[Nasional-f] OBOLAN MALAM - Hukuman Yang Tidak Tertulis

simonsobron nasional-f@polarhome.com
Wed Dec 4 01:49:03 2002


Sobron Aidit :


                                    OBROLAN MALAM
                                   ( Hukuman Yang Tidak
                                     Tertulis )

Ada hukuman yang resmi tertulis. Barang siapapun yang melanggar
undang-undang karena berbuat kejahatan, maka akan mendapat huku-
man menurut kadar dan takaran kejahatannya. Resmi tertulis dan men-
jadi suatu hukum - hukum pidana atau perdata. Kalau perbuatan itu
tidak ketahuan umum, maka si yang berbuat kejahatan lolos dengan
sendirinya dari hukuman resmi. Tetapi masih ada suatu hukuman 
yang tidak tertulis, hukuman secara psychologis - hukuman rokhani,
hukuman kejiwaan.

Nah, saya mau bicara soal hukuman kejiwaan- hukuman rokhani ini.
Dan semua ini atas pengalaman saya sendiri.
Pada tahun 1949 saya pernah tinggal di Bogor - Panaragan. Sekolahnya
di SMP dekat Pasar Anyar. Saya tinggal di dekat jembatan Panaragan
yang menuju ke Gunung Batu, bersama abang saya.Ketika di sekolah
dianjurkan membelibuku bahasa Inggris, buat pelajaran kami, nama
judulnya Step by Step, tetapi saya tidak punya uang. Ketika minta ke-
pada abang saya, dia mengatakan okey saja, tapi tunggu habis bulan
yang tinggal beberapa hari lagi.

Dalam pada itu kalau pergi - pulang sekolah, saya melewati jalan sepan-
jang pasar yang ada toko-buku yang menjual buku-buku pelajaran. Di 
toko-buku itu saya lihat ada buku Step by Step. Tetapi saya tidak pu-
nya uang. Bagaimana akal? Orang-orang sedang sibuk keluar-masuk
belanja buku-buku. Dalam begitu banyak kesibukan dengan urusannya
masing-masing, dengan perasaan takut-takut dan cemas, saya ambil bu-
ku Step by Step itu, lalu dengan diam-diam saya masukkan dalam tas
saya. Pelan-pelan sepertinya tanpa dosa, tanpa ada apa-apa, saya keluar
dari toko-buku. Lalu sambil agak ketakutan dan kecemasan saya jalan
menuju pulang. Apakah saya mencuri buku? Dalam hati saya, ya, mungkin
ya, tapi juga mungkin sekadar mengambil tanpa bayar.

Tetapi sejak itulah kalau saya pergi dan pulang sekolah menjadi sangat jauh
jalannya, lama dan banyak buang waktu. Sebab jalannya menikung jalan
lain, mengedar yang cukup jauh. Sebab saya takut kalau jalan biasa sehari-
hari sebelum saya "mengambil buku itu tanpa bayar". Rasanya selalu ada
mata orang lain yang mengawasi saya. Saya merasa diikuti dan diawasi
dan dicurigai. Akh,entah berapa lama saya tak berani lewat jalan yang 
ada toko-bukunya itu. Saya mulai terasa sangat tersiksa. Ada perasaan
dalam hati, agar lain kali saya tidak akan berbuat begitu lagi, tidak akan
mengambil barang orang tanpa bayar -, saya belum berani mengatakan
bahwa hal itu adalah mencuri,- sangat tidak enak kedengarannya!

Lalu ketika kami tinggal di Jakarta di Oud Gondangdia Binnen, Gon-
dangdia Lama Dalam, bersama abang saya dan Chairil Anwar, kami
dalam keadaan selalu kekurangan uang. Kalau abang saya dan Chairil
tidak pulang, alamat saya bisa hari itu tidak makan. Saya masih di SMP
kelas satu di Vrijemet Selaar- yang kini Jalan Budi Utomo. Suatu malam,
ketika saya punya uang yang sebenarnya tidak cukup, saya merasa sa-
ngat lapar. Saya pergi ke pasar Boplo tak jauh dari rumah saya. Di sana
ada warung makanan yang sangat sederhana, pikulan dengan berbagai
jenis makanan, seperti ketan - ubi - empalgoreng - goreng ikan dan na-
si putih. Ada juga tumis dan gulai-jengkol. Sangat bernafsu dan bersele-
ra saya melihat makanan yang sedap-sedap itu. Saya memberanikan
diri buat nongkrong dengan perhitungan saya hanya akan makan nasi
dengan lauk kuah gulai-jengkol saja, agar uangnya cukup dan pas.

Tak jauh dari warung-pikulan itu, ramai anak-anak bermain bola-kasti
sambil menuggu orangtuanya berjualan. Mereka main sepak-bola yang
bolanya bola kasti. Dan saya melihat makanan yang begitu memancing
selera, dan lagi sedang lapar berat, segera minta nasi pakai kuah gulai-
jengkol, dan sepotonggoreng tempe. Dalam hati saya semoga cukup
uangnya!
Tengah saya asyik makan, melihat empalgoreng yang begitu menggiur-
kan, pelan-pelan saya ambil, yang sebenarnya saya tahu, kalau harus 
bayar nanti, uangnya pasti tidak cukup. Jadi saya bermaksud mengam-
bil empal itu tanpa setahu penjualnya. Ya Allah ya Tuhanku, tiba-tiba
ketika saya persis menjulurkantangansaya sedang mengambil empal
itu ada terasa yang sangat mengejutkan. Dan saya kaget setengah mati.
Sebabtangan saya serasa dipukul begitu rupa. Saya kira penjualnya tahu
akan maksud saya. Tetapi ternyata, sebuah bola tenis yang yang diten-
dang oleh anak-anak yang sedang bermain itu, jautuh persis menimpa
tangan saya yang sedang merogo empal itu. Saya sangat keget luarbiasa.
Tadinya saya kira saya dipukul oleh penjual makanan, karena ketahuan
mengambil empal.

Jantung saya berdegupkencang sekali dan cukup lama. Rasanya seku-
jur badan, penuh keringat dingin. Dan saya takut sekali. Dua kali peris-
tiwa ini sangat sulit saya melupakannya. Padahal kejadiannya sampai
kini sudah lebih setengah abad! Nah, saya memang tidak terkena huku-
man resmi undang-undang dan peraturan, baik perdata maupun perda-
na yang resmi tertulis. Tetapi saya sebenarnya lama sekali menderita
perasaan takut - cemas dan malu....malu pada siapa, tidak ada orang
yang melihat dan tidak ketahuan oleh siapapun! Saya malu pada diri
sendiri! Dan malu begini kesannya sangat lama, penyesalannya sangat
membekas. Sejak dua kali peristiwa itulah, saya berpikir 100 kali dulu
kalau mau berbuat kejahatan, betapapun kecil dan remehnya. Dan bia-
sanya,- kata saya dalam batin sendiri-, sudahlah kalau mau tenteram
dan aman-aman tak punya beban apapun, janganlah berbuat kejahatan
dan ketidakjujuran. Hiduplah sebagaimana adanya saja, tidak usah mau
berlebihan, tetapi akan selalu menderita perasaan dan batin. Sudah, be-
gini sajalah adanya, jangan neko-neko. Barangkali,- kata saya dalam batin-,
saya ini nggak punya nyali buat menjadi orang yang semacam saya alami
dengan dua kali peristiwa buku Step by Step dan empalgoreng dulu itu!
Tetapi syukurlah malah!


-----------------Holland, Nov 02-----------------------------