[Marinir] : [Nasional] Fw: Warga Diancam GAM agar Tidak Peringati HUT RI

Hong Gie marinir@polarhome.com
Wed, 13 Aug 2003 01:44:18 +0700


----- Original Message -----
From: "BDG Kusumo" <bdgkusumo@volny.cz>
To: "National" <National@mail2.factsoft.de>
Sent: Wednesday, August 13, 2003 12:01 AM
Subject: [Nasional] Fw: Warga Diancam GAM agar Tidak Peringati HUT RI
-----------------------------------------------------------------------
Mailing List "NASIONAL"
-----------------------------------------------------------------------
----- Original Message -----
From: HKSIS
To: Undisclosed-Recipient:;
Sent: Tuesday, August 12, 2003 2:45 AM
Subject: Warga Diancam GAM agar Tidak Peringati HUT RI

http://www.suarapembaruan.com/News/2003/08/11/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY


Warga Diancam GAM agar Tidak Peringati HUT RI

LHOKSEUMAWE - Menjelang peringatan HUT ke-58 RI, masyarakat Kampung
Corong, Kecamatan Darul Aman mendapat ancaman untuk tidak memperingati
upacara 17 Agustus. Ancaman itu, menurut Juru Bicara TNI, Letkol CAJ Ahmad
Yani Basuki, disampaikan oleh empat orang bersenjata ke kepala desa
(keuchik)
setempat.
"GAM mendatangi kepala desa pada Sabtu (9/8) sore dan mengancam agar kepala
desa tidak membawa masyarakat untuk memperingati upacara 17 Agustus.
Selain itu kepala desa juga dilarang berhubungan dengan kantor pemerintah,"
katanya kepada wartawan, Minggu (10/8).
Selain itu, bendera merah putih harus diturunkan serta kartu tanda penduduk
(KTP) merah putih harus dikumpulkan ke anggota GAM paling lambat tanggal
10 Agustus 2003. Anggota GAM itu, kata Yani, juga meminta uang Rp 1 juta.
Bila ancaman itu dilanggar, para kepala desa akan ditembak.
Di Desa Bukit Raya, Kecamatan Darul Aman, hari yang sama juga menurunkan
bendera dan merampas bendera merah putih di desa tersebut. Belakangan ini,
penurunan bendera merah putih oleh anggota GAM kerap terjadi. Pada Kamis
(7/8) misalnya, anggota GAM menurunkan bendera merah putih dan merampas
bendera itu di tiga desa sekaligus, Desa Teupin Payong, Desa Teupin Gajah,
dan Desa Keude Lamboh, Kecamatan Jambu Ayee, Aceh Utara.
Penurunan bendera itu dilakukan setelah pasukan marinir yang sebelumnya
melakukan pengamanan di desa itu, berpindah pos dan keluar dari desa itu
menuju Lhokseumawe.
Bom
Sementara itu, 22 bom milik GAM ditemukan pasukan Batalyon Infanteri 501 di
Desan Alue Dua, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darusallam,
Jumat (8/8). Bom itu sedianya untuk melumpuhkan personel TNI dan
menghancurkan jembatan.
Menurut keterangan Wakil Komandan Satuan Tugas Batalyon Infanteri
(Wadanyonif) 501 Kostrad, Mayor Muhammad Yasin saat ditemui di Pos Komando
Taktis (Poskotis) Satgas Yonif 501 PPRC TNI di desa Alue Dua mengatakan,
penemuan itu berdasarkan informasi yang disampaikan oleh masyarakat.
Bom itu ditemukan di sebelah rumah gubuk di tengah semak-semak, persisnya di
pinggiran desa Alue Dua. Bahan baku bom rakitan tersebut antara lain, kikir
sebanyak 7 buah, remote control sebanyak 24 unit, solder, timah, kawat
niklin (digunakan sebagai pemicu serbuk bahan peledak), pipa paralon besi,
pipa paralon plastik sepanjang 40 cm.
Kemudian, sebuah remote control yang akan dipasang di dalam bom tersebut,
timbangan, kabel, antena yang memiliki jangkauan sejauh 200 meter, dan lem
besi. Lainnya adalah serbuk belerang, bubuk mesiu, bubuk arang, serta dua
jenis serbuk RDX berwarna kuning dan abu-abu. Namun belum diketahui apakah
RDX tersebut jenis low explosive atau high explosive.

Eksekutor
Sementara itu, pelaku pembunuhan seorang warga dengan cara menggorok leher
korban, Nurdin (30), ditangkap pasukan Batalyon Infantri Lintas Udara (Yonif
Linud) 501 Kostrad di Desa Alue Dua, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, pada Kamis
(7/8). Nurdin merupakan anggota GAM wilayah Pasee.
Dalam kelompok GAM wilayah Pasee, Aceh Utara, Nurdin berperan sebagai
seorang eksekutor. Menurut Nurdin, ia pernah membunuh seorang wanita dengan
cara menggorok leher korban.
Wanita ini, dikuburkan di dalam liang kubur bersama dua jenazah lainnya yang
juga dibunuh oleh GAM. Namun, dia tidak mengetahui identitas kedua jenazah
itu. ''Saya disuruh oleh komandan saya, Saridin Paloh, untuk membunuh wanita
itu. Katanya itu adalah kakaknya sendiri. Karena dia yang menyuruh maka saya
pun melakukan sesuai perintah dia,'' kata Nurdin.
Pihak TNI memang sudah mendengar informasi bahwa Nurdin merupakan eksekutor
di GAM wilayah Pasee. Dia pun sudah menjadi target operasi TNI. Hingga
ketika mereka mendengar Nurdin berada di desa itu, mereka pun mengejar
Nurdin ke rumahnya.
Ternyata, Nurdin tidak berada di rumahnya dan sedang berada di kebon sawit.
Dia pun disergap di kebon itu tanpa perlawanan. Menurut keterangan dari
Komando Operasi Satgas Mobil Bataliyon Infanteri Linud 501 Kapten Febriel
Buyung, informasi mengenai peran Nurdin sebagai eksekutor sebelumnnya
diperoleh dari Komando Distrik Militer (Kodim) Lhokseumawe.
"Kami lalu menanyakan ke warga dan mereka mengatakan kalau ada tawanan GAM,
maka yang membantai tawanan itu adalah Nurdin," katanya. (L-10)
http://www.suarapembaruan.com/News/2003/08/11/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY



Dua Panglima Sagoe GAM Tewas di Aceh Besar
BANDA ACEH - Dua pemuda yang diklaim aparat keamanan sebagai Panglima Sagoe
GAM, Sabtu (9/8), sekitar pukul 13.30 WIB tewas ditembak aparat Polresta
Banda Aceh dalam penyergapan ke kawasan Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh
Besar.
Kapolresta Banda Aceh Ajun Komisaris Besar Polisi Alfons Toluhula kepada
wartawan di Banda Aceh, Sabtu (9/8), mengatakan, dua anggota GAM yang tewas
itu masing-masing bernama Sanusi alias Cut Teng dan yang disebut sebagai
Panglima Sagoe Wilayah Darussalam dan Sabirin yang juga berkedudukan sebagai
Panglima Sagoe GAM Wilayah Ulee Kareng.
Sebelumnya, keduanya diduga terlibat dalam berbagai kasus kriminal yang
terjadi selama ini di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Korban juga
disebut-sebut sebagai pelaku pembunuh Rektor IAIN Ar Raniry, Prof Dr Syafwan
Idris MA beberapa tahun lalu. Kedua korban ditembak mati aparat kepolisian
gabungan yang berkekuatan 30 orang.
Cut Teng manurut Kapolres, telah lama dicari karena yang bersangkutan selama
ini sangat sering meresahkan masyarakat di Darussalam dan sebagian Aceh
Besar. Apalagi yang bersangkutan juga diduga terlibat dalam peristiwa
pembunuhan Rektor IAIN dua tahun silam
Dikatakan keberhasilan aparat kepolisian dalam menewaskan dua pentolan GAM
itu terjadi berkat petunjuk salah seorang anggota GAM yang ditangkap
sebelumnya. Dari informasi anggota GAM yang bernama Junaidi itu, polisi
mengembangkan informsi dan dilakukan penyergapan ke tempat persembunyian
kedua pentolan GAM itu.
Penyergapan itu dilakukan sejak Jumat (8/8) malam yang melibatkan sekitar 30
pasukan kepolisian gabungan dari Polresta Banda Aceh dan Gegana. Mereka
melakukan pengendapan ke lokasi yang dicurigai sebagai tempat persembunyian
GAM itu. Setelah semalam mengendap, pada pukul Sabtu (9/8) pukul 13.00 WIB,
polisi baru berhasil mendeteksi sebuah rumah sebagai tempat persembunyian
mereka. (147)