[Marinir] [Nasional] Fw: "Inong Balee" Bukan Milik GAM
Hong Gie
marinir@polarhome.com
Sat, 6 Sep 2003 22:08:23 +0700
----- Original Message -----
From: "BDG Kusumo" <bdgkusumo@volny.cz>
To: "National" <National@mail2.factsoft.de>
Sent: Wednesday, September 03, 2003 1:23 PM
Subject: [Nasional] Fw: "Inong Balee" Bukan Milik GAM
-----------------------------------------------------------------------
Mailing List "NASIONAL"
-----------------------------------------------------------------------
----- Original Message -----
From: HKSIS
To: Undisclosed-Recipient:;
Sent: Tuesday, September 02, 2003 3:23 AM
Subject: "Inong Balee" Bukan Milik GAM
http://www.kompas.com/utama/news/0309/01/202444.htm
Senin, 01 September 2003, 20:30 WIB
"Inong Balee" Bukan Milik GAM
"Wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lainnya dalam keberanian dan
tidak gentar mati bahkan merekapun melampaui kaum lelaki. Bukan sebagai
wanita yang lemah dalam mempertahankan cita-cita dan agama mereka, menerima
hak asasi di medan juang dan melahirkan anak-anak mereka diantara dua
serbuan penyergapan. Mereka berjuang bersama-sama suaminya, kadang-kadang di
sampingnya atau di depannya dan dalam tangannya yang mungil itu kelewang dan
rencong menjadi senjata yang berbahaya. Wanita Aceh berperang di jalan
Allah, mereka menolak segala macam kompromi."
Sebuah ungkapan kekaguman HC Zentgraaff, seorang kopral marsose veteran
Perang Aceh, dalam bukunya berjudul "De Atjeh" yang kemudian diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia. Suatu kekaguman atau penilaian yang berbeda dari
penulis Belanda lainnya. Orang Belanda ini benar, sejarah bangsa Indonesia
pun mencatat heroisme wanita Aceh di masa perang melawan penjajah. Sebut
saja nama Tjut Nyak Dhien, Tjut Mutia,Tjut Meurah Gambang (anak Tjut Nyak
Dhien), Pocut Baren, Tjut Meurah Intan dan Laksamana Malahayati.
Para wanita ini disebut dalam bahasa Aceh Inong Balee atau wanita yang
ditinggal suami. Tjut Nyak Dhien meneruskan perjuangan suaminya, Teuku Umar.
Tjut Mutia aktif di daerah Pase bergerilya bersama suaminya melawan Belanda.
Ketika suaminya tertawan dan dijatuhi hukuman tembak, dia tetap melanjutkan
perjuangan. Pocut Baren, menjadi panglima perang menggantikan suaminya yang
gugur di medan perang. Laksamana Malahayati adalah pemimpin kapal perang,
suaminya gugur saat berperang melawan Portugis. Boleh dikatakan, Inong Balee
adalah janda yang bertekad meneruskan perjuangan suaminya.
Inong Balee, pada saat pemerintahan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat
Syah IV (1589-1604), secara khusus dibentuk suatu pasukan yang prajuritnya
adalah para janda yang suaminya gugur di medan pertempuran, dipimpin
Malahayati. Selanjutnya pasukan ini dinamakan pasukan Inong Balee.
Sebagai tempat berkumpul para perempuan ini, dibangunlah Benteng Inong
Balee. Selain tempat berkumpul, benteng ini pula adalah tempat untuk
mengintai kedatangan kapal ke pelabuhan Kerajaan Aceh kala itu, karena
tempatnya terletak 100 meter di atas permukaan laut. Dari benteng ini pula
para Inong Balee turun bertempur di atas geladak kapal atau di daratan
melawan Belanda dan Portugis.
Pemimpin Pasukan Inong Balee Malahayati dicatat sebagai laksamana perempuan
pertama di Asia karena keberaniannya menyerang kapal serta benteng-benteng
Belanda. Dia pula yang membunuh Cornelis de Houtman (orang Belanda yang
pertama tiba di Indonesia) dalam pertarungan satu lawan satu di atas geladak
kapal tahun 1599. Di bawah pimpinannya, Inong Balee menjadi pasukan andalan
di tanah Aceh.
Untuk menghargai kepahlawanan Malahayati, Pemerintah Republik Indonesia
mengeluarkan Skep/1487/XI/1977 mengabadikan namanya di kapal TNI AL dengan
nomor lambung 362. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) juga
mencatatkan Benteng Inong Balee dalam Daftar Inventaris Benda Cagar Budaya
Tidak Bergerak dan Situs dengan nomor registrasi 2/01-06/C/56.
Sekarang masih ditemukan sisa-sisa bangunan benteng ini. Tepatnya terletak
di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar atau sekitar
34,5 kilometer dari Kota Banda Aceh. Sepanjang jalan menuju benteng ini
pengunjung akan disuguhi panorama laut dan pegunungan Bukit Barisan yang
Indah, plus perasaan was-was karena masih kategori daerah "abu-abu" alias
masih ada kemungkinan disergap tembakan.
Walau jalanan mendaki, tidak sulit menemukan benteng itu karena di tepi
jalan ada papan nama (sudah mau roboh-red) yang dipasang Depdiknas
bertuliskan Benteng Inong Balee yang sudah mulai memudar. Dari Benteng Inong
Balee terlihat pemandangan Teluk Krueng Raya dan pegunungan Bukit Barisan.
Dari sini terlihat jelas kapal yang keluar masuk dari Pelabuhan Malahayati.
Dari benteng ini terlihat juga makam Laksamana Malahayati. Diperkirakan
benteng ini dibangun pada abad ke-16 bersamaan dengan pembentukan pasukan
Inong Balee.
Bentuk asli benteng ini, menurut perkiraan Depdiknas, adalah persegi
panjang, dengan panjang sisi barat mencapai 54 meter, sisi utara 18 meter.
Ketinggiannya mencapai 2,5 meter. Ada tiga lubang pengintai, terowongan. Di
sekitar benteng, tepatnya di sebelah utara terdapat sebuah bekas permukiman
yang disebut-sebut sebagai Kampung Janda atau Kampung Inong Balee.
Sayangnya, benteng ini juga tak luput dari dampak konflik yang
berkepanjangan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Studi kelayakan telah
dibuat oleh Depdiknas pada 1999. Dari studi ini dana sekitar Rp 1,6 miliar
siap dikucurkan untuk melestarikan peninggalan sejarah ini. Namun demikian ,
hal itu belum dapat dilaksanakan karena situasi yang belum aman.
Akibatnya hanya pemandangan laut saja yang dapat dinikmati, sementara bekas
benteng sudah hampir rata dengan tanah dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman
liar (sebenarnya menikmati pemandangan laut dari sini juga tidak
"nyaman-nyaman banget" karena selain harus was-was bertemu gerombolan
bersenjata juga harus pintar menghindari banyaknya kotoran hewan).
Sayangnya lagi, sekarang sebutan Inong Balee mengandung makna negatif. Bukan
lagi sebagai lambang patriotisme bangsa ini, melainkan "menjadi" milik
Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Pengertian Inong Balee adalah pasukan perempuan
GAM. GAM mengklaim, Inong Balee adalah perempuan Aceh yang suaminya mati
pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) atau dibunuh penjajah seperti masa
kolonial dulu.
Ironisnya, kita semua, di Jakarta, di Aceh, mungkin juga di seluruh
Indonesia menerima mentah-mentah istilah GAM ini. Hal ini secara tak
langsung mengakui bahwa bangsa ini telah menjajah Aceh. Harus diakui memang
ada perempuan Aceh yang menjadi korban oknum aparat kita, tapi banyak juga
yang menjadi korban GAM.
Benteng Inong Balee adalah satu contoh peninggalan sejarah yang terabaikan
akibat konflik di Aceh. Masih banyak peninggalan sejarah lain yang
terabaikan Nasibnya mungkin sama dengan sebagian perempuan Aceh yang
menderita karena diperkosa, suaminya dibunuh dan diculik entah oleh siapa.
Derita itu hendaknya jangan ditambah oleh sesama bangsanya sendiri, apalagi
oleh yang paling lantang meneriakkan NKRI.(Martian Damanik)