[Nasional-f] OBROLAN MALAM ( Kenapa Sih Kalau Ngomong Suka Nyelekit? )

simonsobron nasional-f@polarhome.com
Wed Dec 4 01:49:05 2002


Sobron Aidit :

                                  OBROLAN MALAM
                                 ( Kenapa Sih Kalau Ngo-
                                   mong Suka Nyelekit? )
                                       

Kalau ngomongnya itu sambil gurau, memang tidak mengapa, wajar
saja. Tetapi kalau konteksnya biasa bukan gurau bukan becanda, maka
ada soal. Akan ada reaksi. Seseorang mengeluarkan aksi, sering-sering
akan ada reaksi datang. Dan celakanya, terkadang reaksi itu lebih keras
daripada aksi yang diberikan semula.
Saya bukanlah orang yang bisa sabar dan bersabar, apalagi menahan diri.
Tapi bagaimanapun selalu saya belajar buat bersabar dan menahan diri. 
Terkadang berhasil terkadang gagal. Coba bagaimana perasaan saya
ketika ada seorang menanyakan kepada saya
"Apa restorannya yang di Paris itu masih jalan? Belum bangkrut?".
Mendengar pertanyaan ini, sebenarnya saya ingin mengusap dada. Kalau
dulu ketika saya masih muda, berdarah panas, waduh, tak tahu saya 
apa yang akan terjadi. 

Tadi sudah saya katakan, kalau pertanyaan atau kata-kata ini dalam 
konteks gurauan dan bercanda, tidak apa-apa dan wajar. Kalau per-
tanyaan ini dalam konteks bukan gurauan, bukan bercanda, malah 
memang ada kesengajaan buat provokasi, maka nama saya yang dalam
Al-Quran itu artinya sabar,- tertulis sobronjamil-, sangat sulit saya
mempertanggungjawabkannya. Sebab karakter saya sangat bertenta-
ngan dengan nama saya, sebagai orang yang semestinya selalu sabar!
Malah pertanyaan yang tertulis tadi itu, dengan mesem-mesem mena-
han kemarahan dan ketidaksabaran, saya jawab ya masih........tapi
penuh perasaan dongkol dan sangat ingin membalas secara telak
dua tiga kalilipat dari itu!

Ada sekeluarga datang ke rumah kami di Holland. Ketika seseorang
melihat kiri-kanan dalam rumah kami, terlihat piano dan gitar. Seseo-
rang itu dengan enak dan santainya dia berkata dan bertanya " lho 
kok ada piano dan gitar segala! Apa ada yang bisa main piano dan
gitar di rumah ini?"
Lagi-lagi saya bergulat bergumul dengan perasaan menahan diri buat
bersabar, agar saya jangan turut naif yang lalu berbuat bodoh. Dalam
hati saya, kenapa sih kalau ngomong dan bertanya mesti nyelekit, suka
membikin orang lain sakit! Tidak usahlah memuji, tetapi janganlah mem-
bikin sakit hati orang lain, itu saja diamalkan sudah sangat baik!

Saya dulu suka sekali baca buku Dale Carnegie - How to make friends,-
menurut saya buku itu bagus sekali. Saya dikritik habis-habisan oleh Bang
Amat karena baca buku itu. Pada umumnya manusia itu suka dipuji!
Apa betul? Tahun 1967-1968 wartawan kawakan dari The New York Ti-
mes,- James Reston mengadakan wawancara dengan Mao Tze-tung. Ada
sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Mao, karena ketika itu Mao sedang
sangat dipuja-puji bagaikan dewa yang baru turun  ke bumi. Apakah dan
bagaimanakah perasaan Tuan Mao penuh puja-pujian dari ratusan juta
manusia di Tiongkok dan di bumi lainnya ini?
Mao menjawab dengan tenang dan penuh kesadaran, katanya,- manusia
itu pada umumnya memang suka dipuji,- saya juga adalah manusia yang
biasa-biasa itu,- termasuk paling minimum, tidak menolak pujian, dan me-
rasa senang akan  adanya pujian,-

Ini jawaban orang yang paling jujur,- seadanya. Soal lain yang ada tali-te-
malinya dengan bermacam dan berjenis kritikan terhadap jawabannya, ada-
lah soal belakangan,bisa didiskusikan bersama secara jujur pula. Sebenar-
nya kalau menurut ilmu pergaulan yang biasa-biasa saja, tidak usah mesti
baca Dale Carnegie segala, dengan segala teori mentereng, muluk-muluk,
bagaimana kalau kita selalu menjaga mulut kita, cara bicara kita dalam
ilmu pergaulan umum. Ada peribahasa lama yang mengatakan "mulutmu
adalah harimaumu". Maka berjagalah baik-baik dalam segala pembicaraan
dan perkataan dalam setiap pertemuan - pergaulan, agar persahabatan
tidak menjadi cacat dan ternoda karena tidak menjaga mulut dalam pem-
bicaraan,-

---------------------------Holland, Nov 02--------------------------