[Marinir] OPINI [was: Insiden Pasuruan - Versi Marinir
Krisna Rubowo
krub at cbn.net.id
Mon Jun 11 06:50:07 CEST 2007
Ozy,
Appriciate for your informtion,
Terus terang saya sebel dan sakit hati sama comments di surat2 kabar
terutama yg disampaikan oleh para politisi. Dan sekarang, looks apa yg
diucapkan oleh itu pak Mahfud MD. Semoga beliau dapat baca yg anda ungkapan.
Beruntung rekan2 kita masih bisa cool down dan meletakkan kepercayaan pada
kearifan dan kebijakan pimpinan.
krisna /Angg.Paguyuban Purna Marinir-Former Marine Association
----- Original Message -----
From: "Yap Hong Gie" <ouwehoer at centrin.net.id>
To: "Post Hankam" <hankam at yahoogroups.com>; "Post IndoUsaMil"
<IndoUsaMil at yahoogroups.com>; "Post KIAD" <KIAD at yahoogroups.com>; "Post
Marinir TNI-AL" <marinir at polarhome.com>; "Post Mediacare"
<mediacare at yahoogroups.com>; "Post Nasional"
<nasional-list at yahoogroups.com>; "Post T-net"
<tionghoa-net at yahoogroups.com>; "Post Wahana-News"
<wahana-news at yahoogroups.com>; "Post X-PPI-Eropa77-87"
<X-PPI_Se-Eropa77-87 at yahoogroups.com>
Sent: Sunday, June 10, 2007 1:23 AM
Subject: [Marinir] OPINI [was: Insiden Pasuruan - Versi Marinir
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/69743
>
> -------Original Message-------
> From: mouse gun
>
> Dari pengalaman saya, terutama dengan kaliber 5.56x45mm NATO atau
> dikenal juga dengan .223 Remington (sama dengan yg digunakan di SS1
> Marinir), maka ricochet saat peluru mengenai tanah bisa saja terjadi
> walaupun permukaan tanah berupa tanah biasa tanpa bebatuan.
> Yg lebih menentukan probability dari ricochet adalah angle of impact
> terhitung dari nadir (sumbu tegak lurus dari permukaan tanah).
> Makin jauh impact area di permukaan tanah dari si penembak, maka makin
> besar pula off-nadir impact angle dari peluru.
> Makin besar sudut off-nadir impact angle ini, makin besar kemungkinan
> ricochet akan terjadi.
>
> Tembakan "Dopper" yg disebutkan oleh Dankormar adalah praktek menembakkan
> peluru tajam di depan prajurit utk memberikan simulasi dari effects
> pertempuran. Akan tetapi Dopper biasanya dilakukan dari samping (misalnya
> prajurit merayap ke utara, maka pelatih akan melakukan tembakan Dopper ini
> dari sisi timur ke arah barat, atau sebaliknya. Dengan demikian bila
> terjadi ricochet, projectile-nya tidak mengenai prajurit yg sedang
> latihan.
>
>
> Yg ingin saya ketahui di kasus Pasuruan adalah:
> 1. Peta posisi satuan Marinir relatif terhadap gerombolan massa.
> 2. Jarak antara Marinir dan massa saat tembakan dilepaskan.
> 3. Bila melakukan tembakan dopper, lokasi mana yg dijadikan sasaran
> dopper effects.
> 4. Jenis peluru yg ditembakkan ( 55 grain lead core/M193, atau 62 grain
> tungsten core / M855 )
>
> Juga dari pengalaman saya dan teman2 disini, projectile yg sudah ricochet,
> walaupun masih utuh, biasanya sudah kehilangan most of its energy.
> Disamping itu peluru ini sudah tidak terbang lurus seperti aslinya.
> Peluru bisa terbang terbalik, menyamping (keyholing), atau berputar-putar
> (tumbling) sambil terus melayang di udara. Oleh sebab itu, luka yg
> ditimbulkan oleh ricochet bullet biasanya memliki penetrasi yg tidak
> terlalu
> dalam (superficial) terutama bila peluru mengenai korban dalam posisi
> keyholing.
> Kecil kemungkinan peluru 5.56mm yg ricochet dapat menembus tubuh korban.
>
>
> WARNING: untuk yg sensitive terhadap human sufferings, disarankan tidak
> membaca paragraph berikut dibawah.
> Informasi ini diberikan sebagai technical information yg menyertai
> ballistic
> dan forensic analysis dari luka tembak yg diakibatkan oleh kaliber
> tertentu.
>
> Jenis luka seperti yg dialami oleh bocah 3 tahun, dimana butiran/serpihan
> peluru memasuki dadanya dan berhenti di tulang rusuk, masuk kriteria luka
> tembak yg dapat diakibatkan oleh peluru ricochet. Sebab bila ditembakkan
> secara langsung, si bocah ini tidak akan selamat. Believe me. Peluru
> 5.56mm
> ini memiliki high muzzle velocity (3200 FPS di M16A2).
> Dibawah jarak 100 meter, peluru ini masih terbang diatas kecepatan 2400
> FPS,
> yg berarti dia masih memiliki energy sangat besar bisa mengenai korban.
> Walaupun massa peluru kecil, namun karena kecepatan yg tinggi energy yg
> dikandung tetap besar.
> Saat peluru jenis ini memasuki soft tissue (spt tubuh manusia), maka yg
> akan
> terjadi adalam transfer of energy dari peluru ke tissue di sekitar luka
> tembak. Sebab peluru akan mengalami sudden deceleration (perlambatan),
> sedangkan sesuai hukum fisika harus ada conservation of energy.
> Jadi energy yg hilang dari peluru akan diserap oleh jaringan lunak di
> sekitar luka tembak. Jaringan ini akan terhempas oleh energy dari peluru,
> membuka secara sangat tiba-tiba, mengakibatkan apa yg disebut "temporary
> cavity" yg sangat besar utk kaliber ini.
>
> Temporary cavity ini jauuuuh lebih besar dari lubang yg dibuat peluru itu
> sendiri. Secepat temporary cavity ini terbentuk, secepat itu pula dia akan
> collapsed. Proses ini menimbulkan shock pada soft tissues atau organ tubuh
> disekitar luka.
> Shock ini yg mengakibatkan memar pada tissues dan organs, yg kemudian
> mengakibatkan pendarahan dalam yg massive. Bahkan proses terbentuknya
> temporary cavity ini dapat saja melebihi dari kemampuan tensile kulit
> manusia, sehingga yg sering terjadi bullet exit wound akan jauh lebih
> besar
> dari entry wound. Karena tissues dan kulit simply pecah karena hydro shock
> yg diterima terlalu besar.
>
> Disamping itu caliber 5.56 NATO ini juga memiliki tendensi utk fragmentasi
> di dalam tubuh korban bila impact dengan tubuh korban terjadi saat peluru
> masih terbang dengan kecepatan diatas 2400 FPS. Bila saya tidak salah
> ingat
> hingga jarak 150 meter hal ini masih berlaku. Peluru yg pecah di dalam
> tubuh korban akan menghasilkan permanent cavity yg lebih besar, walaupun
> penetration biasanya juga berkurang (but still enough to go through the
> body). END of WARNING
>
>
> Jadi utk korban si bocah usia 3 tahun diatas besar kemungkinan dia terkena
> peluru yg ricochet atau bagian dari peluru yg pecah saat ricochet.
>
> Yg membuat saya sangsi atas claim bahwa semua korban terkena peluru
> ricochet
> adalah korban ibu hamil yg berada di dalam rumah saat dia tertembak.
> Dari yg saya baca di koran, ibu ini telah menutup pintu rumahnya saat
> peluru
> menembus pintu rumah, mengenai kepala beliau hingga tembus dan
> mengakibatkan
> sebagian isi kepala berhamburan di pintu atau dinding.
> Laporan diatas membingungkan, sebab bila pintu rumah terkena lebih dulu,
> maka isi kepala akan berhamburan ke arah yg menjauhi pintu rumah, bukan
> sebaliknya.
>
> But for now, saya hanya ingin melihat possibility korban ini terkena
> peluru
> ricochet
> Saya tidak tahu seperti apa pintu rumah beliau. Apakah terbuat solid dari
> kayu? Ataukah dari tripleks tipis? Atau ada unsur kaca?
> Juga saya tidak tahu bagian pintu yg tertembus peluru terbuat dari apa.
> Juga perlu diketahui berapa jauh lokasi rumah ini dari pasukan Marinir.
>
> Sebagaimana yg telah kita bahas diatas, peluru yg mengalami ricochet telah
> kehilangan sebagian dari energynya on impact with the ground.
> Hasil lain berupa peluru yg terbang while tumbling juga akan mengakibatkan
> kehilangan energy yg lebih cepat karena friction dengan udara lebih besar
> (due to the tumbling position of the bullets).
> Oleh sebab itu saya mempertanyakan apakah peluru yg sudah ricochet masih
> memiliki cukup energy utk
> 1) menembus pintu rumah (apalagi kalau pintu terbuat dari papan yg solid,
> bukan tripleks) dan
> 2) memasuki tengkorak manusia hingga tembus ( ?? )
> Likelihood bahwa ibu ini terbunuh oleh peluru ricochet sangat rendah
> menurut
> pendapat saya.
> Apakah ada peluru yg ditembakkan mendatar (bukan ricochet)? Likely, yes.
> Apakah peluru ini dibidik khusus ke si ibu? NO, very unlikely.
>
> Kalau teman2 ada memiliki informasi yg lebih detail, mohon di share agar
> kita bisa mendiskusikan kasus ini lebih lanjut.
>
> Sebagai orang yg tumbuh dan besar di lingkungan TNI-AL dan Marinir, saya
> tidak yakin prajurit Marinir melakukan penembakan dengan sengaja utk
> membunuh rakyat. Bila mereka sengaja melakukannya, maka korban yg jatuh
> akan lebih banyak lagi.
> Fakta lain menunjukkan peluru yg ditembakkan hanya 33 butir dari 10 pucuk
> senapan (temuan Polri). So on average, setiap senapan hanya menembak 3
> kali.
> Laporan di Jawa Pos menyebutkan bahwa tembakan ke udara diberikan 2 kali.
> Assuming everybody fired the warning shots, maka hanya tersisa 13 butir
> peluru yg ditembakkan ke tanah atau ke arah massa.
>
> Guys, bila mereka terkepung oleh 300 orang, shooting 13 rounds out of 10
> rifles show one hell of restraint and discipline on the parts of the
> Marines.
> Bandingkan dengan jumlah peluru yg ditembakkan oleh aparat TNI AD saat
> peristiwa Priok in 1984!!
>
> Info lain yg saya baca, warga desa ini mayoritas adalah pengungsi Madura
> yg
> datang setelah diusir keluar Kalimantan Barat oleh suku Dayak saat konflik
> etnis di sana in 2000-2001. Jadi mereka bukan penduduk asli wilayah tsb.
> Disamping itu kita perlu juga melihat cultural background mereka. Setahu
> saya, suku Dayak itu cukup terbuka dan accomodating terhadap pendatang.
> Saya berasal dari suku Melayu, dan saya tahu banyak orang Melayu yg pindah
> dan bermukim di Kalimantan. Mereka damai-damai saja dengan suku Dayak.
> So apa yg mengakibatkan suku Dayak tidak bisa hidup damai dengan
> pendatang2
> dari Madura ini?
> Apakah mentalitas yg sama yg membuat orang2 Madura ini berperang dengan
> suku Dayak juga menjadi latar belakang konflik mereka dengan patroli
> Marinir?
>
> Lots of questions yg tidak dibahas oleh media.
>
> Ozy
>
> _______________________________________________
> Marinir mailing list
> Marinir at polarhome.com
> http://www.polarhome.com/mailman/listinfo/marinir
More information about the Marinir
mailing list