[Nasional-f] OBROLAN MALAM ( Kekacauan Bahasa? )
simonsobron
nasional-f@polarhome.com
Wed Dec 4 01:49:07 2002
Sobron Aidit :
OBROLAN MALAM
( Kekacauan Bahasa? )
Kenapa mesti terjadi yang seperti saya ceritakan di bawah ini? Ada
sejarah dan latarbelakangnya. Semua ini bukan kehendak kami. Se-
mua ini karena saling ada kait-mengaitnya dengan kekuasaan - per-
pindahan wilayah - perpindahan antara negara dan bangsa - dan ke-
tergantungan kehidupan di mana berada.
Kami hidup belasan tahun di Cina. Sudah itu puluhan tahun di Pe-
rancis. Sudah itu bertahun-tahun di Belanda, dan sampai kini. Dan
saya hidup antara dua negara Perancis dan Belanda, sudah selama
7 tahun ini. Semua ini membawa konsekwensi yang berbeda dengan
orang lain yang tidak seperti kami. Ketika kami mengumpul satu ke-
luarga besar pada suatu Hari Natal, yang terdiri dari keluarga saya
sejumlah 8 orang plus dua orang sebagai tuanrumah, yaitu besan sa-
ya,- mertua anak saya,- Mas Dick dan Tante Anneke, terdengarlah
begitu ramai dengan jenis beberapa bahasa. Dalam satu waktu - satu
ruangan serta satu peristiwa, keluarlah berbagai macam bunyi orang
berbahasa.
Anak saya Nita ketika itu belum bisa berbahasa Belanda, karena baru
mau mulai hidup di Belanda dari Perancis. Dia berbicara dengan mer-
tuanya Tante Anneke terpaksa harus berbahasa Inggris. Sedangkan
cucu saya Laura berbicara dengan ibunya selalu bahasa Perancis. Dan
dua anak saya, Wita dan Nita, sampai kini lebih enak dan terasa lancar
bila mereka berbahasa Cina - Beijing. Dan mantu saya dengan ibu-bapa-
nya Mas Dick dan Tante Anneke selalu berbahasa Belanda. Dan semua
cucu saya berbicara dengan saya selalu dalam bahasa Indonesia. Sejak
dulu saya sudah terbiasa bila berbahasa dengan anak-cucu harus dalam
bahasa Indonesia. Ketika Laura mau ikut saya ke Indonesia, saya kata-
kan kepadanya, harus setiap hari berbahasa Indonesia bila di Jakarta
dan di manapun di Indonesia nanti. Dan dia menyanggupi, dan memang
dia bisa berbahasa Indonesia.
Antara sesama cucu saya, anak Wita dan anak Nita, terkadang mereka
menggunakan tiga bahasa sekaligus. Bahasa Belanda - bahasa Perancis
dan bahasa Indonesia,- biasanya antara Angel dan Celine kepada Laura
dan Berry ( 5 tahun ). Kalau kami bertiga, Wita dan Nita dan saya mau
sedikit bicara yang tidak perlu diketahui anak-anaknya, kami selalu berba-
hasa Cina. Sebab pakai bahasa Belanda ataupun Perancis, apalagi Indo-
nesia mereka mengerti semua. Tapi terkadangpun, Laura sendiri mengerti
bahasa Cina secara pasif, dan Berry juga mengerti bahasa Inggris secara
pasif juga, sekedar mengerti dalam mendengarkan.
Berry sejak kecilnya sudah berbahasa Indonesia dengan saya. Dan sampai
kini bahasa Indonesianya adalah yang terbaik di antara saudara-saudaranya
bahkan bila dibandingkan dengan bapaknya. Berry sangat pandai mema-
sangkan kalimat-kalimat, ucapannya lengkap dan jelas. Uitspraaknya enak
didengar - dan tepatwaktu dalam pengucapannya. Ketika dia sakit, berba-
ring di sofa dia katakan kepada saya
"Kek bisa tidak tolong Berry ambilkan minuman.." Mendengar perminta-
annya ini kontan saya jawab "tentu kakek bisa, sayang.."
Kalau suatu waktu, saya salah mengambilkan atau membuatkan apa kemau-
annya, dia akan katakan "Oh bukan yang ini yang Berry maksudkan, tetapi
yang lain...yang itu tuh, kek............katanya mengulang permintaannya.
Dan kalau apa yang dia minta lalu kita ambilkan, dia akan selalu mengatakan
"terimakasih ya, kek..." Dan saya jawab "sama-sama, Ber.." dan tidak per-
nah saya ucapkan "kembali..." selalu dengan kata "sama-sama...."
Ketika saya mau keluar buat olahraga - bersepeda, Berry sambil memper-
hatikan saya, bertanya "kakek mau ke mana, sudah siap-siap berangkat,
Berry lihat.......
"Yah benar, kakek mau bersepeda keliling Filmwijk dan Parkwijk",- Saya
jadi teringat kepada akhli bahasa kita, Pak Anton Mulyono, dengan seru-
annya selalulah berbahasa yang baik dan benar,- Barangkali seruan dan
himbauannya itu, Berry sudah melakukannya sejak kecil balitanya,-
Kehidupan kami kalau saya runtut, mungkin hanya Nita yang lebih aneh
lagi dari kami semua. Ibunya dari suku Acheh, papanya dari suku Melayu.
Dan dia lahirnya di Cina ( Beijing ), sedangkan warganegaranya adalah Pe-
rancis dan hidup dan cari makannya di Belanda. Suami pertamanya adalah
orang Portugis, yang sekarang adalah orang Soreang - Bandung, tapi warga
negaranya adalah Belanda. Kalau kami ada lima jiwa di rumah ini, empat
orang adalah warganegara Perancis, sedangkan tuanrumahnya sendiri adalah
warganegara Belanda, padahal kami semua ini ada di tanah Belanda. Pada
umumnya dari Berry sampai ke yang paling tuanya, kami kalau terpaksa,
akan menggunakan enam bahasa dalam sekali waktu dalam satu peristiwa
dan dalam satu ruangan,- Ini belum apa-apa masih banyak orang yang mung-
kin lebih banyak menguasai begitu banyak bahasa. Bedanya mungkin orang
orang itu memang mempelajarinya secara ilmiah dan sekolahan, sedangkan
kami, karena "terombang-ambing dalam goncangan kekuasaan - perpindahan
wilayah dan negara dan bangsa, yang ada kait mengaitnya. Apa boleh buat,-
---------------------------Holland, Nov 02------------------------