjadi rekoset sehingga ada yang mengenai masyarakat di
sekitar tempat kejadian.
7. Akibat tembakan yang rekoset inilah sebenarnya terjadinya korban, dan
setelah jatuhnya korban mereka baru berhenti dan mundur. Rasanya tentang
penjelasan rekoset ini bisa dibuktikan dari beberapa hasil rontgen terhadap
korban yang kemarin ditayangkan di TV dan tadi juga ditayangkan di TV bahwa
proyektil yang ada di tubuh korban adalah serpihan, adalah peluru-peluru
atau proyektil yang tidak utuh. Nah inilah yang menunjukkan bahwa bukan
peluru-peluru yang ditembakkan langsung, jadi serpihan. Itulah kemarin
ditanyakan oleh Metro TV, apa mungkin rekoset bisa mengenai ibu-ibu, anak
kecil yang ada di rumah. Justru itu yang semakin fakta bahwa itu rekoset.
Karena kalau bukan itu rekoset dan memang itu ditembakan, yach tentunya
tidak ditembak ke anak-anak atau ke ibu-ibu. Itulah tandanya bahwa peluru
itu tidak terarah, terbang sendiri, melenceng sendiri karena rekoset.
Kejadian ini ada beberapa saksi mata yang netral, seperti ada orang-orang
yang sedang bekerja di lahan. Dari mereka itu kita mendengar bahwa kejadian
itu sangat menakutkan karena massa sangat beringas sehingga mereka lari dan
bersembunyi. Mereka itu juga mengatakan, kasihan mereka melihat bapak-bapak
Marinir dilempari seperti itu.
8. Dari keterangan yang kami dapatkan di lapangan, kami merasa yakin
bahwa kalau tidak dalam keadaan yang sangat memaksa, yang telah sangat
mengancam jiwa mereka, para prajurit-prajurit Marinir ini, sebagai prajurit
yang terlatih, tidak mungkin melakukan tembakan baik tembakan peringatan ke
atas maupun peringatan ke bawah. Mereka menceritakan bahwa yang ada di benak
mereka saat itu mereka akan menjadi korban seperti rekan-rekan Polri di
Papua. Karena begitu kuatnya tekanan, lemparan terhadap mereka, bahkan
acung-acung clurit. Walaupun mereka sebenarnya sangat menyesal setelah
mereka tahu, bahkan sedih. Kenapa sampai ada jatuh korban dari masyarakat,
padahal selama ini mereka sudah cukup baik dengan masyarakat di sekitar
tempat itu. Tapi saya juga yakin bahwa korban itu terjadi karena peluru
rekoset sebab bila tidak tentu yang tertembak adalah orang-orang yang
menyerang mereka, yang menyerang dengan clurit, yang dekat dengan mereka.
Tidak mungkin mereka menembak perempuan, anak-anak, seperti yang sudah kita
lihat korban sekarang.
9. Kami telah melakukan langkah-langkah hukum, yang segera bisa kami
lakukan. Saat ini mereka telah kita serahkan kepada Polisi Militer. Dan
Komandan Puslatpurnya kami ganti agar yang bersangkutan bisa lebih
berkosentrasi memberikan kesaksian dan keterangan-keterangan, dan kami juga
ingin agar Puslatpur tetap dapat berjalan, kegiatan-kegiatannya untuk
melaksanakan latihan-latihan kepada prajurit-prajurit Marinir lain.
10. Kami terkesan saat ini pemberitaan sangat tidak berimbang, terus
menerus media mewawancarai masyarakat yang sudah rata bunyinya. Ada banyak
sekali yang tidak masuk akal dari keterangan mereka. Dengan menyatakan,
mereka tidak tahu apa-apa, tahu-tahu Marinir menembaki. Ini saya malah
mengatakan, coba saja di psikotest anggota kami. Saya yakin mereka itu
normal dan tidak ada yang gila seperti itu. Apalagi tadi saya jelaskan bahwa
mereka-mereka yang ke-13 orang ini ditetapkan sebagai tim patroli tetap,
karena mereka itu memang orang-orang Pasuruan atau keluarganya ada di
Pasuruan, sehingga mereka punya hubungan emosional dengan warga atau
penduduk sekitar.
Dan ingat bahwa semua orang tahu bagaimana sikap Marinir selama ini kepada
rakyat yang sampai kapan pun itu tidak akan berubah. Sehingga kalau kita
lihat, kejadian ini benar-benar kejadian yang sangat memaksa mereka dalam
membela diri.
Mereka itu juga manusia biasa, punya hak untuk membela diri mereka.
Inilah keterangan yang bisa saya berikan untuk sekedar menambah
keterangan-keterangan terdahulu yang pernah saya berikan. Terima kasih.
Catatan : Penjelasan tersebut di atas sesuai dengan hasil rekaman asli.
More information about the Marinir
mailing list