[Marinir] [KCM] Safzen Noerdin yang Dekat dengan Prajurit
YapHongGie
ouwehoer at centrin.net.id
Wed Nov 10 18:45:04 CET 2004
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/10/naper/1379378.htm
Rabu, 10 November 2004
Safzen Noerdin yang Dekat dengan Prajurit
KESADARAN yang selalu berada di benak semua pemimpin Korps Marinir
adalah bahwa dirinya memimpin manusia yang dipersenjatai dan bukan
sebaliknya,
senjata yang dilengkapi manusia. "Itu sebabnya, tugas yang diemban oleh
setiap Komandan Korps Marinir, termasuk saya tentunya, adalah menempa
prajurit Korps Marinir agar menjadi prajurit yang profesional dan dicintai
rakyat," kata Mayor Jenderal (Mar) Safzen Noerdin (51), Komandan Korps
Marinir TNI Angkatan Laut yang baru.
UPAYA menempa prajurit Korps Marinir menjadi prajurit yang profesional dan
dicintai rakyat tampaknya berhasil dilakukan dengan baik. Kiprah prajurit
Korps Marinir pada kerusuhan tahun 1998 dan sesudahnya memperlihatkan
bahwa prajurit-prajurit Korps Marinir dicintai rakyat.
Safzen mengakui, memang ada satu dua prajurit Korps Marinir yang menunjukkan
perilaku yang tidak terpuji, tetapi ia mengingatkan bahwa itu ulah orang per
orang. Sebab itu, ia meminta agar perilaku satu dua prajurit Korps Marinir
itu tidak dianggap sebagai perilaku seluruh prajurit Korps Marinir.
Safzen Noerdin, yang menggantikan Mayor Jenderal (Mar) Ahmad Rivai,
Komandan Korps Marinir sebelumnya, mengatakan, "Sebagai pejabat baru,
saya akan melanjutkan kebijakan yang dilakukan oleh pejabat lama agar
kesinambungan kebijakan tetap terjaga."
"Kesinambungan kebijakan itu diperlukan mengingat perkembangan yang dialami
Korps Marinir ini sudah digariskan Kepala Staf TNI AL lewat rencana jangka
panjang atau blue print 2013," ujar Safzen, yang lahir di Kruengsabe, Aceh,
pada tahun 1952.
Ia menegaskan, "Harus diakui bahwa Mayor Jenderal (Mar) Ahmad Rivai telah
berbuat banyak bagi pemekaran Korps Marinir, saya tinggal melanjutkannya.
Di bawah pemimpinannya, batalyon Korps Marinir yang tadinya berjumlah
enam dikembangkan menjadi sembilan."
Tantangan yang dihadapi Safzen tidak bisa dibilang ringan. Ada sebanyak
17.000 personel Korps Marinir yang dipimpinnya. Jumlah tersebut akan
meningkat menjadi 28.000 personel pada tahun 2013.
Selain menempa prajurit Korps Marinir menjadi profesional dan dicintai
rakyat, menurut Safzen, ia juga harus memikirkan hal yang paling hakiki,
yakni kesejahteraan prajurit.
"Menjaga standar kehidupan dan menempa prajurit yang profesional itu sama
pentingnya. Dan, untuk dicintai rakyat, prajurit tidak boleh melakukan
tindakan yang merugikan rakyat," kata Safzen yang beristrikan Diah Winarsini
dan memiliki lima anak yang terdiri dari empat perempuan dan satu laki-laki
ini.
Namun, Safzen mengingatkan, peningkatan kesejahteraan prajurit itu akan
dilakukan secara proporsional sesuai dengan dana yang tersedia. "Kalau
dananya tidak ada, saya juga tidak berbuat apa- apa."
SAFZEN Noerdin selalu sungguh- sungguh dalam melaksanakan tugasnya.
Sewaktu kerusuhan terjadi di Jakarta pada tahun 1998, ia yang saat itu
menjabat
sebagai Asisten Staf Operasional Komandan Korps Marinir sampai-sampai
menginap di ruang khusus di samping ruang kerjanya.
Walaupun bekerja di bawah tekanan, ia tetap ramah dan tampil bersahaja.
Ia bahkan tidak menunjukkan sikap kesal atau lelah ketika Kompas mengunjungi
pada dini hari, tepatnya pukul 02.30, untuk mendapatkan gambaran mengenai
situasi Ibu Kota saat itu. Ia bahkan juga menunjukkan pelbed, tempat tidur
lapangan yang bisa dilipat, yang digunakannya untuk tidur.
Kesungguhannya dalam melaksanakan tugas juga tampak jelas saat ia bertugas
sebagai Wakil Komandan Kontingen Garuda XII B, Pasukan Pemeliharaan
Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang bertugas di Kamboja.
Safzen Noerdin, yang saat itu masih berpangkat mayor, mendampingi Komandan
Kontingen Garuda XII B Letkol Ryamizard Ryacudu (kini Kepala Staf TNI
Angkatan Darat). Semasa bertugas di Kamboja, Safzen membina hubungan yang
cukup dekat dengan wartawan Indonesia yang meliput konflik di negara itu.
Sebelum bertugas di Kamboja ia pernah bergabung dalam Kontingen Garuda IX
di Irak pada tahun 1988.
Tugas-tugas yang dijalaninya di luar Korps Marinir bukan hanya itu.
Ia juga pernah dilibatkan dalam penyelesaian masalah Aceh sebagai Ketua
Joint Security Committee (JSC) dari unsur Pemerintah Indonesia, dan kemudian
menjabat sebagai Wakil Panglima Komando Operasi TNI untuk Wilayah Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam.
Di samping kesungguhannya dalam melaksanakan tugas, ia juga dikenal dekat
dengan prajurit. Kedekatannya dengan para prajurit yang dipimpinnya itu
ditunjukkannya pula semasa menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri 2
Korps Marinir dengan pangkat kolonel.
Uniknya, ia masih sempat memegang jabatan Komandan Brigade Infanteri 2
Korps Marinir beberapa saat setelah pangkatnya telah dinaikkan menjadi
brigadir jenderal.
Jabatan terakhir yang disandangnya sebelum menjadi Komandan Korps Marinir
adalah Komandan Pendidikan TNI AL. Jabatan Kepala Staf Korps Marinir
dipegangnya dua tahun yang lalu.
KEINGINANNYA untuk bergabung dalam Korps Marinir bukanlah impiannya
sejak kecil. Maklum, ia dibesarkan di Aceh, dan di sana ia tidak banyak
mengetahui tentang Korps Marinir, yang saat itu masih bernama KKO,
kependekan
dari Korps Komando TNI AL.
Keinginan untuk menjadi KKO itu baru muncul saat Safzen berada di sekolah
menengah atas (SMA).
"Saat di SMA, di bangku saya ada ukiran nama murid terdahulu. Ketika saya
tanyakan kepada kawan saya, siapakah yang mengukir nama itu, kawan saya
menjawab bahwa orang yang mengukir nama itu kini telah menjadi seorang
letnan KKO, pasukan komando Angkatan Laut. Dalam benak saya seketika
muncul pemikiran, 'pasukan komando Angkatan Laut, hebat benar'.
Sejak saat itu keinginan untuk menjadi KKO menjadi cita-cita saya," papar
Safzen seraya menambahkan, ia lupa siapa nama letnan KKO itu.
Selepas SMA, ia memasuki Akademi Angkatan Laut. Dan, pada tahun 1975,
ia adalah satu di antara tujuh orang di angkatannya yang terpilih menjadi
KKO. Kariernya di Korps Marinir cukup mulus.
Berbagai jabatan penting di Korps Marinir dipegangnya. Pada tanggal 9
November 2004, hampir 29 tahun sesudahnya, ia menduduki jabatan tertinggi
di Korps Marinir, Komandan Korps Marinir.
Setiap perwira yang bergabung dalam Korps Marinir mempunyai mimpi, suatu
hari akan dapat mencapai kariernya yang tertinggi sebagai Komandan Korps
Marinir. Namun, mengingat itu adalah mimpi, setiap perwira juga menyadari
bahwa hanya sedikit di antara mereka yang akan dapat meraih kedudukan
tersebut.
Itu sebabnya, semua perwira Korps Marinir yang dapat mencapai kedudukan
sebagai Komandan Korps Marinir sangat bersyukur dan bangga. Perasaan itu
pulalah yang dialami oleh Safzen Noerdin.
"Selain tercatat dalam sejarah, menjadi Komandan Korps Marinir juga sangat
bergengsi. Apalagi hubungan antara personel dalam keluarga besar Korps
Marinir sangat spesial. Hubungan antara yang masih aktif dan yang sudah
pensiun sangat solid," ungkap Safzen. Selamat bertugas Jenderal. (JL)
More information about the Marinir
mailing list