[Marinir] Dua Istri Perwira TNI Beberkan Pengalaman Disekap GAM

Hong Gie marinir@polarhome.com
Fri, 30 Jan 2004 18:34:00 +0700


http://www.kompas.co.id/utama/news/0401/30/130930.htm

Updated: Jumat, 30 Januari 2004, 13:06 WIB
KCM, NASIONAL

Dua Istri Perwira TNI Beberkan Pengalaman Disekap GAM

Banda Aceh, Jumat
Dua istri perwira TNI, Safrida dan Soraya membeberkan berbagai peristiwa dan
pengalaman pahit mereka selama hampir tujuh bulan berada dalam sekapan
kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di kawasan Kabupaten Aceh Timur,
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Kepada wartawan lokal dan nasional dalam telekonference dari Media Center
Komando Operasi (Koops) TNI di Lhokseumawe, keduanya menceritakan tentang
penderitaan mereka selama tujuh bulan berada dalam sekapan kelompok
pemberontak Hasan Tiro di Aceh Timur.
Juru Bicara Koops TNI Letkol CAJ Asep Sapari yang dihubungi dari Banda Aceh,
Jumat (30/1) menjelaskan, kedua korban cukup menderita berada di
tengah-tengah kelompok GAM yang bergerilya dari satu lokasi ke lokasi lain.
"Intinya, kedua korban yang disandera GAM sejak Juni 2003 itu lebih banyak
menderita atas perlakuan anggota pemberontak Hasan Tiro," ujarnya.
Safrida, istri Letkol Azhari dan Soraya, istri Lettu Agung itu disandera GAM
bersama karyawan RCTI Sory Ersa Siregar (meninggal dunia dalam kontak
senjata) dan Fery Santoro (belum diketahui nasibnya) sejak Juni 2003.
Mengutip pernyataan kedua korban, Asep Sapari menjelaskan, bahwa
selama dalam sekapan GAM keduanya selalu dihantui ketakutan, karena sering
dimarahi dan memperoleh pukulan dari pemberontak. Kedua istri perwira TNI
itu, Kamis (29/1), berhasil dibebaskan pasukan TNI Yonif 700/Readers yang
melancarkan operasi ke kawasan Desa Tugu Gajah, Kecamatan Idi Rayeuek,
Kabupaten Aceh Timur.
Dalam rangkaian pembebasan sandera itu, pasukan Yonif 700/Readers sempat
terlibat kontak senjata dengan puluhan GAM bersenjata campuran, dan
mengakibatkan tiga pemberontak tewas.
Letkol Asep Sapari menambahkan, keduanya kini dalam kondisi sehat dan tetap
dalam perawatan paramedis di Rumah Sakit tentara Kesrem 011/Lilawangsa di
Lhokseumawe, sambil menunggu jemputan keluarga mereka masing-masing.
(Ant/ima)

==========================================

http://www.kompas.co.id/utama/news/0401/30/014643.htm

Sebelum Dibebaskan, Sandera Sempat Lihat Isyarat TNI

KCM Jakarta, Jumat 30-01-2004, 0146 WIB

Patroli pasukan TNI dari Yonif 700/ Raiders sempat memberikan isyarat kepada
dua istri perwira TNI yang secara kebetulan melihat kehadiran mereka, dan
setelah itu baru dilakukan serangan mendadak untuk mengejutkan kelompok
Gerakan Separatis Aceh (GSA).

Menurut juru bicara Koops TNI Letkol Asep Sapari di Lhokseumawe, Kamis
(29/1) malam, pasukan TNI awalnya melepaskan tembakan ke arah udara untuk
mengejutkan kelompok GSA itu.

Sebagian pasukan langsung bereaksi cepat mengamankan kedua sandera ketika
kelompok GSA panik dan melarikan diri. Setelah kedua sandera aman, sisa
pasukan lainnya melakukan pengejaran sehingga terjadi kontak senjata sekitar
15 menit.

Seusai kontak senjata itu, 1 anggota GSA tewas, 2 ditawan hidup-hidup, dan
satu pucuk AK-47 disita pasukan TNI. Menurut Asep Sapari, Yonif 700/ Raiders
memang disiapkan untuk melakukan tugas pembebasan sandera.

Kronologi pembebasan sandera itu berawal dari patroli yang dilakukan pasukan
TNI. Pada Kamis sekitar pukul 11.15 WIB, Tim Bonang 3/4 dari Yonif 700/
Raiders berkekuatan 40 orang melakukan patroli dengan dipimpin Lettu Tommy.

Sekitar pukul 11.30, mereka melihat ada gerombolan bersenjata campuran
berkekuatan sekitar 20 orang di Desa Tungkah Gajah, Kecamatan Darul Aman,
Aceh Timur.

Berdasarkan pengamatan itu, dilakukan pengintaian, dan dilihat ada 2 wanita
yang diyakini merupakan sandera GSA. Pasukan pengintai itu kemudian
memberikan isyarat ketika salah satu sandera secara kebetulan melihat
kehadiran mereka.

Sesudah isyarat diberikan, pasukan TNI kemudian melakukan serangan
mendadak --untuk membuat kelompok GSA itu panik dan melarikan diri-- dengan
melepaskan tembakan ke arah udara disertai
suara teriakan.

Hingga berita diturunkan, Tim Kompi Bonang Yonif 700 Raiders masih
melanjutkan pengejaran terhadap kelompok GSA yang diperkirakan Panglima GSA
wilayah Aceh Timur, Ishak Daud, berada di dalam kelompok GSA yang melarikan
itu.

Mengenai sandera lainnya, Kamerawan RCTI Ferry Santoro, Pangkoops Brigjen
George Toisutta mengatakan, belum ada informasi mengenai keberadaannya.
(Ant/dul)

=====================================================

http://www.detik.com/peristiwa/2004/01/30/20040130-144842.shtml
detikcom

Safrida dan Soraya Mengaku Sempat Dipukuli Saat Disandera GAM
Reporter : Fedhly Averouss Bey

 detikcom - Jakarta, Safrida dan Soraya mengaku tidak pernah mendapatkan
pelecehan seksual selama disandera GAM. Namun saat pertama kali ditangkap,
keduanya mengaku kerap dipukuli.

Pengakuan tersebut disampaikan keduanya kepada wartawan di Mabes TNI
Cilangkap, Jakarta, Jumat (30/1/2004), melalui teleconference. Keduanya saat
ini masih berada di Nangroe Aceh Darussalam.

"Para sandera diberlakukan biasa saja, hanya pada hari pertama ditangkap
kami dipukul dan diancam akan dibunuh. Termasuk kepada almarhum Ersa
Siregar," ujar Safrida.

Pernyataan Safrida ini dibenarkan oleh adiknya yang juga ikut diculik,
Soraya. Menurut Soraya, ketika jilbab yang dikenakannya terbuka, dirinya
langsung dipukuli.

"Saya sering dipukul karena melawan. Pernah saat jilbab saya terbuka saya
langsung dipukul dengan senjata. Tapi ketika saya bilang sedang hamil,
pelakuan kasar mereka berkurang," kata Soraya yang akhirnya mengalami
keguguran

Safrida kembali menjelaskan, GAM menuding mereka sebagai intelijen TNI.
Pasalnya, kata Safrida, suami mereka adalah anggita TNI. "Sebenarnya kami
datang ke Aceh karena orang tua kami sedang sakit," ungkap Safrida.

Namun, lanjut Safrida, baru empat hari di Aceh, mereka berdua ditangkap GAM
saat ikut rombongan Ersa Siregar yang hendak meliput tempat pengungsian.
Menurut Safrida, Ersa sendiri selama tugas di Aceh kost di rumah orang
tuanya.

"Pada hari Minggu 29 Juni itu, saya mau ke salon sedangkan Soraya mau
berbelanjda ke pasar. Kami ikut Ersa yang mau melihat tempat pengungsian.
Kami ikut karena memang kami juga mau menyumbang pakaian. Pulang dari
sanalah kami disergap gerombolan GAM," ungkao Safrida. (djo)



http://www.detik.com/peristiwa/2004/01/29/20040129-204047.shtml

Kronologi Pembebasan 2 Istri Perwira TNI yang Disandera GAM
Reporter : Fedhly Averouss Bey, Nur Raihan

 detikcom - Jakarta, Pembebasan dua istri perwira TNI yang disandera GAM
dilakukan saat TNI melakukan patroli. Serbuan dan kontak senjata hanya
berlangsung 15 menit.

Penuturan kronologi itu disampaikan Pangkoops TNI Brigjen George Toisutta
melalui teleconference dari Aceh kepada wartawan di Mabes TNI Cilangkap
pukul 18.30 WIB, Kamis (29/1/2004).

Dipaparkan dia, awalnya pasukan TNI melakukan patroli pukul 09.00 WIB.
Kemudian pukul 11.15 WIB, Tim 3 dan 4 Bonang Yon 700 Raider berkekuatan 40
orang melihat sekelompok orang bersenjata yang diperkirakan sebanyak 20
orang di Desa Tunggai Gajah Kecamatan Darul Aman Aceh Timur.

Dua orang diantaranya, lanjut dia, dikenali sebagai warga sipil. Setelah
dilakukan pengintaian, TNI mengenali kedua orang tersebut sebagai sandera
GAM, yakni istri perwira TNI bernama Soraya dan Safrida.

"TNI langsung melakukan serangan yang sesuai prosedur agar tidak
membahayakan sandera. Pertama melakukan tembakan ke atas, lalu melakukan
serbuan dengan teriakan yang memberikan dampak psikologis kepada pasukan
GAM. Diperkirakan berlangsung hingga pukul 11.30 WIB," kata Toisutta.

Tembakan itu, sambung dia, cukup mengagetkan GAM sehingga GAM melarikan
diri. Setelah itu ditemukan sepucuk senjata AK-47. Kedua sandera selamat.
Selain itu ditangkap juga tiga anggota GAM yang terluka.

"Pasukan GAM yang melarikan diri masih dikejar pasukan TNI. Kedua sandera
saat ini sedang melakukan cek kesehatan di RS Kesrem Lhokseumawe," kata
Toisutta.

==============================================


http://www.apindonesia.com/icrc.htm

Internasional

Jumat, 30/1/2004 15.00 WIB
ICRC DAN PMI TUNDA PEMBEBASAN SANDERA


   Banda Aceh,(APIndonesia.Com).Pihak Komite Palang Merah Internasional
(ICRC) dan Palang Merah Indonesia (PMI) menunda keterlibatannya dalam
pembebasan sandera warga sipil yang masih berada di tangan kelompok
separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pasalnya, tidak ada kesepakatan antara
Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan kelompok pimpinan Hasan Tiro itu.

   Dalam keterangan bersama PMI dan ICRC yang diterima wartawan, Kamis
(29/1) di Banda Aceh menyebutkan, mereka sangat menyesalkan kedua pihak
karena tidak dapat mencapai kesepakatan pembebasan sandera. Padahal
sebelumnya sudah dicapai beberapa kemajuan.

   "Meski demikian, komite palang merah meminta kedua pihak terus
melanjutkan usaha mereka dalam menemukan solusi kemanusiaan bagi pembebasan
warga sipil di tangan GAM,"ujar Fortuna Alvariza, Humas ICRC di Aceh dengan
menyebutkan, pada awal Januari 2004 pemerintah RI dan GAM telah sepakat
bahwa PMI dan ICRC bertindak sebagai mediator yang netral untuk membebaskan
sandera yang berada di tangan GAM. Dan juga komite palang merah setuju
dengan peran tersebut.

   Namun, sebut Fortuna, pihak PMI dan ICRC juga menegaskan, beberapa
persyaratan untuk menjaga sifat kenetralan lembaga kemanusiaan itu. Serta
memastikan standar minimum keamanan bagi personil kedua institusi yang akan
melakukan pembebasan tersebut. Dan pada prinsipnya keterlibatan PMI dan ICRC
tidak lain untuk kepentingan kemanusiaan yang mengacu pada hukum humaniter
internasional. Apalagi orang-orang yang tidak terlibat secara aktif dalam
permusuhan RI-GAM.

  Menurut Fortuna, dalam kondisi apapun pihak bertikai harus memperlakukan
warga sipil secara manusiawi serta menjauhkan segala bentuk kekerasan
terhadap jiwa dan martabatnya. Atau dari segala bentuk penganiayaan dan yang
lebih utama kedua pihak bermusuh tidak boleh menjadikan warga sipil sebagai
sandera.

    Disebutkannya, keterlibatan PMI dan ICRC terutama memfasilitasi
pertukaran informasi atau pesan-pesan antara kedua pihak dalam upaya
menemukan dasar-dasar yang mendukung pembebasan. PMI dan ICRC tetap bersedia
untuk bertindak sebagai penengah yang netral jika kedua belah pihak sudah
mencapai kesepakatan.(Yahdi).
[Home]