[Marinir] [waspada] Tragedi Papua Pelanggaran HAM Polisi

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sat Mar 25 07:18:30 CET 2006


http://www.waspada.co.id/berita/nasional/artikel.php?article_id=75244

 Berita - Nasional
18 Mar 06 10:05 WIB

Tragedi Papua Pelanggaran HAM Polisi

* Brimob Dikandangkan
Jakarta, WASPADA Online


Aksi demo yang dilakukan mahasiswa yang memblokir jalan di depan Kampus
Universitas Cenderawasih (Uncen), Abepura, Papua, yang berakhir dengan
anarkis dan menelan korban jiwa tiga anggota kepolisian dan seorang anggota
dari TNI AU tidak hanya tindakan kriminalitas tetapi juga pelanggaran Hak
Azasi Manusia (HAM) khususnya pada Kepolisian Negara RI.

"Ini jelas pelanggaran HAM, terutama HAM terhadap Polisi. Kami berharap dari
Komnas HAM memantau juga kegiatan ini. Kita menginginkan adanya suatu
keadilan dan tidak diskriminasi. Yang jelas mereka sangat anarkis," kata
Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes
Polri, Jumat (17/3). Anton juga mengatakan, motif unjuk rasa masih sebatas
soal keberadaan PT Freeport, Timika dan belum ada motif lain.

"Motif peristiwa itu tetap tentang keberadaan PT Freeport, yang bermula dari
insiden penutupan jalan menuju areal pertambangan oleh warga yang kemudian
berkembang ke seluruh Indonesia," kata Anton. Ia mengatakan, sejauh ini
belum ada motif lain seperti soal Pilkada, pemekaran wilayah atau motif
tuntutan merdeka.

Dikatakannya, bentrokan yang menewaskan tiga anggota polisi dan satu anggota
TNI AU itu bermula dari penutupan jalan di depan Universitas Cenderawasih
(Uncen), Abepura, selama dua hari sehingga menyebabkan lalu lintas
terganggu.

"Penutupan jalan ini mengganggu kepentingan umum sehingga kami memutuskan
harus membuka blokade jalan. Sebelumnya pun ada negosiasi melibatkan anggota
DPRD dan pejabat lain namun tidak juga berhasil," ujarnya. Ia mengatakan,
polisi pun melakukan pendekatan persuasif untuk membuka jalan, namun massa
malah menyerang polisi dengan bersenjatakan batu, bom molotov dan tindakan
anarkhis lain. "Anggota kita tidak seimbang karena hanya berbekal tongkat
dan tameng saja. Karena tidak mampu mengendalikan massa, polisi mundur dan
saat itulah, ada polisi yang dianiaya hingga jatuh korban tewas," ujarnya.

Setelah mundur dan ada polisi dianiaya, baru muncul bantuan personil yang
dibekali dengan gas dan peluru hampa sehingga situasi mulai bisa
dikendalikan dan berhasil menangkap 57 orang dan telah menetapkan 5 sebagai
tersangka pemukulan dan penganiayaan terhadap petugas yang mengakibatkan
empat orang meninggal dunia dari anggota kepolisian adalah Baratu Daud
Sulaiman (Pengendalian Masyarakat), Briptu Arizona dan Brigadir Syamsudin
dari Polres Jayapura tewas dalam kondisi mengenaskan.

Ketiganya sempat disandera dan ditemukan di dalam kampus Uncen sebagian
tubuhnya telah hancur akibat sayatan benda tajam. Sedangkan seorang korban
lagi dari TNI Angkatan Udara, Serda Agus Supriyadi. Di antara lima tersangka
yang kini mendekam di tahanan Polda Papua, Anton menyebutkan salah satunya
adalah pimpinan demonstran dari Front Pepera Papua, Silvius Boboi. "Ada tiga
pimpinan aksi yang berlangsung sejak Rabu 15 Maret sampai 16 Maret, di
antaranya seorang pimpinan aksi itu telah ditetapkan menjadi tersangka.
Penetapan sebagai tersangka itu diperkuat dari saksi di antaranya dari
aparat dan dokumen foto dan video ketika aksi berlangsung dimana tersangka
terlihat melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap beberapa anggota,"
kata Anton.

Sedangkan dua pimpinan aksi lainnya yakni, Ketua Parlemen Jalanan, Cosmol
Yual dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unicen,
Yan Mandenas masih dalam pemeriksaan. "Kita masih melakukan pemeriksaan
secara intensif terhadap kedua pimpinan aksi itu," tutur Anton.

Guna mempercepat penyidikan yang dilakukan Polda Papua, Jumat (17/3), Mabes
Polri mengirim 15 anggota penyidik dari Badan Reserse dan Kriminal
(Bareskrim) untuk memback up Polda Papua. "Kita telah mengirim sebanyak 15
penyidik dari Bareskrim untuk mempercepat penyidikan," kata Anton.

Brimob Dikandangkan
Sementara, aksi penembakan pasca kerusuhan, beberapa anggota Brimob yang
samapi saat ini belum diketauhi identitasnya mengeluarkan tembakan yang
mengenai beberapa warga yang kemudian dilarikan ke rumah sakit akibat
terkena pantulan peluru.

"Benar, ada penembakan ke atas pada siang hari saat Shalat Jumat. Penembakan
itu terjadi di depan Korem Abepura, yang diduga dari anggota Brimob," kata
Anton. Akibat insiden penembakan itu, seluruh anggota Brimob diperintahkan
untuk berada di barak.

Mengenai motif penembakan, Anton menyatakan, pihaknya belum mengetauhi
secara pasti. "Motif penembakan dan jenis senjata pun masih gelap. Tetapi
satu oknum Brimob sudah diamankan dan masih ada yang belum masuk ke
kesatuan. Nah ini masih dicari. Jadi masih gelap. Semua anggota Brimob telah
kita kandangkan," kata Anton.

Haru
Suasana haru menyelimuti hanggar Merpati Nusantara Airlines di Bandara
Sentani, Jayapura, beberapa saat setelah Menko Polhukam Widodo AS bersama
rombongan tiba di bandara tersebut, Jumat untuk memberikan penghormatan
terakhir terhadap dua anggota Polri dan seorang prajurit TNI-AU yang gugur
saat terjadinya unjuk rasa warga Jayapura, Kamis..

Dari Jayapura dilaporkan kedua jenazah masing-masing, Bripda Daud Sulaiman
dan Briptu Arizona yang telah disemayamkan dalam dua peti jenazah dengan
diselimuti bendera Merah Putih nampak siap diberangkatkan dengan tujuan
berbeda.

Jenazah Briptu Arizona dengan didampingi istri dan anak dibawa ke Sorong
untuk dimakamkan, sedangkan jenazah Bripda Daud Sulaiman akan dibawa ke
Jakarta. Istri kedua anggota Polri itu nampak tidak bisa menahan isak tangis
saat diberi ucapan belasungkawa oleh Menko Polhukam yang didampiingi
Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Pol Sutanto dan
Kepala BIN Syamsir Siregar.

Bahkan istri almarhum Bripda Daud Sulaiman yang sedang hamil lima bulan itu
sempat menangis dalam pelukan Menko Polhukam.
Setelah memberi penghormatan terakhir kemudian rombongan menuju Aula Lanud 
Sentani untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Agung 
Prihadi, anggota TNI AU yang
baru tiga bulan bertugas di Lanud Sentani.

Korban yang masih belum berkeluarga itu dijadwalkan jenazahnya Jumat
siang akan dievakuasi ke Jakarta untuk selanjutnya dibawa ke Bandung.
Dari pantauan seluruh kantor instansi militer baik TNI maupun Polri sejak 
Jumat pagi telah mengibarkan bendera setengan tiang sebagai tanda 
belasungkawa terhadap rekan-rekan mereka yang gugur saat kerusuhan Abepura, 
Kamis sore.
(j02/ant)




More information about the Marinir mailing list