[Nasional-f] OBROLAN MALAM ( Suasana Pengangguran di Sekitar Kami )

simonsobron nasional-f@polarhome.com
Wed Dec 4 01:49:04 2002


Sobron Aidit:

                              OBROLAN MALAM
                             ( Suasana Pengangguran
                               di Sekitar Kami )




Beberapa teman yang sedang menganggur, karena terkena pehaka dari
kantor atau perusahaannya, saling bertilpun. Apakah kamu sudah dapat
kerja? Apakah si Anu sudah bekerja? Bagaimana keadaan kalian mengha-
dapi musibah pengangguran ini? Mereka saling memberikan kabar. Dan
saling memperbandingkan, kalau sekiranya mereka ambil lowongan beker-
ja di sesuatu tempat lain, tetapi gajinya lebih rendah dari pendapatan soko-
ngan pengangguran mereka, maka pasti mereka akan tolak. Misalnya sese-
orang bekerja sudah 8 tahun atau 10 tahun. Mereka akan dapat bantuan so-
sial karena memang haknya selama bekerja sekian tahun. Tetapi sokongan
itu hanya dapat dua atau tiga tahun. Kalau selama itu tidak juga mendapat-
kan pekerjaan, maka dari yang tadinya dapat 70% dari gaji semula, maka
buat bulan dan tahun berikutnya akan jauh lebih berkurang. Dan seterus-
nya. Sampai angka itu sama dengan kaum pengangguran biasa, yang me-
mang berasal dari pengangguran murni, bukan karena pehaka atau peme-
catan.

Saya lihat di Belanda kemungkinan buat mendapatkan pekerjaan, jauh
lebih mudah daripada di Perancis. Sehingga mereka masih sempat mem-
perbandingkan, berapa di kantor Anu dan di perusahaan Anu gajinya
dalam satu jam. Mereka terkadang masih sempat bertahan, sampai mere-
ka secara terpaksa menerima yang ada. Tetapi di Perancis tidak bisa
dan tidak mungkin. Asal ada lowongan, segera terkam, soal gaji nanti
saja dulu. Yang penting dapatkan dulu, sudah itu baru hitung-berhitung.

Anak saya memberanikan diri mendatangi kantor banknya, di mana dia
punya kompto bank buat sehari-harinya. Dia menanyakan, berapa dia
boleh merah - negatif, defisit, sebab angka laporan bank-nya selalu
negatif -
merah. Petugas bank mengatakan boleh sampai 300 euro. Tetapi anak
saya yang pertama katanya dia boleh merah - negatif sampai 500 euro.
Dan kantor bank-nya memang tidak sama, wilayahnyapun tidak sama.
Ini yang hal anehnya, dulu ketika belum krisis ekonomi dan resesi eko-
nomi, mereka selalu "mengintip mau tahu" ada berapa yang bersisa dan
uang yang tersimpan. Kini berapa mereka berhutang, berapa merah dan
negatifnya. Berapa boleh ngutangnya, berapa boleh diizinkan buat defi-
sitnya.

Angka-angka tadi umumnya memang tidak sama antara satu orang dengan
orang lain. Bank juga melihat dan mengawasi serta mendalami siapa sese-
orang pelanggannya. Di mana kerjanya, dan berapa penghasilannya per bu-
lan. Sebab, akh, siapa juga tahu, secara kasarnya bank itu juga adalah lin-
tah darat - penghisap, dan hanya mau untung saja! Mana ada bank yang
baik yang murah hati! Tak ada!

Hari Rabu dan setiap hari Rabu, kami sekeluarga di rumah yang lima
jiwa, sangat gembira. Bagaikan ada pesta besar di antara kami. Kenapa
hari Rabu? Karena hari itu semua kami lengkap ada di rumah ketika ma-
kan-malam. Kalau hari lain, ada yang datangnya jam 20.00 atau sesudah
itu, karena pekerjaan dan sesuatu tugas. Yang bekerja hanya anak saya
yang kedua, itupun tidak penuh, hanya 3 atau 4 hari dalam satu minggu.
Biasanya kami makan sederhana. Dan makanan lebih banyak direbus,
ditim dan sangat sederhana bahannya. Maksudnya tentu saja karena ber-
hemat dan penyederhanaan, berhubung sangat kekurangan uang, dan
tuanrumah sedang dalam keadaan menganggur. Nah, hari Rabu itu kami
boleh agak longgar sedikit. Bahan makanan boleh digoreng, boleh ma-
kan daging, ada kerupuk ada emping, siapa tahu ada balado tempe atau
gulai-ayam atau gulai-kambing. Sudah sangat lama kami tak pernah lagi
makan panggang-bebek atau panggang-ayam. Ke restoran? Barangkali
sudah dua tahun tak pernah lagi. Jalan-jalan berliburan dengan karavan
seperti tahun-tahun 1998, menjalani daratan Eropa selama setengah bu-
lan seperti dulu itu? Wah, hanya mampu mengenangkannya saja! Me-
nunggu setiap hari Rabu-pun sudah suatu kenikmatan tersendiri. Ketika
hari Rabu itulah kami merasakan hidup ini lengkap dan nikmat, bebas
berhemat, bebas sedikit mengumbar nafsu makan yang biasanya ter-
tahan-tahan karena menyesuaikan diri dengan suasana pengangguran,-


-----------------------Holland, Nov 02--------------------------------