[Marinir] Marriott Lama Ditarget JI Kawasan Sudirman Sasaran Berikutnya

Yap Hong Gie marinir@polarhome.com
Thu, 7 Aug 2003 13:55:03 +0700


----- Original Message -----
From: Wahana
Sent: Friday, August 08, 2003 2:25 AM
Subject: Marriot Lama Ditarget JI , Kawasan Sudirman berikutnya


Marriott Lama Ditarget JI Kawasan Sudirman Sasaran Berikutnya


JAKARTA - Fokus pelacakan pelaku bom yang meledak di Hotel JW Marriott mulai
diarahkan ke Jamaah Islamiyah (JI). Aparat keamanan melihat cukup banyak
indikasi yang menguatkan dugaan keterlibatan kelompok yang masuk dalam
daftar teroris internasional di PBB itu.

Sinyal ke arah JI itu bisa dilihat dari temuan awal yang menyebutkan adanya
kemiripan modus peledakan bom Marriott dan bom Bali. Dalam penjelasannya
kepada pers kemarin, Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar mengakui bahwa
investigasi dilakukan dengan mengaitkan kedua tragedi tersebut. Selain itu,
aparat membuka file-file penangkapan sembilan anggota JI di Semarang dan
Jabotabek Juni lalu. "Tapi, belum ada kesimpulan. Tunggu hasil akhir kerja
tim investigasi karena kita tidak ingin asal menuduh si A, B, atau si C"
jelas Kapolri setelah rakor polkam kemarin.

Dari sembilan anggota JI yang ditangkap beserta sejumlah bahan peledak,
amunisi, dan senjata api itu, ditemukan dokumen rencana aksi teror di
sejumlah tempat di Jakarta. Pada dokumen Semarang itu, ada 23 titik yang
akan diledakkan. Titik-titik itu termasuk di Semarang, Jogja, dan Jakarta.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Prasetyo, titik yang menjadi
target di Jakarta adalah kawasan Mega Kuningan. Di areal inilah Hotel JW
Marriot berdiri megah. Titik sasaran di Mega Kuningan ini bisa jadi adalah
JW Marriott yang Selasa lalu luluh-lantak. Maklum, hotel ini dikenal sebagai
tempat pertemuan warga asing, terutama Amerika Serikat, yang selama ini
menjadi target kelompok JI.

Dijelaskan Prasetyo, sasaran lain adalah gedung DPR/MPR yang meledak 14 Juli
2003. Titik lain hanya disebutkan kawasan Jl Sudirman.

Kendati belum berani menyimpulkan siapa pelaku bom Marriot, Da'i mengaku
bahwa JI masih bergentayangan di Indonesia. Sebab, sebagian aktor dan dalang
bom Bali belum tertangkap. Pengungkapan semua anggota jaringan JI itu sulit
karena mereka menggunakan jaringan sistem sel yang terputus.

Mantan Kapolda Jawa Timur itu mengungkapkan, jaringan JI yang tertangkap di
Jabotabek dan Semarang belum sepenuhnya terungkap. Padahal, mereka sudah
mengancam akan melakukan serangkaian aksi teror. Polisi terus mencari dan
mengejar kelompok yang membahayakan itu.

Dari pelacakan tersebut, sudah dapat dideteksi alat komunikasi mereka. Tapi,
teroris yang paling ditakuti di Asia Tenggara itu tahu keberadaannya sudah
terlacak. Alat komunikasi itu pun tidak lagi mereka gunakan. "Karena itu,
kita tidak bisa mendeteksi lagi sasaran yang mereka pilih," tandas Da'i.

Senada dengan Da'i, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono juga tidak mau
berspekulasi bahwa JI adalah pelakunya. Menurut dia, JI hanyalah salah satu
kemungkinan yang masih terbuka. Pelaku lain yang juga mungkin adalah Gerakan
Aceh Merdeka (GAM) dan kelompok lain dari luar atau dalam negeri.

Mobil Soni
Perkembangan investigasi di lapangan juga mulai mendapat titik terang.
Polisi sudah memperoleh sejumlah temuan penting di TKP (tempat kejadian
perkara) yang bisa mengarahkan kepada pelaku aksi menghebohkan itu. Bukti
awal tersebut berupa kepemilikan mobil Kijang dan sketsa wajah yang diduga
kuat mengangkut bahan peledak.

Da'i mengungkapkan, polisi sudah mendapatkan kejelasan tentang status Kijang
biru metalik keluaran 1986 itu. Dari pelacakan aparat di lapangan, Kijang
itu milik warga Cempaka Putih yang bernama Soni. Namun, mobil itu ternyata
sudah berpindah tangan.

Menurut keterangan Soni, mobil tersebut dijual kepada seseorang yang mengaku
warga Jakarta Timur dua minggu lalu dengan harga Rp 26 juta.

Keberhasilan mengungkapkan kepemilikan Kijang itu berasal dari identifikasi
nomor rangka (chasis) dan nomor mesin yang sudah dihapus oleh pelaku
peledakan. Polisi mendapatkan kembali nomor kerangka dan mesin berdasarkan
dokumen pembelian mobil. "Karena itu, kasus peledakan JW Marriott ini mirip
bom Bali," ujarnya.

Dari temuan itulah polisi mengembangkan penyelidikan. Polisi, lanjut Da'i,
sudah membuat sketsa wajah pembeli Kijang. Sketsa itu akan dipadukan dengan
hasil rekonstruksi potongan tubuh dan kepala orang tidak dikenal. Aparat
menduga orang itu sebagai penumpang Kijang dan terkait dengan peledakan.

Temuan lain di TKP adalah bahan bom. Menurut Da'i, bahan yang digunakan
adalah campuran bahan low explosive berupa black powder dan bahan high
explosive berupa TNT, RDX, dan HMX. Campuran bahan bom itu masih dikelilingi
bahan bakar bensin, yang diketahui dari penemuan jerigen plastik di TKP.
Campuran itu tidak hanya menimbulkan efek ledakkan, tetapi juga api yang
besar.

Bantah Intelijen Lemah
Di tempat yang sama, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono membantah bahwa
aparat intelijen Indonesia kecolongan. Menurut dia, aksi terorisme tidak
hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara lain seperti Amerika
Serikat, Rusia, dan Arab Saudi. Aparat Indonesia sendiri sudah melakukan
pencegahan. Tetapi, peledakan masih saja terjadi karena teknologi teroris
semakin canggih dan melakukan aksinya secara mendadak.

"Tapi, kita memang harus meningkatkan kapasitas intelijen kita, termasuk
kerja sama dengan dunia internasional. Terkait kasus JW Marriott ini,
Indonesia sudah menerima bantuan dari Australian Federal Police (AFP) dan
bantuan intelijen dari negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia,
Thailand, dan Filiphina yang sebelumnya berjalan dengan baik.

Terkait dengan aksi terorisme itu, pemerintah mengambil tiga langkah khusus.
Menurut Yudhoyono, langkah pertama dilakukan dengan menguatkan sistem
keamanan lokal. Dia meminta instansi pemerintah dan swasta agar meningkatkan
keamanan lokal. Berkaitan dengan keamanan lokal tersebut, pemerintah akan
mengeluarkan standar minimal pengamanan.

"Bagi instansi yang lalai dan tidak sesuai dengan standar, akan kita katakan
keamanan lokal Anda buruk. Karena itu, harus ditingkatkan," jelasnya.

Langkah kedua dilakukan dengan menggerakkan partisipasi masyarakat.
Yudhoyono mengakui bahwa sekarang ini masyarakat semakin waspada. Tapi,
pemerintah akan melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kewaspadaan.

Langkah ketiga, pemerintah akan meningkatkan upaya pendeteksian. Untuk itu,
Yudhoyono meminta masyarakat agar memahami jika aparat harus mengambil
langkah proaktif untuk mendeteksi kemungkinan adanya ancaman terorisme.
Terkait dengan upaya proaktif tersebut, mantan Kaster TNI itu menandaskan
bahwa masalah itu sudah diatur dalam UU No 15 Tahun 2003 dan hasil amandemen
UUD 45 pasal 28, yang mengatur masalah hak asasi manusia (HAM).

"Terakhir saya sangat ingin berpesan, masyarakat jangan apatis terhadap
teroris. Mereka sekarang sedang tertawa-tawa, tapi dampaknya pada kita.
Ekonomi menjadi rusak dan rakyat menjadi sengsara. Mereka mendapatkan uang,
tapi perlakuan mereka membuat masyarakat harus bersedih," tuturnya.

Sampai kemarin, kawasan Hotel JW Marriott masih dikunjungi banyak warga yang
ingin melihat secara langsung dampak ledakan tersebut. Namun, mereka tidak
bisa melihat dari dekat. Polisi telah memasang police line, yang berjarak
sekitar 200 meter dari lokasi ledakan. Selain petugas, siapa pun dilarang
melewati garis polisi itu.

Polisi juga telah menutup lokasi pusat ledakan dengan terpal warna biru
setinggi sekitar lima meter. Karena itu, warga yang datang tidak bisa
melihat secara utuh kerusakan yang ditimbulkan ledakan dahsyat itu.
Pandangan mereka terbatas pada sela-sela terpal yang memang dijadikan pintu
masuk ke lokasi.

Suasana kantor-kantor di sekitar kawasan Hotel JW Marriott terlihat sepi dan
lengang. Sebab, kantor-kantor di sekitar kawasan itu tampaknya telah
meliburkan para karyawannya selama sepekan. Akibatnya, aktivitas di kawasan
tersebut otomatis tidak tampak.

Didik Soewandi, salah satu pebisnis yang berkantor di Plaza Mutiara, mengaku
meliburkan beberapa hari karyawannya. Kantornya terpaksa ditutup karena
kondisinya belum bisa ditempati akibat bom itu. "Untuk sementara, kami akan
berkantor di tempat lain yang aman," ujar Didik kepada koran ini kemarin.

Meski terlihat sepi, aktivitas pengamanan gedung kantor-kantor itu tetap
ketat. Para sekuriti terlihat bersiaga penuh di sekitar kantornya
masing-masing. Mereka tampak begitu waspada, apalagi kalau ada mobil atau
tamu yang akan masuk ke kantor mereka.

Pengamanan di sekitar lokasi ledakan memang terlihat begitu ketat. Ratusan
petugas, baik berseragam maupun berpakaian preman, tampak bersiaga di
sekitar kawasan itu.

Kesibukan juga sangat tampak pada petugas Tim Labfor Mabes Polri yang
terlihat terus melakukan olah TKP. Selain itu, puluhan petugas kebersihan
dikerahkan untuk membersihkan puing-puing bekas ledakan.

Yang menarik perhatian, sedikitnya delapan anggota polisi dari AFP
(Australian Federal Police) terlihat sudah datang dengan membawa peralatan
lengkap. Mereka langsung bergabung dengan Tim Labfor Mabes Polri untuk
melakukan penyelidikan di lokasi ledakan.

AS Tersinggung
Pemberitaan yang menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) telah
membatalkan pemesanan 20 kamar di JW Marriott beberapa saat sebelum ledakan
membuat Kedubes AS tersinggung. Mereka menilai, pemberitaan yang mengutip
sebuah sumber yang tidak jelas identitasnya itu sangat tendensius dan
membuat suasana semakin keruh.

"Saya tegaskan bahwa kami tidak pernah membatalkan pemesanan kamar pada
Selasa atau hari-hari sebelumnya," ujar Atase Pers Kedubes AS Stanley Harsha
saat dihubungi koran ini kemarin.

Tetapi, lanjut Harsha, yang membuat Negeri Paman Sam itu makin tersinggung
adalah tudingan bahwa AS telah mengetahui sebelum terjadi ledakan yang
menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya itu. "Anggapan itu
membuat kami sangat tersinggung. Itu jelas diungkapkan pihak-pihak yang
bertujuan buruk ingin membuat kerisauan dan ketegangan dengan mengutip
sumber yang tidak jelas."

Karena itu, dia meminta media massa tidak gegabah menurunkan pemberitaan.
Berita dari sumber yang tidak jelas dan sumir seharusnya tidak ditanggapi.

Beberapa saat setelah JW Marriott meledak, Kedubes AS mengeluarkan warden
message kepada seluruh warganya agar bersikap low profile, menguban rute,
dan waktu bepergian menghindari wilayah bahaya. Pemerintah AS yakin,
pengaman situasi saat ini akan terus-menerus ditingkatkan. Pengamanan di
kantor-kantor resmi AS dan fasilitasnya yang potensial jadi target serangan
teroris juga makin ditingkatkan. Termasuk sejumlah fasilitas atau
tempat-tempat yang sering didatangi warga AS atau warga Barat. Misalnya,
toko, hotel, klub, restauran, shopping center, dan apartemen.

Mega Telepon Howard

Tawaran kerja sama untuk mengungkap bom JW Marriott dan memerangi terorisme
terus mengalir. Kemarin Perdana Menteri (PM) Singapura Goh Chok Tong dan
Presiden Filipinan Gloria Macapagal Arroyo mengirimkan surat ucapan duka
cita dan dukungan kerja sama memerangi terorisme. "Ada pula, rencana
Presiden Mega melakukan pembicaraan telepon langsung dengan PM Australia
John Howard yang tinggal mencocokkan waktunya," kata Menlu Hassan Wirayuda
sesudah pelantikan lima duta besar di Istana Negara kemarin.

Menurut Hassan, ada banyak negara yang menawarkan kerja sama dan bantuan
penyelidikan pengeboman Marriott. Selain dari pemerintah Singapura dan
Filipina, tawaran kerja sama mengungkap pengeboman Marriott datang pula dari
Australia dan Prancis. "Ini bergantung pada permintaan pemerintah dan
kepolisian kita," ujarnya.

Pemboman Marriot, kata Hassan, makin menumbuhkan kebulatan tekat dan
keteguhan rasa kebersamaan banyak negara. Memang ada pernyataan keprihatinan
dan kekhawatiran, pengeboman itu akan mempengaruhi upaya pemulihan ekonomi
dan turisme. Namun, dukungan untuk mengungkapnya juga cukup besar. "Terlepas
dari kemungkinan dampak buruk pengeboman Marriott ini, ada juga tawaran dan
dukungan untuk sama-sama menanggulangi dampak pengeboman ini," ujarnya.

Sementara itu, pemerintah berjanji akan mengucurkan dana darurat untuk
membantu para korban pengeboman Marriott. Meski tak menyebut jumlahnya,
Menko Kesra M. Jusuf Kalla mengakui, dana yang disediakan pemerintah itu
pasti mencukupi. "Jadi, silakan rumah sakit-rumah sakit mengajukan klaim
kepada pemerintah," kata Kalla usai pelantikan lima duta besar di Istana
Negara, kemarin.

Menurut Kalla, pemerintah akan menanggulangi penanganan korban pengeboman JW
Marriott. Para korban yang akan dibantu tersebut, termasuk korban yang tewas
dan warga negara asing. "Untuk bantuan korban asing itu, santunan yang
diberikan sesuai standar Indonesia," paparnya. (dja/lex/nur/wto/ssk/naz/bh)

<<:: Kembali

copyright ©2003 Jawa Pos dotcom