[Marinir] Fw: [childrenofganpeng] Sekilas Aceh - Email found in subject

YapHongGie ouwehoer at centrin.net.id
Thu Jan 6 11:57:49 CET 2005


----- Original Message -----
From: "Steve Haryono" <Steve.Haryono at doubleapaper.nl>
To: <ouwehoer at centrin.net.id>
Sent: Thursday, January 06, 2005 3:25 PM
Subject: FW: [childrenofganpeng] Sekilas Aceh - Email found in subject

Beste Hong Gie,
Ini ada salah satu saudara dari keluarga GAN yang kebetulan menjadi
dokter relawan di Aceh.

groetjes,
Steve

-----Oorspronkelijk bericht-----
Van: Ronny Gani [mailto:ganironi at yahoo.com]
Verzonden: donderdag 6 januari 2005 9:14
Aan: childrenofganpeng at yahoogroups.com
Onderwerp: [childrenofganpeng] Sekilas Aceh


Saya hendak menanggapi email tentang isu berbahaya di Aceh saat ini.
Saya merupakan salah satu anggota tim bantuan medis dari Universitas
Sumatera Utara yang berangkat ke Aceh pada tanggal 31 Desember 2004 dan
kembali ke Medan tgl 5 Januari 2005, jadi saya dapat menceritakan apa yang
saya lihat dan dengar selama di Bandaaceh.

Kami berangkat dengan menggunakan hercules TNI dari bandara Polonia lapangan
terbang TNI AU Medan, menunggu di bandara mulai dari jam 06.00 pagi hingga
dapat berangkat jam 15.00 siang harinya, jadi paling tidak selama yang saya
perhatikan dari para pengungsi yang turun dari hercules yang datang dari
Aceh saat itu (31 Desember 2004) saya tidak melihat warga Tionghoa di antara
para pengungsi tersebut, jadi hal tersebut menjadi pertanyaan di benak saya,
sehingga saya menanyakan hal tersebut pada para petugas, ternyata para warga
Tionghoa sudah duluan mengungsi keluar dari Aceh pada hari pertama hingga
ketiga pasca bencana.
Setibanya saya dengan tim di Banda aceh, memang tidak terlihat lagi satupun
warga Tionghoa di sana, kota Banda Aceh di beberapa bagian hancur total,
yang bersisa hanya daerah pinggiran (daerah gunung), yang notabene hanya
sedikit ditinggali warga Tionghoa.
Daerah perkotaan hancur total dengan bayak sekali lumpur dan tumpukan kayu
dan benda lain yang berhamburan, menutupi rumah warga.
Mayat bergelimpangan di mana-mana, termasuk yang masuk ke rumah warga
terbawa arus, sehingga menimbulkan bau yang menyengat.
Saat itu terasa seperti kita berada di dunia lain yang tidak pernah
terbayangkan.
Mengenai isu penjarahan, memang terjadi, terutama dilakukan terhadap toko
makanan dan apotik, karena warga kelaparan dan butuh pengobatan.
Memang ada juga orang-orang yang tak berhati nurani, karena mereka menjarah
bukan untuk suatu hal yang krusial dan mendasar, namun mencuri emas, uang
dan pakaian bagus di rumah-rumah warga.

Perlu dicatat bahwa pencurian dan penjarahan itu merata, tidak ditujukan
terhdapa warga Tionghoa saja, karena penduduk Aceh dikenal berinvestasi
dalam emas. Sepeda motor juga banyak diambil dengan terang-terangan, malahan
si pencuri berani berargumentasi dengan pemilik mengenai kepemilikan sepeda
motor tersebut, baru setelah pemilik aslinya menunjukkan STNK, pencuri
tersebut menyerahkan kembali curiannya.
Saya juga melihat langsung satu unit Vespa yang dipermak/ diganti
penampilannya di dekat posko kami tinggal.

Gempa masih teras setiap hari selama saya berada di Aceh, beberapa cukup
keras sehingga menyebabkan kami berlarian keluar sambil tergoyang-goyang
sehingga kami saling bertabrakan.
Kami berada di sana sebagai tim kedua dari USU dengan tugas utama pembagian
logistik bahan makanan, pakaian, susu, pengobatan massal yang langsung kami
jangkau ke kamp-kamp pengungsi dan evakuasi mayat.
Untuk mensurvei kamp-kamp pengungsi kami bekerja sama dengan relawan SAR
yang bernagkat bersama kami dari Polonia Medan namun menempati Posko yang
berbeda, karena mereka mengetahui lokasi-lokasi yang benar-benar memerlukan
pertolongan, terutama medis.
Hari-hari berikutnya kami juga bekerja sama dengan kesatuan TNI dari
Siliwangi di bawah komando Letda Wirda, karena beliau juga menegtahui dengan
pasti lokasi pengungsi yang belum terjamah medis.

Pada satu kamp pengungsi rata-rata yang mendapat pertolongan medis sangat
banyak hingga 200-640 orang setiap kampnya.
Dalam sehari kami dapat mengcover 1-3 kamp tergantung banyaknya orang dan
persediaan obat yang kami bawa.
Kami bergerak dengan menggunakan 2 bus dan 1 kijang dari USU. Tim evakuasi
mayat yang terdiri dari beberapa mahasiswa USU bergerak sendiri dengan
menggunakan pick up, seharinya mereka rata-rata dapat mengevakuasi sekitar
50 mayat.
Saat kami melakukan pengobatan massal di desa Mereuk Taman, kami
berkesempatan berkeliling dengan panduang keuchik (kepala desa), yang
bercerita bahwa di desanya yang merupakan tempat pengungsi sebenarnya hanya
14 orang yang meninggal, namun mayat yang ditemukan di situ sangat banyaak
hingga ratusan, karena merupakan kiriman dari beberapa perumnas yang
terletak antara desanya dengan laut, yang tersapu habis oleh tsunami.

Sewaktu berkeliling kami menjumpai seorang ibu yang mencari saudaranya dari
salah satu perumnas. Satu perumnas ada 5 blok, di mana setiap bloknya
rata-rata ada 100 rumah, dan dari yang kami dengan setidaknya ada 3 perumnas
besar di daerah itu, dan semuanya habis.
Sepanjang jalan kami dapat melihat banyak mayat yang belum dievakuasi masih
tertimbun kayu dan sampah lainnya. Mayat yang sudah terevakuasi hanya dapat
dikuburkan seadanya di halaman rumah orang dan bahkan di pinggir jalan,
Sungguh sedih melihat mayat 2 bayi yang hanya bisa dikuburkan di pinggir
jalan desa.
Entah berapa lama Aceh dapat pulih dari keadaan ini.
Teman-teman dokter yang bertugas di Aceh pada saat kejadian juga bayak yang
menjadi korban dan beberapa belum ditemukan hingga saat ini. Yang selamat
saat kejadian langsung menuju RS yang ternyata tak dapat digunakan dan tak
ada satupun perawat hingga tukang sapu yang bertugas, hingga mereka berdua
hanya dapat menolong seadanya, yang satu ditolong sebelahnya meninggal,
padahal kedua rekan tersebut juga kehilangan anak, putrinya meninggal,
seorang rekan lagi 3 anak dan mertuanya hilang, namun mereka tetap bekerja
menolong.
Sungguh suatu kiamat kecil yang merupakan pelajaran bagi kita semua untuk
lebih takut akan Tuhan.

Isu kristenisasi juga sempat beredar di Aceh, di mana pada posko DKI sempat
terpasang spanduk dari GBI Jakarta, namun keesokan harinya spanduk itu sudah
tak lagi dipasang, suatu antisipasi yang baik.
Saya mengharapkan bantuan yang ada sekarang ini tidak hanya hangat-hangat
tahi ayam, karena keadaan ini akan memakan waktu berbulan hingga bertahun
bagi masyarakat untuk dapat pulih memiliki rumah sendiri lagi.
Masih banyak yang menjadi pelajaran bagi saya yang tidak semua dapat saya
tuliskan di sini, sungguh suatu pengalaman yang menyedihkan, yang membuat
mata memberat, hidung pedas dan kerongkongan tercekat.
Doa terus untuk Aceh dan bangsa Indonesia.

Dr. Soegiarto Gani, SpPD
(Gan Ban Coan)
Medan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

To subscribe: Send a blank e-mail to
childrenofganpeng-subscribe at yahoogroups.com

To unsubscribe from this group, send a blank e-mail to:
childrenofganpeng-unsubscribe at yahoogroups.com

To post a message: Send to childrenofganpeng at yahoogroups.com

To visit the web address: Click
<http://groups.yahoo.com/group/childrenofganpeng>
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/childrenofganpeng/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    childrenofganpeng-unsubscribe at yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/






More information about the Marinir mailing list